Kebijakan Penurunan Kurva Covid-19 di Arab Saudi Sukses

Senin , 17 Aug 2020, 11:43 WIB Reporter :Dea Alvi Soraya/ Redaktur : Muhammad Hafil
Kebijakan Penurunan Kurva Covid-19 di Arab Saudi Sukses. Foto ilustrasi: Seorang pria memakai masker saat melewati mural Raja Salman di Saudi Arabia, Ahad (28/6). Kasus COVID-19 di dunia mencatatkan angka tertinggi dalam 24 jam terakhir pada Ahad (28/6),  dengan jumlah lebih dari 10 juta kasus positif dan 500.000 kematian. (AP Photo/Amr Nabil)
Kebijakan Penurunan Kurva Covid-19 di Arab Saudi Sukses. Foto ilustrasi: Seorang pria memakai masker saat melewati mural Raja Salman di Saudi Arabia, Ahad (28/6). Kasus COVID-19 di dunia mencatatkan angka tertinggi dalam 24 jam terakhir pada Ahad (28/6), dengan jumlah lebih dari 10 juta kasus positif dan 500.000 kematian. (AP Photo/Amr Nabil)

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH—Kebijakan penurunan kurva Arab Saudi berjalan sesuai rencana, mengingat jumlah kasus Covid-19 yang semakin menurun setiap harinya, dan jumlah pemulihan yang terus meningkat.

 

Terkait

"Perataan kurva dicapai karena kepatuhan, di tingkat komunitas, terhadap tindakan pencegahan dan protokol keselamatan yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait di Kerajaan," kata juru bicara Kementerian Kesehatan Dr. Mohammed Al-Abd Al-Aly yang dikutip di Arab News, Senin (17/8).

Baca Juga

Namun, dia menekankan, kurva yang mendatar tidak berarti pandemi sudah berakhir. “Untuk mengumumkan berakhirnya pandemi, jumlah kasus secara global harus dibatasi dan menunjukkan penurunan yang signifikan. Salah satu caranya adalah dengan mencari vaksin atau pengobatan dan kami masih belum sampai,” sambungnya.

Pada Ahad (16/8) lalu, Arab Saudi mencatat 2.466 pemulihan baru, dan menambah jumlah pemulihan menjadi 266.953 sejak awal pandemi pada awal Maret 2020. Di Kerajaan, 1.227 kasus baru juga dicatat, sehingga total kasus menjadi 298.542.

Adapun tingkat kematian tetap tinggi setelah 39 kematian baru dari data terakhir, Ahad (16/8), dan meningkatkan jumlah kematian menjadi 3.408. Saat ini terdapat 28.181 kasus aktif, 1.774 di antaranya berada di unit perawatan kritis.

Sebagai bagian dari upaya Kerajaan untuk mendeteksi penyakit pada tahap awal, 60.016 uji reaksi rantai polimerase (PCR) baru dilakukan dalam 24 jam terakhir. Hingga kini, tercatat lebih dari 4,2 juta tes yang telah dilakukan sejak pandemi dimulai.

Sementara itu, kebijakan untuk melanjutkan sistem pembelajaran jarak jauh selama tujuh pekan juga telah dibuat setelah koordinasi antara otoritas terkait.

Ibtesam Al-Shehri, juru bicara Kementerian Pendidikan untuk Pendidikan Publik, mengatakan, dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan bahwa langkah tersebut dilakukan setelah kerangka kerja internasional untuk membuka kembali sekolah diperiksa dan lonjakan kasus Covid-19 di antara anak-anak sekolah terdeteksi.

Juru bicara mengatakan, guru wajib bekerja dari sekolah setidaknya seminggu sekali, setelah berkoordinasi dengan administrasi sekolah untuk catatan kinerja, di antara tugas-tugas lainnya.

“Keputusan untuk membagi hari sekolah menjadi dua periode adalah untuk membantu orang tua menindaklanjuti pekerjaan sekolah anak-anaknya, meringankan beban keuangan keluarga untuk mengamankan perangkat untuk anak-anak mereka belajar di berbagai tingkatan serta mengurangi tekanan pada layanan internet,” kata Al-Shehri.

“Ada lebih dari 6 juta siswa yang belajar di berbagai tingkatan di Kerajaan dan lebih dari 520.000 pendidik, ini akan menambah tekanan besar di internet jika mereka semua masuk,” tambahnya.

Pusat Nasional untuk Pengembangan Pendidikan dan Profesional akan membantu guru dan staf di sekolah untuk menggunakan alat yang disediakan di platform Kementerian Pendidikan, Vschool.sa. Pendistribusian buku sekolah juga akan dikoordinasikan antara sekolah dan orang tua, yang nantinya akan diberikan slot waktu yang telah ditentukan melalui SMS untuk pengambilan buku.