Pasutri Nekad Bermotor 13 Ribu Km demi Ikut MTQ di Padang

Jumat , 20 Nov 2020, 04:55 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Kafilah Kalimantan Utara Nining R Rusdin Wakiden (29 tahun) mengendarai motor dari Kota Palu menuju Kota Padang. Ia melakukan perjalanan bersama suaminya Hasan CL Bunyu (42).
Kafilah Kalimantan Utara Nining R Rusdin Wakiden (29 tahun) mengendarai motor dari Kota Palu menuju Kota Padang. Ia melakukan perjalanan bersama suaminya Hasan CL Bunyu (42).

IHRAM.CO.ID, PADANG -- Hanya berbekal keyakinan kuat serta tekad membara Nining R Rusdin Wakiden bersama suami Hasan Cl Bunyu dapat menjejakkan kaki di Padang, Sumatra Barat, untuk mengikuti MTQ Nasional ke-28 mewakili Kalimantan Utara.

 

Terkait

Usai Nining ditetapkan sebagai kafilah MTQ Nasional dari Kalimantan Utara, mereka memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pasangan suami istri itu nekad menempuh perjalanan dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sejauh 13 ribu kilometer selama 16 hari.

Baca Juga

Nining bersama Hasan hanya membawa bekal pas-pasan untuk makan dan beli BBM di perjalanan. Keduanya berangkat pada 28 Oktober 2020 dan berdasarkan hitungan, mereka hanya akan cukup hingga Yogyakarta.

Namun, dengan keyakinan dan izin Allah mereka tak menyangka bisa sampai ke Ranah Minang pada 13 November 2020 setelah menyeberang empat pulau besar di Tanah Air yaitu Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatra. Nining merupakan kafilah MTQ dari Kalimantan Utara pada cabang kaligrafi. Sementara Hasan sehari-hari berprofesi sebagai guru agama Islam.

Mereka berdua memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor dengan alasan mencegah penularan Covid-19. Pada 2018, Nining juga mewakili Kalimantan Utara mengikuti MTQ Nasional di Medan, Sumatera Utara. Saat itu karena belum ada Covid-19 ia berangkat bersama rombongan menggunakan pesawat udara.

Namun, karena saat ini sedang pandemi dan kampung tempat berdomisili di Parigi Moutong masih hijau ia memutuskan menggunakan sepeda motor.

"Hampir setiap yang bepergian dengan pesawat udara di kampung kami dikarantina dan dikucilkan masyarakat hingga satu bulan karena khawatir Covid-19, kami akhirnya memutuskan supaya lebih aman pakai motor saja," kata dia menceritakan kisahnya.