10 Rabiul Awwal 1442

Teks Khutbah Idul Adha: Meneladani Keberagamaan Nabi Ibrahim

Kamis , 30 Jul 2020, 13:47 WIB Reporter :Kiki Sakinah/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Teks Khutbah Idul Adha: Meneladani Keberagamaan Nabi Ibrahim. Ilustrasi Sahabat Nabi
Teks Khutbah Idul Adha: Meneladani Keberagamaan Nabi Ibrahim. Ilustrasi Sahabat Nabi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Hari Raya Idul Adha 2020 jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020. Tahun ini, perayaan Idul Adha akan terasa berbeda, karena umat Muslim di beberapa daerah mungkin tidak dapat melaksanakan sholat Id berjamaah di masjid karena pandemi virus corona. Namun, di beberapa wilayah yang ditetapkan aman, beberapa umat Muslim tetap menggelar sholat Id berjamaah.

 

Untuk sholat Id besok, Muhammadiyah telah merilis kumpulan khutbah Idul Adha 2020/1441 H baik untuk di rumah maupun di tempat sekitar rumah. Salah satu khutbah Idul Adha tersebut mengusung judul "Meneladani Keber-agamaan Nabi Ibrahim". Khutbah tersebut ditulis oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad.

Berikut isi khutbah tersebut, yang diterima Republika.co.id, Kamis (30/7):

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allohu Akbar Allohu Akbar wa lillahilhamdu

Hadirin jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah SWT

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadhirat Allah SWT, shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW, kepada Keluarganya, para sahabatnya dan pengikut semuanya hingga akhir zaman. Di hari yang berbahagia ini kita merayakan Idul Adha, hari dimana kita dianjurkan bertakbir, malaksanakan sholat ied dan menyembelih hewan qurban. Walaupun masih dalam keadaan prihatin karena darurat wabah corona yang masih merebak di tanah air kita, bahkan di seluruh dunia, kita tetap melaksanakan ibadah yang dianjurkan oleh syariat tetapi berpedoman kepada surat edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 06 tahun 2020, yaitu menyesuaikan pelaksanaan ibadah Idul Adha disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Bagi daerah yang dinyatakan berbahaya, sholat sunat Idul Adha boleh tidak dilaksanakan dan bagi yang berkehendak bisa dilaksanakan di rumah masing-masing. Sedangkan di daerah yang aman dari wabah dipersilahkan sholat di lapangan kecil dengan peserta terbatas, sehingga menghindari kontak fisik sebagai sumber penularan virus corona.

Dalam keadaan darurat seperti sekarang ini, sholat di rumah beserta anggota keluarga boleh jadi jauh lebih bermanfaat dan lebih baik dibandingkan dengan sholat di tempat lain yang melibatkan banyak orang. Karena sholat di rumah jauh lebih aman dari penularan dibanding dengan sholat berjamaah di masjid atau lapangan. Sebab pusat penyebaran wabah melalui kerumunan karena adanya kontak fisik antara orang-perorang. Sehingga berlaku qaidah fiqih "La dharoro wala dhiror", jangan membahayakan diri sendiri dan jangan membahayakan orang lain.

Jamaah Ied yang berbahagia.

Perayaan Idul Adha beserta ibadah qurban adalah ibadah yang mengingatkan kita kepada keimanan, kesabaran, kejujuran serta ketaatan nabi Ibrahim alaihisalam.

Beliau adalah nabi yang dikasihi Allah karena keimanan yang sangat kuat dan ketaqwaan yang sangat tinggi. Beliaulah yang dalam pencahariannya menemukan Tuhan Allah yang Maha Tunggal, Yang Maha Kuasa dan maha Besar. Kepadanya beliau menyerahkan diri secara bulat tanpa ada keraguan.

"Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan Keluarganya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Al-Mumtahanah:6)

Nabi Ibrahim meyakini bahwa apapun yang diperintahkan Allah sebagai suatu kebaikan yang harus ditunaikan tanpa ada penolakan. Maka ketika ada perintah Allah untuk meninggalkan Istri dan anaknya yang masih bayi di lembah tandus dan sunyi sepi beliau melaksanakanya dengan penuh ketaatan. Yang akhirnya berujung kebaikan yang besar, keluar mata air Zamzam sebagai daya tarik bagi manusia lain untuk ikut menetap, maka jadilah sekarang sebuah kota yang terkenal yaitu Makkah al-Mukaromah yang dikunjungi jutaan kaum Muslimin yang berziarah kepadanya.

Ketaatan pada perintah Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim sangat luar biasa. Walaupun sesulit apapun dan melibatkan perasaan yang terdalam, beliau tetap melaksanakanya. Seperti halnya ketika Nabi Ibrahim diperintah mengorbankan putra tersayang Ismail beliaupun dengan penuh keyakinan tetap melaksanakannya.

Walaupun akhirnya Allah mengganti kurbannya dengan biri biri yang besar, tetapi beliau sudah tercatat dalam sejarah sebagai Nabi yang sangat beriman kepada Allah dengan segenap jiwa raganya, mentaati perintah Allah dengan ketaatan yang luar biasa.

Untuk menghormati dan mencontoh ketaatan nabi Ibrahim, kita diperintahkan untuk melaksanakan qurban dengan binatang ternak yang baik dan besar. Dan tradisi tersebut sampai hari ini dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin seluruh dunia, sebagai suatu simbol ketaatan dan keikhlasan kepada Allah Tuhan semesta alam.

"Sesungguhnya kami telah memberi kamu nikmat yang banyak, maka laksanakan sholat kepada Tuhanmu dan berkorbanlah, sesungguhnya orang yang membencimu adalah orang yang terputus". (al-kautsar 1-3)

Ketaatan keikhlasan dan pengorbanan harus menjadi bagian dari kehidupan kaum Muslimin. Dalam keadaan situasi darurat wabah seperti sekarang ini dimana banyak orang yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Maka kita harus terpanggil membantu dengan harta kita yang kita cintai sebagian kecil atau sebagian besar untuk dipakai membantu mengurangi kesengsaraan mereka. "Tidak beriman seseorang jika dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan".

Oleh karena itu, PP Muhammadiyah melalui surat edaran no 06 tahun 2020, menganjurkan seluruh warganya untuk menggunakan uang pembelian hewan kurban disumbangkan untuk menanggulangi dampak negatif dari wabah pandemi Covid-19 yang luar biasa ini.

Tetapi kecintaan manusia kepada harta terkadang sangat berlebihan, sehingga menjadi cobaan berat bagi dirinya dan menjadi penghalang bagi ketaatan kepada Alloh SWT. Sehingga Allah menyatakan dalam alquran surat Attaghobun ayat 15. "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah ada pahala yang besar".

Keengganan berinfak dan bershodaqoh adalah karakter manusia kikir karena mereka sangat mencntai harta yang dimilikinya. Walaupun Alloh SWT banyak menekankan dalam berbagai ayat dalam Alquran keutamaan bershodaqoh bahkan disamakan dengan memberi pinjaman kepada-Nya, yang akan dibayar dengan berlipat ganda di dunia, juga dijanjikan pahala besar di akhirat.

Bagi sebagian besar manusia menganggap bahwa harta yang dimilikinya itu akan mengekalkan kehidupan di dunia, mereka enggan untuk berinfak. Padahal harta, menurut pandangan agama hanya perhiasan kehidupan dunia yang sifatnya sementara. Firman Allah, "Celakalah orang yang mengumpat dan mencela, yaitu orang selalu mengumpulkan harta dan menghitung hitungnya, mereka menyangka bahwa hartanya dapat mengekalkan nya". (Al Humazah 1-3).

Dan Sabda Rasulullah SAW: "Anak Adam mengatakan hartaku, hartaku, Tidaklah kamu mendapatkan dari hartamu itu kecuali apa yang kamu makan sampai kenyang, apa yang kamu pakai sampai usang, atau kamu sedekahkan sehingga pahalanya akan terus mengalir". (HR Muslim, At-Timidzi dan an Nasa’i)

Pada zaman para sahabat Nabi di Madinah, mereka memberi pertolongan kepada orang lain yang kesusahan sangat luar biasa. Kadang bantuan yang diberikan melebihi keperluan untuk dirinya sendiri. Bahkan mereka rela tidak makan demi untuk memberi makan sahabatnya yang kelaparan. Seperti yang digambarkan al-Qur’yan dalam surat al Hasyr ayat 9,  "Dan mereka (kaum Anshor) mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung".

Potongan surat al-Hasyr ayat 9 tersebut menggambarkan betapa para sahabat saling mengasihi dan saling menolong diantara mereka bagaikan bangunan yang sangat kokoh. Memberi tumpangan rumah bagi yang tidak punya rumah dan berbagi makan dengan mereka yang tidak punya penghasilan walaupun dalam keadaan dirinya pun kesusahan. Mereka itulah para dermawan yang selalu dipuji Allah dan akan diberi keberuntungan serta kebahagiaan oleh Allah SWT sepanjang masa. Pemurah itu karakter orang sholeh dan para nabi, dirahmati hidupnya dan diberkahi hartanya.

Hadirin yang berbahagia,

Sekedar merenungi kembali momentum Idul Adha. Kesanggupan Nabi Ibrahim mengurbankan anak kandungnya sendiri Nabi Ismail, di samping menguji ketaatan beliau bahwa perintah Allah SWT yang harus dipatuhi. Juga Allah Taala memberi peringatan kepada umat yang akan datang termasuk kita bahwa setiap orang harus sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah.

Hidup adalah satu perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan. Justru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang dan harta benda, tenaga dan waktu, akan benar-benar menguji keimanan seseorang.

Peristiwa berkorban Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail merupakan satu noktah kejadian yang dapat direnungi oleh semua manusia dari semua level usia dan latar belakang tingkat pendidikan. Dengan kata lain, semangat berkorban adalah tuntutan paling besar yang ada dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun, agama bangsa dan negara.

Allohu Akbar Walillahi Alhamdu

Di akhir khutbah ini marilah kita berdoa kepada Allah agar segala musibah dan kesulitan cepat berlalu diganti dengan keamanan kesejahteraan dan kebahagiaan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ

وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،

Allahuma Ya Allah Yang Maha Kuasa, pada hari ini kami berkumpul di lapangan ini, untuk melaksanakan perintah-Mu, melampiaskan rasa syukur kepadamu, menyatakan rasa bahagia atas perjuangan kami selama ini. Terimalah segala amal kami, ampunilah segala dosa kami, dosa ibu bapa kami, dosa keluarga kami, dosa

kaum muslimin muslimat yang hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah hari ini kami melaksanakan ibadah sholat dan qurban yang kami sisihkan dari harta halal kami selama ini. Semuanya hanyalah mengejar ridho-Mu, mengharap ampunan-Mu, membersihkan kotoran jiwa yang mengganggu. Terimalah pengorbanan kami ya Allah, gantilah dengan ridho-Mu, ampunan-Mu dan surga-Mu.

Ya Allah engkau tahu, negeri kami dihuni oleh sembilan puluh persen umat Islam yang selalu mengagungkan asma-Mu, menjaga agama-Mu, jangan timpakan kepada kami ujian dan siksaan dari akibat kesalahan dan keserakahan para pemimpin kami. Ampunilah kami, hindarkanlah kami dari wabah penyakit yang membahayakan kami, jadikanlah negeri kami, negeri yang aman sentosa, berilah penduduknya rizki dari buah-buahan terutama orang yang beriman kepadamu dan hari akhirmu.

Ya Allah tolonglah saudara kami di mana saja mereka berada, yang sedang menderita karena tertimpa musibah bencana wabah penyakit berilah mereka kesabaran dan penggantian harta dan jiwa yang telah hilang dengan yang lebih baik.

Ya Allah cegahlah maksud buruk dari orang orang yang menggunakan kesempatan dalam situasi darurat pandemi ini untuk mewujudkan cita-cita ideologi mereka yang bertentangan dengan agama-Mu, hindarkanlah Negara kami dari perpecahan dan permusuhan dan hanya kepadaMu-lah kami semua berharap.

Ya Allah, hajat kami kepada-Mu begitu sangat banyak, hanya Engkaulah yang mengetahui seluruh hajat dan kebutuhan kami. Kami memohon kepada-Mu ya karim, sepanjang hajat dan kebutuhan kami ini baik menurutmu, dan memberi kemaslahatan dunia dan akhirat bagi kami, maka penuhilah hajat dan kebutuhan kami ini, juga hajat dan kebutuhan istri, keluarga, orang tua, dan saudara serta sahabat kami.

Ya Allah, tiada tempat berharap bagi kami selain kepada-Mu, tiada tempat bergantung bagi kami, selain Engkaulah tempat kembali kami. Penuhilah seluruh harapan kami ini ya Alloh dengan Kau ijabah seluruh pinta dan harapan kami ini. Sungguh Engkau zat yang tidak pernah mengingkari janji.

Wassalamu alaikum wr.wb.

 

widget->kurs();?>