Selasa 29 Sep 2020 22:05 WIB

Kemenag Sulsel Minta Guru PAI Tingkatkan Literasi

Tantangan guru PAI di sekolah semakin kompleks.

Kemenag Sulsel Minta Guru PAI Tingkatkan Literasi. Sejumlah santri dipandu guru agama belajar Alquran melalui komputer jinjing yang terhubung internet di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra
Kemenag Sulsel Minta Guru PAI Tingkatkan Literasi. Sejumlah santri dipandu guru agama belajar Alquran melalui komputer jinjing yang terhubung internet di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan Khaeroni meminta kepada seluruh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) agar meningkatkan inklusi dan literasi di tengah kemajuan teknologi informasi (TI) saat ini.

"Di era 4.0, mesin-mesin canggih sudah menggantikan peran manusia. Tantangan guru PAI di sekolah juga semakin kompleks dan tak mungkin digantikan dengan mesin," ujar Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Khaeroni dalam rapat koordinasi dan silaturahim bidang Pendidikan Agama Islam (PAI), Selasa (29/9).

Baca Juga

Ia mengatakan, tenaga pendidik agama Islam tidak akan digantikan oleh mesin, tetapi setiap guru harus bisa meningkatkan literasi. Menurut dia, karakter siswa menjadi kunci, sehingga guru Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini harus diperkuat dengan berbagai literasi sebagai modal utama khususnya yang berbasis pada khazanah kitab klasik dalam Islam.

Khaeroni memandang penguatan literasi bagi guru PAI harus melek literasi yang memperkuat sikap dan pandangan hidup beragama secara inklusif bukan eksklusif. "Jadi memang harus dimunculkan literasi berbasis moderasi beragama. Guru PAI harus melek literasi karena tantangan zaman semakin tinggi," katanya.

Dalam Rakor PAIS, Kakanwil juga memberikan arahan guru PAI harus mampu menghadirkan literasi kepada siswa agar mampu mengaplikasikan kehidupan sehari-hari bahwa mereka mampu menghargai dan melek arti sebuah perbedaan. "Jangan sampai ada siswa yang membenci sesamanya hanya karena beda agama, beda paham atau beda organisasi," katanya.

Apalagi, saat ini masyarakat disuguhkan dengan berbagai peristiwa yang sering bikin heboh, misalnya terjadinya malpraktik penyiaran keagamaan yang dibawakan oleh oknum yang pemahaman keagamaannya masih kurang.

Hal-hal demikian, kata dia, kadang menimbulkan kesalahan yang fatal dan bahkan yang seperti itu justru banyak yang menyukai. "Contoh, di kanal media sosial, ada penceramah yang tingkat pemahamannya masih kurang dan menuai kontroversi. Justru yang demikian itu banyak pengikutnya, ini yang tidak boleh terjadi," ucapnya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement