19 Rabiul Akhir 1442

Pengacara FPI: Baliho Habib Rizieq Inisiatif Warga

Sabtu , 21 Nov 2020, 17:47 WIB Reporter :Bambang Noroyono/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Prajurit TNI menertibkan spanduk tidak berizin saat patroli keamanan di Petamburan, Jakarta, Jumat (20/11/2020). Sebanyak 500 personel gabungan dari TNI dikerahkan untuk menertibkan spanduk ataupun baliho yang tidak memiliki izin di wilayah yang berada di bawah pengamanan Kodam Jaya/Jayakarta.
Prajurit TNI menertibkan spanduk tidak berizin saat patroli keamanan di Petamburan, Jakarta, Jumat (20/11/2020). Sebanyak 500 personel gabungan dari TNI dikerahkan untuk menertibkan spanduk ataupun baliho yang tidak memiliki izin di wilayah yang berada di bawah pengamanan Kodam Jaya/Jayakarta.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Front Pembela Islam (FPI) tak memerintahkan pemasangan baliho-baliho Imam Besar Habib Rizieq Shibab. Kuasa Dewan Pengurus Pusat (DPP) FPI Aziz Yanuar mengatakan, poster-poster jalanan yang menampilkan sosok pembesarnya itu, adalah inisiatif warga. Sebab itu menurutnya, wajar jika penurunan spanduk-spanduk oleh Tentara Nasional Indoensia (TNI) tersebut, sempat mendapat penolakan dari warga.

Dikatakan Aziz, karena pemasangan alat-alat peraga tersebut tanpa instruksi. DPP FPI, pun memastikan tak bisa berinisiatif meminta setiap warga menurunkan ribuan baliho Habib Rizieq Shihab.

“FPI tidak memerintahkan (pemasangan baliho-baliho). Nggak bisa juga kita meminta masyarakat untuk menurunkannya. Ya, itu terserah masyarakat saja. Karena itu inisiatif dari masyarakat,” kata Aziz, saat dihubungi, Sabtu (21/11).

Menurut Aziz, baliho-baliho yang didirikan masyarakat itu, tak bersifat komersialisasi. Sebab itu, kata dia, patut dikoreksi jika alasan pembongkaran poster-poster Habib Rizieq Shihab tersebut karena tak menjadi objek pajak, dan dinyatakan melanggar aturan. Meskipun  begitu Aziz mengakui penurunan tersebut menjadi hak pemerintah daerah (Pemda). Akan tetapi, pelibatan satuan tempur TNI, dinilai sangat berlebihan.

“Kita melihatnya (pelibatan TNI) itu sangat berlebihan. Sederhana saja, kenapa yang harus menurunkan, itu TNI, yang itu bukan tugasnya ngurusin baliho-baliho,” terang Aziz.

Pelibatan satuan tempur TNI tersebut, pun diyakini Aziz membuat masyarakat jeri. “Yang kita pertanyakan itu, kok sampai sebegitunya. Kita minta, janganlah itu (pelibatan TNI), hanya atas dasar unsur-unsur kebencian terhadap HRS (Habib Rizieq Shihab),” terang Aziz.

Pelibatan TNI dalam pembongkaran paksa baliho-baliho Habib Rizieq Shihab, terjadi sejak Kamis (19/11) malam di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Pada Jumat (20/11), bahkan satuan elite tempur Koopsus TNI menerjunkan serdadu ‘perang’, lengkap dengan senjata, dan kendaraan tempur untuk melintas, dan berpatroli di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat (Jakpus) yang menjadi wilayah markas utama FPI. 

Alat-alat peraga tersebut, pun tak lagi tampak di sepanjang jalan KS Tubun. Namun, pantauan Republika di wilayah dalam Jalan Petamburan, dan Petamburan III, Sabtu (21/11) siang, sejumlah baliho-baliho, dan spanduk-spanduk yang menampilkan gambar-gambar wajah Imam Besar Habib Rizieq masih terpampang beberapa.

Di gang dalam Petamburan III, poster-poster jalanan tersebut, berisikan tulisan-tulisan besar penyambutan Habib Rizieq Shihab, dan seruan-seruan Revolusi Akhlak.

Aziz mengatakan, baliho-baliho yang terpasang tersebut, kepunyaan warga setempat.

“Ya itu kan yang saya katakan tadi. Itu punya masyarakat. HRS tidak pernah memerintahkan (pemasangan) baliho-baliho itu. Karena itu punya masyarakat, biarkan masyarakat yang menurunkannya sendiri. Nggak perlulah, pakai operasi-operasi dengan menerjunkan TNI,” kata Aziz menambahkan.

Di gang dalam Petamburan III, Sabtu (21/11) sore, setelah aksi penerjunan Koopsus TNI, pada Jumat (20/11) kemarin, aktivitas warga tampak biasa saja. Kegiatan ekonomi kecil masyarakat setempat normal dengan warung-warung kopi, gorengan, dan kedai-kedai nasi pinggiran jalan. Di mulut gang, di sisi barat Petamburan III, para tukang ojek, pun para pemuda-pemuda beraktivitas wajar. 

Di jalanan padat di sisi timur Petamburan, pun warga beraktivitas seperti biasa, tanpa ada perasaan takut-takut. “Nggak ada apa-apa. Aman-aman saja kalau di sini. Nggak ada apa-apa,” kata seorang penjual kopi.

Dikatakan pedagang tersebut, meskipun kemarin (20/11) sempat merasakan cemas karena adanya TNI, tetapi menurut dia, warga sudah terbiasa dengan situasi-situasi tersebut. “Ya biasa lah, kalau di sini. Tetapi, insya Allah tetap aman, nggak ada apa-apa,” harap pedagang tersebut.

 

 

widget->kurs();?>