8 Rabiul Awwal 1442

Listrik dan Internet Minim Ancam Para Siswa di Gaza

Kamis , 01 Oct 2020, 07:40 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Anak-anak sekolah belajar dalam gelap di Gaza. Pasokan listrik yang minim membuat mereka semakin menderita.
Anak-anak sekolah belajar dalam gelap di Gaza. Pasokan listrik yang minim membuat mereka semakin menderita.

REPUBLIKA.CO.ID -- Penderitaan bangsa Palestina bukan isapan jempol. Pada musim pandemi Corona ini di sana p emadaman listrik rutin dan layanan internet yang tersendapt mendapat kenyataan setiap hari. Dan pendeitaan ini makin beraru bagi anak-anak. Minimnya pasokan listrik membuat pembelajaran jarak jauh melalui internet di Jalur Gaza menjadi ancaman bagi para siswa sekolah.

 

Rata-rata warga Gaza di wilayah yang dikelola kelompok Islamis Hamas itu hanya mendapatkan delapan jam listrik sehari dari satu-satunya pembangkit listrik dan saluran listrik Israel. Sebagian besar keluarga bergantung pada bantuan asing dan berjuang untuk membayar internet atau membeli komputer serta telepon tambahan.

"Kami harus menunggu sampai listrik mati agar kami dapat mengisi ulang ponsel," kata siswa kelas 10 Raseel Hussein. "Pelajaran dikirim melalui internet dan kami harus mengunduhnya, dan itu tergantung pada seberapa lemah atau kuat sinyalnya."

Ibunya, Yasmine, berkata bahwa banyak keluarga miskin dan tidak mampu membeli ponsel pintar atau internet untuk terhubung dengan guru.

Palestinian sisters Raseel and Mariam Hussein attend their online lessons in their home, amid the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, in Gaza City September 22, 2020. (photo credit: MOHAMMED SALEM/ REUTERS)

  • Keterangan foto: Dua siswa sekolah Palestina di Gaza, Rasel dan Mariam Husein, tengah belajar di rumah dengan internet.

Pemerintahan Hamas di Gaza telah mengumumkan 'lockdown' pada 24 Agustus setelah kasus pertama virus corona dilaporkan di luar fasilitas karantina bagi orang-orang yang memasuki Gaza. Sejak saat itu telah terjadi 2.800 kasus dan 20 orang meninggal dunia.

Gaza adalah rumah bagi dua juta warga Palestina di kota-kota besar dan kamp-kamp pengungsi yang berada dalam area seluas 360 km persegi (139 mil persegi). Mereka hidup dalam perbatasan yang ditutup oleh negara tetangga Israel dan Mesir.

Adanya 'lockdown' atau penguncian itu membuat layanan publik dibatasi seperti sekolah, masjid, atau fasilitas umum lainny. Jam malam diberlakukan.

 Moatasem Al-Minawai, seorang pejabat kementerian pendidikan Gaza, mengatakan tantangan ini akan terus berlanjut bahkan setelah sekolah dibuka kembali. Para siswa di wilayah ini akan dibatasi hadir di kelas. Mereka naninya akan berada di sekolah hanya paruh waktu.

 

widget->kurs();?>