20 Rabiul Akhir 1442

Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Digelar Daring-Luring

Jumat , 23 Oct 2020, 07:36 WIB Reporter : Zahrotul Oktavani/ Redaktur : Muhammad Subarkah
 Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan umat Islam mengenakan masker wajah dan menjaga jarak aman saat mereka melakukan umrah.
Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan umat Islam mengenakan masker wajah dan menjaga jarak aman saat mereka melakukan umrah.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Menyebarnya virus Covid-19 di Indonesia tidak menghalangi Kementerian Agama melakukan sertifikasi pembimbing manasik haji. Program ini tetap dilaksanakan dengan melakukan penyesuaian, memanfaatkan teknologi informasi.

Direktur Bina Haji Kemenag, Khoirizi, mengatakan penyesuaian pelaksanaan sertifikasi pembimbing manasik haji ini telah dilakukan di beberapa lokasi. Salah satunya dilaksanakan oleh Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat.

 

Proses sertifikasi dilakukan bekerjasama dengan Center for Hajj and Umrah Studies IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dalam penyesuaian ini, proses sertifikasi pembimbing dilakukan dengan pola campuran, dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring atau tatap muka). 

 

“Penyesuaian ini dilakukan agar sertifikasi tetap bisa berjalan optimal, tujuannya tercapai, meski dalam kondisi pandemi Covid-19,” ujar Khoirizi dalam keterangan yang didapat Republika, Jumat (23/10).

 

Pola campuran seperti ini, disebut digunakan dalam sertifikasi pembimbing manasik haji angkatan VII reguler yang berlangsung selama 12 hari, dari 19 sampai 30 Oktober 2020.

 

Kasubdit Bimbingan Jamaah Haji, Arsyad Hidayat, menambahkan inovasi ini menjadi bagian ikhtiar Kementerian Agama dalam meminimalisir risiko penyebaran Covid-19.

 

Ia menilai, kolaborasi penggunaan media daring dan luring adalah keniscayaan. Hal itu untuk memastikan pilihan metode ceramah, dialog, brainstorming, problem solving, role playing, pemutaran film, diskusi, demonstrasi, refleksi, dan dinamika kelompok tetap bisa diterapkan. 

 

“Pendekatan ini memanfaatkan media berupa Zoom, WhatsApp Group, Google Classroom, Youtube, dan aplikasi dalam situs resmi Lembaga Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Akreditasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LSPMH-AKBIHU) IAIN Syekh Nurjati Cirebon,” kata Arsyad.

 

Terpisah, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Adib, mengatakan inovasi sertifikasi penting agar peningkatan kompetensi pembimbing haji tetap berjalan, meski kondisi pandemi.

 

Kompetensi yang dimaksud berkaitan dengan aspek keilmuan haji, regulasi dan praktik. Keberadaan pembimbing manasik yang mumpuni diperlukan untuk mendampingi jamaah haji Jawa Barat yang sangat banyak. 

 

“Kami juga sedang membangun asrama haji di Indramayu dan pusat pelayanan haji terpadu di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat,” tuturnya. 

 

Direktur Center for Hajj and Umrah Studies IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Muzaki, menambahkan pilihan menggunakan metode campuran merupakan respon atas kondisi pandemi. Sertifikasi dikemas untuk menyiapkan pembimbing manasik haji dan umrah yang profesional dan terstandar.

 

“Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 100 orang, perwakilan ASN Kementerian Agama dari setiap kabupaten dan kota serta perwakilan Pimpinan Wilayah Ormas di Jawa Barat," kata dia.

 

Menurutnya, pada sesi daring peserta diwajibkan mengikuti semua mata pelatihan melalui aplikasi Webinar Zoom Meeting. Materi bimbingan disediakan dalam portal Center for Hajj and Umrah Studies IAIN Syekh Nurjati Cirebon, di www.haji-sejati.or.id.

 

Ia menyebut pelatihan secara daring dilaksanakan selama tujuh hari, untuk materi yang bersifat teoritik. Sesi luring dilaksanakan selama lima hari untuk materi yang bersifat praktik, seperti praktik manasik haji. 

 

 

 

widget->kurs();?>