7 Syawwal 1442

Benarkah Ekonomi Syariah Terbukti Lebih Tahan Krisis?

Rabu , 28 Oct 2020, 14:56 WIB Reporter :Lida Puspaningtyas/ Redaktur : Elba Damhuri
Branch Manager Mandiri Syariah Kelapa Dua Depok Niken Larasati (kanan) berbincang dengan pemilik UKM miniatur pesawat Nurhayati (kiri) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (12/10). Mandiri Syariah berkomitmen mendukung program Pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui dukungan kepada nasabah UKM. Dukungan diberikan dalam bentuk restrukturisasi, penempatan dan pencairan dana PEN di Mandiri Syariah, pendampingan untuk pengembangan usaha serta kemudahan layanan digital.Prayogi/Republika.
Branch Manager Mandiri Syariah Kelapa Dua Depok Niken Larasati (kanan) berbincang dengan pemilik UKM miniatur pesawat Nurhayati (kiri) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (12/10). Mandiri Syariah berkomitmen mendukung program Pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui dukungan kepada nasabah UKM. Dukungan diberikan dalam bentuk restrukturisasi, penempatan dan pencairan dana PEN di Mandiri Syariah, pendampingan untuk pengembangan usaha serta kemudahan layanan digital.Prayogi/Republika.

IHRAM.CO.ID -- Banyak kalangan berpendapat bahwa ekonomi syariah telah terbukti lebih tahan krisis ekonomi, moneter, dan keuangan. Hal ini terlihat dari krisis pada 1998, 2008, dan pandemi virus corona seperti saat ini. Benarkah demikian?

Ekonomi dan keuangan syariah akan menjadi energi baru yang mendorong pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo, mengatakan sektor ekonomi syariah dengan nilai-nilai yang dianutnya terbukti lebih tahan terhadap krisis.  

"Nilai-nilai seperti keadilan, transparansi adalah unsur penting yang membuat sektor ini lebih tahan krisis, meski beberapa institusi keuangan tumbang, tapi lembaga keuangan syariah tetap bertahan bahkan tumbuh positif," katanya dalam launching FESyar area Jawa, Senin (5/10).

Dengan segala kelebihan tersebut, ia berharap ekonomi syariah mampu dan hadir menawarkan solusi yang sifatnya ahead the curve. Artinya, ekonomi syariah bisa mendahului tren ekonomi dan membawa solusi untuk mengatasi masa sulit seperti saat ini.

Baca Juga

Ia mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III masih akan kontraksi meski nilainya lebih baik dari kuartal II. Ini seiring dengan arah perbaikan ekonomi global dan dampak dari stimulus fiskal yang sudah diluncurkan.

Untuk mendorong ekonomi syariah, setidaknya ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi bersama. Bagi pelaku usaha, ada tantangan permodalan, perluasan jangkauan pasar, akses pembiayaan. Selain itu adalah percepatan perkembangan inovasi.

Untuk bisa ahead the curve, produk syariah perlu lebih variatif. Selain itu kualitas sumber daya manusia juga masih perlu ditingkatkan karena pengelolaan lembaga industri keuangan syariah perlu sangat profesional.

"Ini terkait dengan dana umat yang sangat besar sehingga perlu SDM yang mampu dalam pengelolaan," katanya. 

Selain itu, pengembangan infrastruktur yang masih terbatas juga jadi tantangan. Padahal era teknologi sudah berkembang sehingga industri ekonomi syariah pun tidak boleh ketinggalan. Digitalisasi adalah senjata untuk membuat industri bertahan.

Dody menambahkan, BI dalam bauran kebijakannya tidak hanya menjaga stabilitas tapi juga mendorong momentum kerja sama semua pihak. Baik itu para pelaku usaha, hingga regulator, dalam merumuskan kajian, kebijakan, hingga implementasi di lapangan agar tetap komitmen dan konsisten. 

BACA JUGA: PLN: Pakai Kompor Induksi Bisa Hemat Rp 50 Ribu Per Bulan

BACA JUGA: Arab Saudi Larang Warga Rusia, Amerika, dan Inggris Umroh, Mengapa?

 

widget->kurs();?>