4 Rabiul Awwal 1442

Ketika Kabah Masjidil Haram Penuh dengan Berhala Pujaan

Sabtu , 17 Oct 2020, 05:30 WIB Reporter :Hasanul Rizqa/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Kabah di Masjidil Haram dipenuhi berhala pada era sebelum Islam datang. Ilustrasi Masjidil Haram
Foto : Saudi Press Agency/Handout via REUTERS
Kabah di Masjidil Haram dipenuhi berhala pada era sebelum Islam datang. Ilustrasi Masjidil Haram

IHRAM.CO.ID, Sejak era Amr bin Luhaiy, Ka'bah menjadi kotor karena dikelilingi banyak berhala-berhala. Benda-benda yang sesungguhnya tidak mendapatkan manfaat ataupun mudharat kepada manusia itu dianggap sebagai perantara bila seseorang berdoa kepada Allah SWT.  

 

Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab adalah Amr bin Luhaiy bin Qam'ah. Leluhur Suku Khuza'ah itu juga mengajak masyarakat setempat untuk menyembah benda-benda mati.

Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah (2009; terjemahan Noura Books 2015), menukilkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muhammad bin Ibrahim bin al-Haris at- Taimi dari Abu Shalih as-Saman.

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال:  سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأكثم بن الجون الخزاعي : يا أكثم ، رأيت عمرو بن لحي بن قمعة بن خندف يجر قصبه في النار ، فما رأيت رجلا أشبه برجل منك به ، ولا بك منه : فقال أكثم : عسى أن يضرني شبهه يا رسول الله ؟ قال : لا ، إنك مؤمن وهو كافر ، إنه كان أول من غير دين إسماعيل ، فنصب الأوثان ، وبحر البحيرة ، وسيب السائبة ، ووصل الوصيلة ، وحمى الحامي .

Aku (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Aksam bin Jun al-Khuza'i, 'Wahai Aksam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam'ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.'

Aksam bertanya, 'Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Tidak. Engkau adalah mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki.'

Al-Buthy juga mengutip keterangan dari sejarawan Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (wafat 833). Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhaiy mengenalkan syirik kepada bangsa Arab. Suatu ketika, Amr pergi dari Makkah menuju Syam (Suriah) untuk memenuhi beberapa urusannya. Dia sampai di daerah al-Balqa', tepatnya Ma'ab, yang waktu itu dihuni penduduk Amalek. Bila ditelusuri silsilahnya, mereka adalah keturunan Amlaq bin Lawidz bin Sam bin Nuh. Ternyata, Amr mendapati beberapa orang di sana sedang menyembang patung.

“Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” tanya Amr kepada mereka. “Patung-patung itu kami sembah untuk meminta hujan, sehingga kami diberi hujan. Kami meminta kemenangan, sehingga kami diberi kemenangan,” jawab beberapa dari mereka.

Tidak disangka-sangka, Amr justru tertarik terhadap penjelasan yang irasional itu. “Maukah kalian memberikan kepadaku satu di antara patung-patung itu, yang bisa ku bawa ke negeri Arab untuk disembah?” tanyanya.

Orang-orang itu pun memberinya sebuah patung yang bernama Hubal. Ringkas cerita, sesampainya di Makkah, Hubal diletakkannya di dekat Ka'bah. Masyarakat luas berduyun-duyun datang. Amr lantas mengimbau mereka agar benda mati itu disembah dan diagung-agungkan sebagai cara memperoleh segala harapan. Ajakan ini ternyata disambut sejumlah petinggi kota itu, sehingga lambat laun tersebarlah paganisme di tengah bangsa Arab.

Menurut al-Buthy, faktor utama yang membuat penduduk Makkah generasi demikian meninggalkan akidah tauhid adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan mereka untuk berpikir logis. Mereka mengganti agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kemusyrikan, yang bersumber dari kepercayaan suku-suku yang hidup di sekitar Jazirah Arab.

Tampak adanya kontradiksi yang diidap kaum musyrikin Makkah. Di satu sisi, mereka menepuk dada sebagai keturunan Nabi Ibrahim AS. Di sisi lain, mereka mencampakkan tauhid sebagai esensi millah Ibrahim.