Amalan Lahiriyah Sebelum dan Selama Wukuf

Kamis , 20 Aug 2020, 17:09 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Amalan Lahiriyah Sebelum dan Selama Wukuf (ilustrasi).
Amalan Lahiriyah Sebelum dan Selama Wukuf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wukuf di padang Arafah merupakan salah satu rukun haji. Rukun ini sebagian berpendapat untuk mengenang pertemuan Nabi Adam dan Hawa di Bumi setelah diturunkan dari surga.

 

Terkait

Imam Al Ghazali dalam "Ikhtisar Ihya Ulumiddin" mengatakan, ketika orang yang berhaji sampai di Arafah pada hari Arafah, maka tidak boleh mempersiapkan diri untuk tawaf qudum dan datang ke Mekah sebelum wukuf dahulu.

Akan tetapi jika sudah tiba di sana beberapa hari sebelumnya dan sudah melakukan tawaf qudum, maka teruslah menjadi muhrim (tetap menggunakan pakaian ihram) sampai hari ketujuh Zulhijah. Di Makkah, Imam menyampaikan khotbah di dekat Ka'bah setelah selesai jamaah salat dzuhur dan menyuruh semua orang agar bersiap untuk keluar menuju Mina hari Tarwiyah dan bermalam di sana. 

Esoknya, dari sana berangkat ke Arafah untuk melaksanakan kewajiban wukuf setelah matahari tergelincir. Itu karena waktu wukuf dimulai sejak matahari tergelincir hingga terbit fajar 'shiddiq' pada hari raya Qurban.

"Dan, seyogiyanya setelah itu pergi ke Mina seraya mengucapkan talbiyah. Dan jika sanggup, disunahkan berjalan dari Makkah khususnya dalam menjalankan manasik hingga ibadah haji selesai," katanya.

Imam Al-Ghazali mengatakan, berjalan kaki dari Masjid Ibrahim (Masjidil Haram) ke tempat pelaksanaan wukuf lebih utama dan lebih kuat kesunahannya. Setelah sampai di Mina, hendaknya membaca. "Ya Allah Sesungguhnya ini adalah minat titik maka, berilah aku anugerah seperti anugerah yang engkau berikan kepada para wali MU dan orang-orang yang taat kepadamu."

Dan hanya berdiam dan bermalam di sana pada malam itu juga yakni bermalam di tempat yang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan ibadah haji. Lalu bila datang waktu subuh hari Arafah segera melaksanakan sholat subuh. Kemudian ketika matahari sudah terbit di atas bukit Tsabit, segera berjalan menuju Arafah sambil membaca.

"Ya Allah, jadikanlah Arafah sebagai sebaik-baik perjalanan pagi yang pernah aku tempuh. Perjalanan yang lebih mendekatkan kepada keridhoan-Mu dan perjalanan yang paling menjauhkan dari murka-Mu. Ya Allah, kepada-Mu aku berjalan pagi, hanya kepada-Mu aku berharap, kepada-Mu aku berpegang dan hanya wajah-Mu yang aku kehendaki. Maka, jadikanlah aku sebagian dari orang yang hari ini dibanggakan oleh orang yang lebih baik dan lebih utama dariku pada hari kiamat."

Setibanya di Arafah, hendaknya membangun tenda Namirah berdekatan dengan Masjid. Karena kata Imam Al-Ghazali di sanalah Rasulullah SAW, mendirikan kemahnya.

"Adapun namiroh terletak di tengah-tengah Arafah, bukan tempat pelaksanaan wukuf dan juga bukan bagian dari arah," katanya.

Hendaknya mandi untuk melaksanakan wukuf, setelah matahari tergelincir, Imam menyampaikan khotbah singkat lalu duduk. Kemudian muadzin mengumandangkan adzan sementara Imam menyampaikan khotbah kedua. 

"Adzannya langsung disambung dengan iqomah. Imam selesai khotbah bersamaan dengan selesainya iqomah muadzin," katanya.

Kemudian menjamak sekaligus mengqasar salat zuhur dan asar dengan sekali adzan dan dua iqamah. Setelah itu, bergegas menuju ke tempat wukuf di Arafah. Tidak diperkenankan wukuf di Arafah. Adapun bagian muka masjid terletak di Wadi Arafah dan bagian belakangnya sudah termasuk Arafah. "Sehingga barangsiapa melaksanakan wukuf di bagian depan masjid maka tidak dianggap wukuf di Arafah," katanya.

Imam Al Ghazali menjelaskan tempat Arafah di masjid itu ditandai dengan beberapa batu besar yang dijadikan lantai. Yang lebih utama untuk dilakukan adalah wukuf di dekat beberapa batu besar tadi dalam posisi dekat dengan Imam sembari menghadap kiblat.

"Seyogianya memperbanyak bacaan tahmid tasbih tahlil, pujian kepada Allah doa dan tobat. Tidak diperbolehkan puasa pada hari ini (Arafah) agar kuat untuk terus menerus berdoa," katanya.

Dan semestinya baru keluar dari ujung Arafah setelah matahari tenggelam supaya bisa mempertemukan siang dan malam dia Arafah. Dan Jika memungkinkan wukuf saat pada hari kedelapan, seumpama ada kemungkinan salah dalam masalah penentuan hilal, maka hal itu merupakan sikap kehati-hatian. 

Barang siapa terlambat wukuf, hingga terbitnya fajar hari raya kurban, maka sudah melewati ibadah haji. Dengan demikian, dia harus bertahan dari ihram hajinya dengan melakukan amalan-amalan umroh kemudian membayar dam atas keterlambatannya tadi lalu mengqadha hajinya. 

Pada hari Arafah, yang harus dilakukan adalah memperbanyak doa karena di tengah lautan manusia di tempat dan hari itu doa begitu mustajab. Doa dari nabi yang paling utama untuk dibaca yaitu.

"Tida Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya dan segala puji hanya milik Nya. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Dia yang maha hidup dan tidak mati. Di tengah-Nya tergenggam segala kebaikan. Ia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, pancarkanlah di dalam hatiku cahaya, pendengaranku cahaya dan di penglihatanku cahaya. Ya Allah lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku."

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini