8 Safar 1442

Teks Khutbah Jumat: Menyucikan Jiwa

Kamis , 13 Aug 2020, 22:27 WIB Reporter :Ratna Ajeng Tejomukti/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Teks Khutbah Jumat: Menyucikan Jiwa. Ilustrasi Berwudhu
Teks Khutbah Jumat: Menyucikan Jiwa. Ilustrasi Berwudhu

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Ustaz Jeje Zaenudin*

 

Di antara misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengajarkan kesucian hidup kepada umat manusia, sebagaimana ditegaskan pada ayat kedua dari surat Al Jumu’ah,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ [الجمعة : 2]

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Diutusnya Nabi Muhammad berdasar ayat ini adalah untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia, mensucikan mereka, kemudian mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Diutusnya Nabi Muhammad dengan tugas-tugas sebagaimana disebutkan pada ayat diatas, seakan merupakan jawaban dan pengabulan terhadap do’a Nabi Ibrahim yang tiada lain adalah nenek moyang Nabi Muhammad SAW sendiri. 

Pada saat Nabi Ibrahim membangun Kakbah bersama putranya, Ismail, beliau melantunkan sejumput doa yang indah penuh harapan akan masa depan. Dari lantunan doanya itu terselip permohonan agar kelak di kemudian hari di tanah Makkah yang gersang itu disiram dengan rahmat rizki yang melimpah, keamananan dan kesejahteraan yang merata, serta diutuskan seorang Rasul yang akan membimbing penduduknya dengan ajaran wahyu. Isi dari doa Nabi Ibrahim itu diabadikan oleh Al Qur’an, di antaranya dalam surat Al Baqarah ayat 129,

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ 

الْحَكِيمُ [البقرة : 129                                        

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Nabi Ibrahim memanjatkan doanya pada saat membangun Kakbah, kemudian Allah mengabulkannya setelah berlalu ribuan tahun lamanya. Begitulah rahasia Allah dalam mengabulkan doa seorang hamba-Nya, meskipun yang berdoa itu seorang nabi yang digelari sebagai kekasihnya, atau al Khalil.

Meskipun ada kaitan yang erat antara do’a Nabi Ibrahim dengan diutusnya Nabi Muhammad  SAW di kota Makkah, tetapi pengutusan Nabi Muhammad SAW tentu bukan hanya untuk penduduk Makkah apalagi sekadar untuk keluarga dan anak cucu keturunan Nabi Ibrahim, melainkan sebagai karunia Allah untuk semua manusia yang mau beriman kepadanya. Karena itu Allah SWT berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ [آل عمران : 164]

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran : 164).

Ketiga ayat yang kita baca di atas, mengulang-ulang kata-kata “mensucikan”  sebagai salah satu misi atau tugas utama kenabian Muhammad SAW diawali dengan ayat 129 Surat Al Baqaroh  tentang doa Nabi Ibrahim, kemudian Allah mengabulkannya pada surat Al Jumu’ah ayat yang ke dua, dan menegaskannya pada surat Ali Imran ayat yang ke 164 bahwa pengutusan Nabi Muhammad itu sebagai karunia yang besar daripada-Nya.

Tugas Rasulullah mensucikan jiwa orang-orang yang beriman adalah membersihkan jiwa orang-orang yang beriman itu dari segala kotoran dan najis-najis ruhani. Sebagaimana tubuh bisa kena kotoran dan najis yang bersifat materi atau zat-benda, maka ruhani kita juga bisa terjangkit najis dan kotoran yang tidak berupa zat bendawi, melainkan berupa keyakinan, ucapan, dan perbuatan yang menunjukan kekufuran kepada Allah SWT. Sebab itulah Alquran menyebut orang-orang yang Musyrik sebagai najis. “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang musyrik itu adalah najis, maka janganlah sekali-kali mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini....” (At Taubah :28). 

Yang dimaksud “najis” atau kotor pada ayat di atas tentulah najis dalam pengertian ruhaninya, yaitu najis keyakinan atau aqidahnya disebabkan mereka menyembah berhala dan menyekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya, meskipun bisa saja secara fisik mereka lebih bersih dan lebih sehat daripada orang-orang yang bertauhid kepada Allah. Oleh sebab itu pula segala sembahan dan berhalapun dikatagorikan sebagai perkara yang najis pula. Sebagaimana firman-Nya, “Maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu....” (Al Hajj : 30).

Allah SWT telah menciptakan manusia dalam fitrah yang suci. Sebagaimana hadits Shahih menyatakan, “Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian tauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi”. (Shahih Muslim).  Pada sebuah Hadits Qudsi yang sahih diriwayatkan juga bahwa Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam kesucian tauhid (hunafaa), tetapi syetan telah menyelewengkan mereka sehingga tergelincir dari agama mereka”. 

Karena manusia tercipta dengan kesucian sejak awalnya, maka perjuangan manusia dalam hidup ini adalah perjuangan mempertahankan kesucian jiwa agar kelak menghadap Allah Sang Pencipta dalam keadaan suci lagi. Kesuksesan dan kegagalan hidup manusia yang sesungguhnya adalah ditentukan oleh keberhasilan dan kegagalannya dalam mempertahankan kesucian jiwa. Sebagaimana Allah firmankan, 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا .فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا [الشمس : 7 - 10]

“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy Syams: 7-10).

Jadi, orang yang sebenar-benar beruntung, sukses dan berhasil dalam hidup, adalah mereka yang sukses mensucikan jiwanya, dan mereka yang benar-benar gagal serta merugi dalam hidup adalah yang gagal membersihkan jiwanya, melainkan malah melumurinya dengan segala kotoran dosa. 

Membersihkan jiwa tiada lain adalah dengan mendidik jiwa agar hidup dalam ketaatan kepada Allah, berjalan istiqamah di atas shirâthal mustaqim, menjaga ketauhidan sampai akhir hayat, serta tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan dosa yang mengotori jiwa. Perkara yang paling mengotori jiwa manusia adalah syirik atau menyekutukan Allah dalam beritikad dan beribadah kepada-Nya. 

Setelah itu perkara-perkara yang mengotori jiwa manusia adalah segala dosa yang diakibatkan perbuatan hati, lisan maupun anggota badan. Perbuatan hati yang paling banyak mengotori jiwa manusia adalah kesombongan (takabbur), iri-dengki (hasad), rakus dan ambisi terhadap dunia (thoma), serta pamer dan gila popularitas (riya dan sumah). 

Dari tabiat hati yang najis di atas kemudian terucap menjadi amalan lisan yang buruk berupa sumpah serapah, kata-kata menghina, memfitnah, mengghibah dan sebagainya. Jika kekotoran hati dan lisan ini tidak dikendalikan, akhirnya memuncak pada perbuatan jahat  berupa tindakan keji dan munkar seperti perbuatan zina, mencuri, mabuk, membunuh, berjudi, dan berbagai kemaksiyatan lainnya. 

Dari semua kotoran hati, lisan dan perbuatan badan di ataslah lahirnya berbagai kerusakan tatanan kehidupan manusia di dunia ini. Oleh sebab masyarakat manusia adalah himpunan dari individu-individu, maka baik dan buruknya sebuah masyarakat sangat tergantung kepada kebaikan dan keburukan individu-individunya. Sementara kebaikan dan keburukan individu sangat ditentukan oleh baik dan buruknya hati mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi SAW, “Ingatlah, sesungguhnya pada setiap tubuh itu ada segumpal daging, jika ia sehat maka akan sehatlah seluruh anggota badannya dan jika ia rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ingatlah dia itu qalbu!”(Mutafaq Alaih). Sehatnya hati tiada lain adalah bersihnya hati dari aqidah dan tabiat yang buruk yang kemudian menyehatkan seluruh amalan badan yang wujud dalam ketaatan ibadah dan kemuliaan akhlaq. 

Untuk  itu, mengembalikan tatanan kehidupan manusia pada relnya adalah dengan mengembalikan manusia kepada aqidah yang benar, ibadah yang benar, serta akhlak yang mulia, dan inilah misi utama dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. sebagaimana telah ditunjukkan oleh ayat-ayat di atas.

Karena demikian pentingnya penyucian jiwa dalam pandangan Islam, maka kita tidak heran jika semua syariat Islam diarahkan bagi terbentuknya pribadi-pribadi mukmin yang berjiwa suci. Bukan hanya sekedar kesucian lahir, tetapi juga kesucian batin. Hal ini tergambar dalam ungkapan Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat (tawwabin) dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri (mutathahhirin)”. Bertaubat dari setiap dosa adalah langkah utama bagi pensucian jiwa, sementara berthaharah adalah cara utama bagi pembersihan jasmani. Kedua-duanya perbuatan yang sangat dicintai Allah. Maka mafhum mukhalafahnya atau kebalikan maknanya, Allah sangat membenci orang-orang yang mengotori jiwanya dengan terus menerus dalam dosa serta membiarkan badannya dalam kondisi kotor dan kumuh.

Contoh nyata dari syariat Islam diarahkan kepada pembentukan pribadi yang suci dapat terlihat dari ibadah shalat, dimana shalat dimulai dengan berwudhu bagi yang berhadas kecil dan mandi bagi yang berhadas besar, sebagai upaya membersihkan badan. Kemudian do’a shalat dimulai dengan memohon kebersihan jiwa dari dosa, “Ya Allah! jauhkan aku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah jauhkan antara jarak timur dengan barat; Ya Allah! bersihkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana dibersihkannya pakaian dari noda kotoran; Ya Allah! Cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun” (Shahih Bukhari-Muslim)

Kemudian Rasulullah menegaskan bahwa shalat laksana sungai dengan air yang bersih jernih mengalir deras berada di depan rumah seorang mukmin, ia dapat mandi setiap hari sebanyak lima kali. Apakah patut seorang muslim masih bergelimang dengan kotoran daki di badannya?

Demikian juga ibadah zakat, ia disebut zakat karena memang ibadah yang membersihkan jiwa pelakunya dari tabiat kikir, rakus, dan cinta harta; membersihkan harta dari hak-hak orang lain; serta membersihkan hati kaum fakir miskin dari rasa cemburu dan iri dengki kepada kaum kaya. 

Ibadah shaum dan hajji juga demikian. Setiap orang yang melakukannya dengan ikhlash, khusyu, dan mengharapkan keridhaan Allah, semuanya berfungsi membersihkan manusia dari dosa. Mereka yang menjalankannya dengan benar dan sepenuh hati dijanjikan akan menjadi orang-orang yang bersih dari dosa laksana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. 

Marilah kita semua berusaha dan berjuang dengan segenap kemampuan kita untuk membangun masyarakat dan umat yang bersih suci dengan membangun ribadi-pribadi yang suci.

 

 

*Waketum Persis 

 

widget->kurs();?>