Selasa 28 Jul 2020 08:29 WIB

Keluhan Perusahaan Travel di Kanada Akibat Haji Dibatasi

Travel kesulitan memenuhi keinginan pengembalian uang dari calon jamaahnya.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Muhammad Fakhruddin
Keluhan Perusahaan Travel di Kanada Akibat Haji Dibatasi. Foto: Bandara Internasional King Abdulaziz baru di Jeddah, Arab Saudi.
Foto: Arabian Business
Keluhan Perusahaan Travel di Kanada Akibat Haji Dibatasi. Foto: Bandara Internasional King Abdulaziz baru di Jeddah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID,EDMONTON -- Perusahaan travel di seluruh dunia yang menyediakan paket perjalanan haji harus gigi jari saat Arab Saudi memutuskan haji terbatas tahun ini. Mereka tak lagi bisa meraup untung dari penyediaan perjalanan haji karena hanya pemukim Saudi yang diizinkan berhaji.

Di Indonesia, misalnya travel haji mengeluhkan kerugian masif sejak pintu Saudi ditutup dari dunia luar karena pandemi covid-19. Otomatis sejak saat itu travel haji tak bisa memberangkat jamaah umrah. Nasib travel haji Indonesia kian terpuruk karena lagi-lagi gagal memberangkatkan jamaah haji khusus.

Sebagian travel haji Indonesia pun sudah merumahkan pegawainya. Kini travel haji menanti uluran bantuan pemerintah agar bisnis mereka tetap bisa berjalan.

Keluhan serupa dirasakan travel haji di Kanada, salah satunya ECO Travel di kota Edmonton. Tamir Ali selaku CEO ECO Travel menghadapi pembatalan perjalanan haji massal dari kliennya. Ali menyadari saat haji dibatasi, kliennya ingin uang mereka kembali secepatnya.

"Kebanyakan uang itu sudah dipotong-potong untuk deposit maskapai udara dan hotel, sebagian deposit tak bisa dikembalikan uangnya dan anda hanya akan mendapatkan kredit," kata Ali dilansir dari CBC News pada Senin (27/7).

Ali kesulitan memenuhi keinginan pengembalian uang dari kliennya. Di sisi lain, ia merasa kasihan dengan kliennya karena telah lama menabung tapi batal berhaji.

"Mereka pikir pengembalian uang bisa dilakukan secepat kilat, jadi kami sungguh dalam situasi sulit sekarang," ujar Ali.

Ali mengambil langkah drastis agar bisnisnya tetap berjalan. Ia mengambil pinjaman dari pemerintah Kanada. Namun ia merasa solusi ini tak akan bertahan lama.

"Kami berusaha mencari strategi lebih baik demi bisnis ini yang sungguh terdampak dari krisis covid-19," keluh Ali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement