13 Rabiul Awwal 1442

Pelaku Industri Halal Malaysia Didesak Gunakan Metode Daring

Selasa , 25 Aug 2020, 13:09 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Pelaku Industri Halal Malaysia Didesak Gunakan Metode Daring. Foto: Malaysia International Halal Showcase (MIHAS)
Pelaku Industri Halal Malaysia Didesak Gunakan Metode Daring. Foto: Malaysia International Halal Showcase (MIHAS)

REPUBLIKA.CO.ID,KUALA LUMPUR -- Pelaku industri halal, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), didorong menggunakan metode daring. Beberapa hal yang bisa diadopsi seperti transaksi keuangan, nasehat bisnis dan berbagi informasi pasar.

 

Menanggapi seruan tersebut, Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) Malaysia, mengatakan pemerintah telah memberikan berbagai inisiatif di bawah rencana pemulihan ekonomi nasional (PENJANA).

Inisiatif ini guna memberdayakan platform digital melalui kampanye e-commerce, yang ditujukan kepada pengusaha mikro dan UKM. Termasuk di dalamnya e-coaching dan pembelajaran daring di bawah Halal Development Corporation Bhd (HDC).

"Berdasarkan catatan terkini, program-program ini menarik 1.100 peserta selama periode movement control order (MCO)," ujar MITI dalam jawaban tertulis atas pertanyaan lisan dari Fuziah Salleh (PH-Kuantan) di Dewan Rakyat, dilansir di Bernama, Selasa (25/8).

Program-program yang ada, disebut telah membantu wirausahawan yang memenuhi syarat. Bantuan yang diberikan berupa fasilitas seperti pelatihan onboarding, layanan dukungan penjualan, serta subsidi untuk membantu menutupi biaya terkait.

Kementerian mengatakan pandemi Covid-19 telah mempengaruhi ekosistem industri halal Malaysia yang mencakup beberapa industri dan sektor. Ekosistem ini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di mana UKM juga terlibat.

Adapun sektor yang terkena dampak antara lain makanan dan minuman, yang harus bergeser ke pengiriman daring ke pintu depan pelanggan. Selain itu, rantai pemasok dalam pengolahan produk halal juga terpengaruh, karena keterbatasan pasokan bahan baku yang tidak mampu memenuhi permintaan pasar.

 

Sumber: https://www.bernama.com/en/business/news.php?id=1873220

 

widget->kurs();?>