3 Rabiul Awwal 1442

Yang Halal Kian Menguntungkan

Jumat , 21 Aug 2020, 22:01 WIB Reporter : Wachidah Handasah/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Yang Halal Kian Menguntungkan (ilustrasi).
Yang Halal Kian Menguntungkan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Muslim memang bukan mayoritas di Eropa. Untuk mendapatkan makanan yang sesuai dengan syariat Islam, alias makanan halal, kerap menjadi masalah bagi Muslim yang tinggal atau berkunjung ke sana.

 

Kini, masalah itu tak lagi serumit dulu. Hari demi hari, makin banyak saja swalayan atau restoran yang menyajikan makanan halal. Tengoklah di Jerman. Di negeri yang memiliki empat juta warga Muslim ini, sejumlah pengusaha mulai melirik bisnis makanan halal yang ternyata sangat menjanjikan.         

Salah satu usaha makanan halal itu ada di Gehlenberg, Jerman bagian utara. Hampir seluruh dari 1.600 warga wilayah ini adalah penganut Katolik taat. Namun siapa sangka, dari wilayah ini diproduksi berton-ton makanan halal yang dikirim ke seantero Jerman, bahkan ke luar Jerman. Di bawah bendera Meemken, sebuah perusahaan keluarga yang berpusat di sini, setiap pekannya diproduksi sekitar 100 ton salami dan aneka jenis sosis lainnya, yang semuanya halal. 

Dalam memproduksi produk-produk halalnya, Meemken berusaha memerhatikan secara saksama peralatan yang digunakan. Di antaranya, memisahkan peralatan yang digunakan untuk mengolah produk berbahan babi dari perangkat untuk memproduksi makanan halal.  Kami akan terus meningkatkan segmen (makanan halal) ini,” ujar Managing Director perusahaan ini, Rolf Meemken.

Tak hanya Meemken. Perusahaan-perusahaan makanan di Jerman, perlahan tapi pasti, mulai menyadari pentingnya menghasilkan produk makanan yang berorientasi pada agama atau keyakinan untuk meraup keuntungan lebih besar. Terlebih, potensi pasar makanan halal di Jerman cukup besar.  Jika saat ini, jumlah warga Muslim Jerman sekitar empat juta, tahun-tahun ke depan jumlah itu dipastikan bertambah. Ini karena angka kelahiran di kalangan Muslim lebih tinggi dibandingkan non-Muslim.

Tumbuh lebih cepat

Data yang dilansir World Halal Forum pada 2009 menunjukkan, sekitar 17 persen dari pasar makanan dunia diisi oleh produk makanan halal. Pasar makanan halal pun tumbuh lebih cepat ketimbang pasar makanan lainnya. Tahun ini, nilai penjualan makanan halal di seluruh dunia diperkirakan mencapai 641 miliar dolar AS. Bandingkan dengan 2004 yang masih berada di angka 587 miliar dolar AS. Sedangkan pasar makanan halal di Eropa diprediksi mencapai nilai penjualan 67 miliar dolar AS pada 2010.      

Daya tarik keuntungan dari bisnis makanan halal juga disadari produsen makanan di negara-negara Eropa lainnya, yang memiliki penduduk Muslim relatif besar. Sebut saja Prancis. Di negeri ini, produk daging halal bisa diperoleh di seluruh jaringan swalayan Casino dan Carrefour. Sementara di Inggris, makanan halal juga bisa dengan mudah dibeli di jaringan swalayan terkemuka, Tesco dan Sainsbury’s.  

Dalam pandangan Peter Grothues, yang beberapa waktu lalu memimpin segmen makanan halal di pameran dagang di Cologne, Jerman, pasar produk halal akan terus tumbuh. Produk halal akan menjadi pilar penting dalam perdagangan,” ujarnya.    

Fakta itu juga disadari sepenuhnya oleh produsen makanan internasional, seperti Nestle dan Unilever. Seperti dikatakan Executive Vice President Nestle, Frits van Dijk, beberapa waktu lalu, bisnis makanan halal akan tumbuh kian cepat, khususnya di Eropa. Karena itu, katanya, bakal makin banyak jaringan swalayan yang menjual produk ini. Ia memprediksi, bisnis makanan halal di Eropa akan tumbuh 20-25 persen pada dekade mendatang. 

Saya lihat, produk halal kini tak hanya dijual di gerai-gerai khusus, tapi juga mulai merambah ke jaringan swalayan terkemuka,’’ kata Van Dijk seperti dikutip Reuters.   

Nestle merupakan produsen makanan halal terkemuka di dunia. Nilai penjualan produk halal Nestle pada 2008 mencapai 5,23 miliar dolar AS. Angka ini sekitar lima persen dari penghasilan tahunannya. Sejumlah negara menjadi pasar utama produk halal Nestle saat ini, yakni Malaysia, Indonesia, Turki, dan Timur Tengah. Sementara Prancis, Inggris, dan Jerman segera menyusul menjadi pasar utama produk halal di Eropa. 

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Republika, Selasa, 14 Desember 2010

 

widget->kurs();?>