Kamis 05 Nov 2020 20:52 WIB

Prancis akan Kirim Utusan ke Negara Muslim

Gerakan anti-Prancis di negara-negara Muslim terus terjadi.

Rep: Lintar Satria/ Red: Elba Damhuri
Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat melakukan longmars saat Aksi Bela Islam 411 di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu (4/11). Dalam aksinya mereka mengecam dan memprotes pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW serta menyerukan untuk memboikot produk-produk Prancis. Foto: Abdan Syakura/Republika
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat melakukan longmars saat Aksi Bela Islam 411 di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu (4/11). Dalam aksinya mereka mengecam dan memprotes pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW serta menyerukan untuk memboikot produk-produk Prancis. Foto: Abdan Syakura/Republika

IHRAM.CO.ID, PARIS -- Gerakan anti-Prancis di negara-negara Muslim terus terjadi. Seruan aksi boikot produk-produk Prancis pun semakin kuat bergema. 

Pemerintah Prancis pun mempertimbangkan menunjuk utusan khusus untuk menjelaskan gagasan Presiden Emmanuel Macron mengenai sekularisme dan kebebasan berekspresi pada negara Muslim. Langkah yang diambil demi memadamkan gerakan anti-Prancis di negara-negara Islam.

Baca Juga

Sentimen anti-Prancis berpotensi memperdalam konflik antara Macron dan Turki. Paris dan Ankara sudah bersitegang atas Libya dan eksplorasi minyak dan gas di timur Mediterania.

Macron sudah menggelar satu wawancara panjang dengan Aljazirah untuk menjelaskan maksudnya. Tapi sejuh ini ia hanya mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash.

Pada Kamis (5/11), the Guardian, melaporkan Macron sudah berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Palestina Mahmood Abbas. Macron ingin menjelaskan ia membedakan antara terorisme dan ekstremisme dengan Islam dan pemikiran Islam.

Banyak pemimpin-pemimpin negara Arab mengecam serangan-serangan ekstremis di Prancis. Seperti pembunuhan guru sekolah menengah pertama Samuel Paty pada 16 Oktober lalu, penyerangan di Nice yang menewaskan tiga orang dan serangan di Wina, Austria.

Namun mereka juga mengkritik sikap Macron dalam kebebasan berekspresi. Selain ini ada kekhawatiran media-media Turki dan Qatar memuat opini yang mengklaim hak muslim di Prancis ditekan.

Media Iran telah memojokkan Macron dengan menggambarkan sebagai orang jahat. Gambar foto Macron juga dibakar 50 ribu pengunjuk rasa di Bangladesh yang turun ke jalan menuntut boikot produk Prancis. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia.

"Tolak semua upaya mengaitkan Islam dengan terorisme dan mengecam kartun Nabi," kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyatan mereka. 

BACA JUGA: Nevada Tangguhkan Penghitungan Suara Pilpres AS, Ada Apa?

sumber : Republika.co.id
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement