Adab Masuk Makkah hingga Tawaf

Selasa , 11 Aug 2020, 15:58 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Adab Masuk Makkah hingga Tawaf (ilustrasi).
Adab Masuk Makkah hingga Tawaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Islam memiliki banyak kegiatan ibadah yang semuanya memiliki adab. Selain ibadah, sholat dan puasa, ibadah haji dan umroh juga ada adabnya. 

 

Terkait

Masuk pusat ibadah haji dan umroh di Makkah ada adabnya. Imam Al-Ghazali dalam ikhtisar Ihya Ulumiddin merangkum ada enam adab masuk Makkah hingga tawaf. 

Pertama, mandi di Dzi Thuwa untuk masuk ke Makkah. Imam Al-Ghazali mengatakan, mandi yang disunnahkan selama Haji ada sembilan.  Yaitu meliputi mandi untuk ihram, mandi untuk masuk ke Makkah, mandi untuk tawaf qudum (kedatangan), mandi untuk wukuf di Arafah, mandi untuk bermalam di Muzdalifah dan tiga kali mandi untuk melempar Jamrah Aqabah dan mandi untuk tawaf wada.

"Namun menurut Imam Syafi'i di dalam qaul jadid-nya tidak ada kesunahan mandi untuk tawaf ziarah dan tawaf wada. Sehingga mandi yang disunnahkan menjadi tujuh saja," katanya.

Kedua, ketika hendak masuk tanah haram dan posisinya masih berada di luar maka hendaknya membaca doa. "Ya Allah, ini adalah tanah haram dan tempat aman-Mu maka haramkanlah daging, darah dan kulitku dari api neraka, amankan lah aku dari siks-Mu pada hari ini Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu dan jadikanlah aku termasuk dari para Kekasih-Mu dan hamba yang taat kepada-Mu wahai tuhan seluruh alam semesta."

Ketiga, memasuki Makkah dari sisi Abtah tepatnya dari Tsaniyah Kuda. Tsaniyah Kada  merupakan dataran tinggi dan Tsaniyah Kuda adalah dataran rendah biasa. 

Keempat, setibanya di Makkah dan berhenti di Ra's ar-Radm. Ketika pendangan tertuju ke Baitullah, seyogyanya membaca, "Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah Engkau adalah Dzat Yang Maha memberi keselamatan. Dari Mulah keselamatan dan negeri-Mu adalah negeri kedamaian. Maha Suci Engkau Dzat pemilik kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah Sesungguhnya ini adalah rumah-Mu, Egkau mengagungkannya, Egkau memuliakannya dan Engkau meluhurkannya. Ya Allah tambahkanlah oleh-Mu mengagungkan memuliakan dan meluhurkannya."

Kelima ketika masuk ke Masjidil Haram hendanya masuk lewat pintu Bani Syaibah sambil membaca. "Dengan menyebut nama Allah, dengan Allah dari Allah, kepada Allah, dijalan Allah dan atas agama Rasulullah."

Ketika sudah dekat dengan Baitulla disarankan membaca. "Segala puji hanya milik Allah dan semoga keselamatan tercurahkan kepada hamba-hambanya yang Dia pilih. Ya Allah anugerahkanlah Rahmat kepada Muhammad, hamba dan utusan Mu Dan kepada Ibrahim, kekasih-Mu, serta kepada seluruh Nabi dan Rasul Mu."

Lalu mengangkat kedua tangan seraya membaca. "Ya Allah Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, di tempat aku berdiri ini dan di awal menasikku, agar engkau menerima taubat dan mengampuni kesalahan ku serta menghilangkan dosa-dosaku. Segala puji hanya milik Allah yang telah mengantarkanku sampai ke Masjidil Haram dan Ka'bah-Nya, yang Dia jadikan sebagai tempat berkumpul dan tempat aman bagi manusia dan menjadikannya berkah dan sebagian sebagai petunjuk bagi alam semesta. Ya Allah maka sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, negeri ini adalah negeri-Mu dan tanah haram ini adalah tanah haram dan rumah ini adalah rumah-Mu aku datang mencari rahmat-Mu dan memohon kepada-Mu seperti permohonan-Mu orang yang sangat membutuhkan lagi takut akan siksa-Mu, yang mengharapkan rahmat-Mu dan mencari keridhaan-Mu."

Keenam, menuju Hajar Aswad, menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya sambil membaca.

"Ya Allah amanatku telah aku laksanakan dan janjiku telah aku tepati. Maka persaksikanlah kelak di akhirat bahwa aku telah memenuhinya." 

Imam Al-Ghazali menyampaikan, jika tidak mampu mencium Hajar Aswad hendanya berjalan seraya menghadap kearahnya dan membaca doa di atas. Sebaiknya tidak melakukan apapun selain berkeliling melakukan tawaf qudum. 

"Kecuali apabila bila melihat banyak orang sedang melaksanakan salat fardhu seyogianya ikut salat bersama mereka baru kemudian melakukan tawaf," katanya.