Rabu 26 Aug 2020 19:45 WIB

CIPS: Diversifikasi Jadi Instrumen Capai Ketahanan Pangan

CIPS menyebut ketahanan tidak terwujud bila pemerintah hanya fokus swasembada pangan

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Petani membajak dan menanam benih padi (ilustrasi).  Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, diversifikasi pangan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketahanan pangan atau food security di Tanah Air.
Foto: Kementan
Petani membajak dan menanam benih padi (ilustrasi). Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, diversifikasi pangan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketahanan pangan atau food security di Tanah Air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, diversifikasi pangan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketahanan pangan atau food security di Tanah Air. Ia menilai selama ini, pemerintah selalu fokus untuk mencapai swasembada pangan. Padahal, swasembada bukan hal mudah dicapai karena banyaknya faktor pada  pertanian Indonesia yang tidak mendukung tujuan tersebut.

Ia menerangkan, ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana ketersediaan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang untuk setiap saat dan setiap individu mempunyai akses untuk memperolehnya, baik secara fisik maupun ekonomi.

Ketahanan pangan seringkali dikaitkan dengan ketersediaan, stabilitas dan juga aksesibilitas (keterjangkauan) oleh masyarakat. Ketiga hal inilah yang masih sulit diwujudkan oleh pemerintah.

“Keadaan Indonesia di masa sekarang sangat berbeda dengan Indonesia pada saat sukses mencapai swasembada pangan. Untuk itu pemerintah harus realistis dan melihat adanya kemungkinan untuk menggunakan pendekatan lainnya, salah satunya adalah diversifikasi pangan. Selain itu, sudah tentu dengan mendukung kebijakan perdagangan terbuka (open trade) untuk pangan sehingga masyarakat memiliki akses kepada pangan bergizi dengan harga terjangkau,” kata Felippa dalam keterangan resminya, Rabu (26/8).

Ia menambahkan, diversifikasi pangan bisa menjadi pilihan daripada hanya fokus pada satu jenis komoditas pangan saja. Namun, diversifikasi pangan tidak akan terwujud kalau pemerintah tetap menjadikan swasembada sebagai tujuan utama.

Hal itu dikarenakan masyarakat akan memilih komoditas yang tersedia dalam jumlah banyak. Penyediaan pangan saat ini, kata dia, juga tidak hanya soal memenuhi kebutuhan masyarakat saja. Penyediaan pangan kini juga termasuk bagaimana menyediakan pangan yang bergizi untuk masyarakat dan menciptakan rantai pasok pangan yang berkelanjutan untuk masyarakat.

“Rantai pasok pangan ini yang masih menjadi masalah di masyarakat. Rantai pasok pangan yang ada belum berkelanjutan sehingga seringkali menimbulkan kekisruhan seperti naiknya harga komoditas pangan karena komoditas tersebut tiba-tiba menghilang dari pasaran dan sulit didapat. Kelancaran supply chain juga perlu dipastikan, terutama di masa pandemic seperti sekarang ini, supaya tidak ada daerah yang mengalami kelangkaan pasokan kebutuhan pangan,” ujarnya.

Selain diversifikasi pangan, Felippa juga mengingatkan urgensi keterlibatan Indonesia dalam perdagangan pangan internasional. Perdagangan internasional tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di saat yang bersamaan, masyarakat juga mulai diarahkan untuk beralih ke makanan alternatif yang terdiversifikasi. Hal ini penting karena Indonesia harus menjadi bagian dari global food market yang terintegrasi. "Kalau Indonesia terus mengisolasi diri sendiri dengan program swasembada yang agresif dan berpotensi merusak lingkungan, maka hal tersebut akan merugikan petani dan masyarakat," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement