5 Rabiul Awwal 1442

Keutamaan Makan yang Halal

Ahad , 23 Aug 2020, 20:26 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Keutamaan Makan yang Halal. Ilustrasi Makanan Halal
Keutamaan Makan yang Halal. Ilustrasi Makanan Halal

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Prof Dr H Achmad Satori Ismail

 

Semenjak membayar ongkos naik haji kita sudah harus selektif menggunakan harta yang halal. Lalu selama menunaikan ibadah haji kita perlu berhati-hati jangan sampai memakan sesuatu yang syubhat (meragukan kehalalannya), apalagi yang haram.

Di antara keutamaan memakan yang halal adalah:

* Memakan yang halal berarti menaati perintah Allah dan rasul-Nya.

Allah dan rasul-Nya memerintahkan agar kita senantiasa memakan yang halal dan baik. Dalam Alquran disebutkan: ''Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.'' (Al Baqarah 172).

Dalam ayat lain disebutkan: ''Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (Al Mukminun 51).

* Melindungi diri dari neraka.

Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari neraka. Di sana banyak hadits yang menjelaskan hal itu antara lain: ''Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah SAW bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun, Rasulullah SAW berkata bahwa ia akan masuk ke neraka. Maka para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan (Shohih Bukhori hadits no. 2845), (Tuhfatul Ahwadzi hadits no. 1381).''

Dalam hadits lain dinyatakan; ''Barang siapa yang mengambil hak milik orang Muslim dengan menggunakan sumpah maka Allah akan mewajibkan untuk masuk neraka dan diharamkan masuk surga. Seorang bertanya: Walaupun barang yang kecil wahai Rasulullah? Beliau bersabda: walaupun sepotong kayu arok.''

* Mendapat keberkahan rezeki.

Orang yang memakan barang yang halal akan mendapat keberkahan dalam hidupnya karena dia termasuk orang yang bertakwa. Dalam sebuah ayat disebutkan: ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.'' (Al A'rof 96).

Ibnu Umar ra berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, ''Seorang mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan makanan yang haram.'' (Kitab Shohih Bukhori hadits nomor 2355,), (Musnad Ahmad).

* Orang yang makanannya tidak halal akan masuk neraka.

Dalam sebuah atsar disebutkan: barang siapa tidak peduli dari mana ia dapatkan makanannya, maka Allah tidak akan peduli padanya dari pintu mana ia akan dimasukkan neraka.

* Orang yang makan halal, dikabulkan doanya.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 168, yang artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan Nabi SAW, berdirilah seorang sahabat bernama Sa'd bin Ubay seraya berkata: Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar menjadikanku sebagai orang yang dikabulkan doanya. Beliau bersabda: ''Makanlah yang baik dan halal pasti dikabulkan doamu. Demi dzat yang jiwaku berada dalam gengaman-Nya, seorang yang memasukkan sekerat daging haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amalnya selama empat puluh hari dan barang siapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya.''

* Memakan yang halal syarat mencapai hakikat keimanan.

Telah bersabda Rasulullah SAW: ''Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sampai meninggalkan sebagian apa-apa yang halal karena khawatir terperosok pada yang haram.''

Sahal At tustury berkata: ''Seorang tidak mungkin mencapai hakikat keimanan sehingga memiliki empat sifat: melaksanakan semua yang wajib ditambah dengan yang sunnah, memakan yang halal dengan penuh waro',  menjauhi yang diharamkan baik yang lahir ataupun yang batin, dan sabar melaksanakan semuanya sampai mati.

* Pemakan barang haram, amalnya tidak diterima.

Dalam sebuah hadits disebutkan: sesungguhnya Allah memiliki malaikat di atas baitil Maqdis yang menyeru setiap malam: Barang siapa yang memakan yang haram maka tidak diterima amalannya.

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Republika, Senin, 17 Nopember 2008

 

widget->kurs();?>