20 Rabiul Akhir 1442

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi, BNI Perkuat Dana Pencadangan

Selasa , 27 Oct 2020, 10:54 WIB Reporter :Novita Intan/ Redaktur : Elba Damhuri
BNI Perkuat Pencadangan -- Karyawan bank menunjukkan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) yang disetor nasabah di bank BNI Kantor Cabang Pembantu (KCP) Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Jumat (14/8/2020. BNI memperkuat pencdangan di tengah kondisi pandemi
BNI Perkuat Pencadangan -- Karyawan bank menunjukkan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) yang disetor nasabah di bank BNI Kantor Cabang Pembantu (KCP) Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Jumat (14/8/2020. BNI memperkuat pencdangan di tengah kondisi pandemi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp 4,32 triliun pada kuartal tiga 2020. Adapun realisasi pencapaian ini mengalami penurunan 63,9 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies mengatakan penurunan ini disebabkan ketidakpastian ekonomi pada masa mendatang. "Kami melakukan pembentukan pencadangan yang lebih konservatif, sehingga rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio hingga kuartal III  2020 berada pada level 206,9 persen lebih besar dibandingkan kuartal III 2019  sebesar 159,2 persen," ujarnya saat konferensi pers virtual, Selasa (27/10).

Dia menjelaskan total aset tumbuh 12,5 persen year on year (yoy) terutama dikontribusi oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 21,4 persen yoy dari Rp 580,9 triliun pada kuartal tiga 2019 menjadi Rp 705,1 triliun pada kuartal tiga 2020.

Upaya menghimpun DPK dilakukan dengan menjadikan dana murah (CASA) sebagai prioritas utama yang dimaksudkan untuk dapat terus menekan cost of fund. Saat ini CASA BNI berada pada level 65,4 persen dengan cost of fund 2,86 persen atau membaik 30 bps dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 3,24 persen.

DPK tersebut menopang penyaluran kredit BNI yang tumbuh 4,2 persen yoy, dari Rp 558,7 triliun pada Kuartal 3 tahun 2019 menjadi Rp 582,4 triliun pada kuartal tiga  2020.

Namun dalam hal ini, perseroan berfokus pada perbaikan kualitas aset, salah satunya dengan cara melakukan assessment secara komprehensif dan intens untuk memantau debitur-debitur, mengingat kondisi ekonomi yang menantang di tengah pandemi ini.

Perseroan mencatat pendapatan bunga bersih pada kuartal tiga 2020 tumbuh negatif sebesar -0,8 persen yoy. "Namun penurunan tersebut dapat diimbangi dengan upaya penurunan beban bunga yang signifikan sebesar minus delapan yoy, sehingga NIM pada kuartal III 2020 mencapai 4,3 persen," jelas dia.

Dari sisi pendapatan non bunga (Fee Based Income), perseroan mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,2 persen yoy, membaik dibandingkan kuartal kedua yang lalu tumbuh 3,2 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

 

 

 

 

widget->kurs();?>