Benarkah Umat Islam dan Masjid Makin Banyak di Prancis?

Rabu , 11 Nov 2020, 10:46 WIB Reporter :Muhyidin/ Redaktur : Elba Damhuri
Tulisan Ramadan Kareem terpasang di toko kue Aljazair disaat sebelum waktu berbuka puasa di pasar Arab daerah Porte de Montreuil di Paris, Prancis, Ahad (26/4). Mayoritas penduduk di sekitar daerah Porte de Montreuil, Paris adalah Muslim Arab dari Utara Afrika, Muslim di seluruh Prancis pada tahun ini tidak dapat mengikuti kegiatan berdoa dan beribadah bersama akibat ditutupnya masjid karena pandemi COVID-19
Tulisan Ramadan Kareem terpasang di toko kue Aljazair disaat sebelum waktu berbuka puasa di pasar Arab daerah Porte de Montreuil di Paris, Prancis, Ahad (26/4). Mayoritas penduduk di sekitar daerah Porte de Montreuil, Paris adalah Muslim Arab dari Utara Afrika, Muslim di seluruh Prancis pada tahun ini tidak dapat mengikuti kegiatan berdoa dan beribadah bersama akibat ditutupnya masjid karena pandemi COVID-19

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Alumni Universite de Paris VIII, Prancis, Muhammad Al Fayyadl atau Gus Fayyadl, menjelaskan gambaran umum tentang kehidupan umat beragama di Prancis, khususnya fakta sejarah kehidupan umat Islam. 

Menurut dia, pertumbuhan umat Islam dan tempat ibadah umat Islam di Prancis sudah jauh lebih meningkat. Pria yang pernah kuliah selama dua tahun di Prancis ini mengungkapkan bahwa ada sekitar 48 persen warga Prancis yang mengaku sebagai Katolik. 

Namun, menurut dia, yang terbanyak menganut agnostik atau ateis. Sedangkan umat Islam menjadi agama kedua terbesar di Prancis dan semakin banyak memiliki tempat ibadah.  

“Kira-kira sekarang ada perkembangan luar biasa dari tempat ibadah umat Islam, masjid atau mushala itu mencapai 2.449 tempat ibadah. Ini saya kira luar biasa karena ini baru data 2010. Kalau hari ini 2020 sudah jauh meningkat,” ujarnya dalam webinar bertema “Emmanuel Macron dan Islam di Prancis, Polemik Hingga Pandangan Fiqih Aqalliyat, Ahad (8/11) malam.

Baca Juga

Menurut dia, memang tidak ada statistik resmi terkait jumlah penganut agama Islam di Prancis. Namun, berdasarkan statistik dari lembaga penilitian swasta menyebutkan bahwa kurang lebih ada 4 juta sampai 10 juta umat Islam di Prancis, sedangkan jumlah mualaf berjumlah 70 ribu sampai 110 ribu mualaf. “Kemudian jumlah muallaf juga cukup banyak bisa sampai 100 ribu lebih,” ucap Intelektual muda NU ini.

Melihat dari sejarahnya sendiri, Gus Fayyadl mengungkapkan bahwa dakwah Islam di Prancis dimulai dari Korsika sekitar 704 Masehi oleh penaklukan tentara Muslim di Andalusia. Kemudian, terjadi imigrasi kaum muslimin ke Prancis pada 1600 M dari tanah Andalusia dan Maghrib-Afrika Utara.

“Dakwah Islam dimulai dari penaklukan Andalusia sebenarnya, jadi memang ada riwayat sejarah militer juga. Tapi gelombang imigrasi berikutnya sejak 1600 M  sampai sekarang itu berlangsung damai, walaupun tentu juga penuh dengan trauma dan kekerasan karena Prancis pernah menjajah sejumlah negara di Afrika Utara, seperti Aljazair, Sudan dan Mesir,” jelasnya. 

Pengajar Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo ini menambahkan, pendirian masjid di Prancis sendiri sebenarnya agak lambat. Karena, Masjid jami umat Islam di Prancis baru didirikan pada 1926. Begitu juga dengan Dewan Muslim pertama di Prancis, Conseil Francais du Cultre Musulman (CFCM) yang baru berdiri pada 2002.

“Ini atas inisiatif pemerintah Prancis saat itu. Ini (CFCM) yang menantukan kalender hari raya dan kebijakan umat Islam secara umum di sana. Dan mayoritas mazhab di sana Sunni-Maliki,” kata Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.