6 Rabiul Awwal 1442

Mempertimbangkan Makanan di Hotel

Kamis , 20 Aug 2020, 22:47 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Mempertimbangkan Makanan di Hotel (ilustrasi)
Mempertimbangkan Makanan di Hotel (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Hotel menjadi tempat singgah saat bepergian ke luar kota ataupun luar negeri. Aneka suguhan makanan terhidang bagi para tamu hotel. Mereka tinggal memilih sesuai selera dan tentu saja kemampuan keuangannya. Bagi Muslim, tentu ada pertimbangan lain saat menentukan pilihan menu makanan ataupun minuman, yaitu soal kehalalannya.

 

Menurut  Anton Apriyantono dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), kehati-hatian perlu bagi Muslim sebelum menyantap makanan yang tersaji di hotel. Terutama saat menginap di luar negeri termasuk yang ada di Eropa dan Amerika, yang makanannya belum tentu halal dan dimasak sesuai tuntunan Islam.

Ia menyarankan, untuk menghindari makanan-makanan yang kemungkinan haram. Bisa karena ada campuran babi, baik melalui lemak maupun turunannya. Juga campuran alcohol, seperti wiski atau sake. Untuk lebih aman, ia mengatakan sebaiknya memilih makanan yang diyakini kehalalannya.

Telur rebus, kentang rebus, roti, butter, telur yang diolah dengan cara sederhana, ataupun ikan yang diolah dengan cara sederhana bisa menjadi pilihan. Meski ia pun meminta agar kekritisan terhadap makanan tetap dijaga. Pada  ikan bakar, harus diteliti cara membakarnya bagaimana,” katanya.

Mantan auditor LPPOM MUI itu beralasan, ada ikan bakar yang dalam proses pembakarannya menggunakan campuran wiski atau sake. Agar merasa lebih tenang, ujar dia, sebaiknya menanyakan tentang hal ini kepada pelayan hotel bagaimana cara memasaknya. Bahkan, bisa juga bertanya tentang bahan apa saja yang digunakan.

Hal ini penting agar kita benar-benar yakin apakah makanan yang akan kita konsumsi itu halal atau haram,” ujar Anton. Sikap hati-hati juga diterapkan pada makanan berupa omelet. Ia mengungkapkan, terkadang omelet dibuat dengan campuran sosis. Maka itu, perlu dicari tahu apakah sosis itu berasal dari daging sapi atau daging babi.

Kalau belum yakin benar, makanan dari daging lebih baik ditinggalkan. Sebab, hotel-hotel yang ada di Eropa dan Amerika, khususnya, mengolah daging yang disuguhkan tak sesuai tuntunan Islam. Saat menyembelih hewannya, mereka kemungkinan besar tidak mengucapkan basmalah. Ada potensi campuran barang haram saat memasaknya.

Anton menyampaikan alternatif yang bagus untuk mengobati keinginan makan daging, makan di restoran halal saja. Tak hanya makanan di hotel luar negeri yang membutuhkan kehati-hatian Muslim sebelum mengonsumsinya. Makanan hotel di Tanah Air juga harus diperhatikan status kehalalannya.

Sejumlah hotel di Bali, misalnya, masakannya banyak yang menggunakan campuran daging babi. Kita harus selektif memilih makanan.” Meski hotel di Jakarta, saat menyantap salad ketelatenan untuk mengetahui kehalalannya masih perlu. Ia menunjuk  dressing salad, yang belum tentu halal. Terkadang dressing itu berasal dari mayones yang emulsifiernya berasal dari turunan lemak babi.

Menurut Anton, yang jelas halal adalah buah-buahan dan kue yang tak mengandung bahan daging.

Cari informasi

Anton memberikan masukan agar terhindar dari makanan haram saat menginap di hotel. Jika akan menginap di sebuah hotel, cari informasi terlebih dahulu mengenai hotel itu, apakah menyediakan makanan halal atau tidak. Selain itu, Muslim dituntut meningkatkan pengetahuannya tentang makanan dan berbagai bahan campurannya.

Muslim bisa mengenal beraneka makanan melalui buku-buku masakan. Langkah ini akan memudahkan seorang Muslim memilih makanan halal ketika harus menginap di hotel. Kita juga bisa bertanya kepada pelayan hotel  tentang bahan-bahan campuran makanan yang disediakan di hotel jika merasa ragu akan kehalalannya,” tuturnya.

Untuk hotel-hotel di Indonesia, Anton mendorong agar mereka mendapatkan sertifikat halal bagi makanannya agar tamu-tamunya yang Muslim merasa nyaman ketika mengonsumsi makanan yang disajikan manajemen hotel.

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Republika, Jumat, 17 Desember 2010

 

widget->kurs();?>