15 Rajab 1442

Perbincangan Budaya di Ruang Makan Hotel Jamaah Haji Khusus

Rabu , 25 Nov 2020, 21:42 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Koki menyediakan makanan di sebuah Hotel Makkah.
Foto : Pinterst.com
Koki menyediakan makanan di sebuah Hotel Makkah.

Di tengah keasyikan kami menyantap makanan yang ada di depan kami,sepasang suami isteri yang lebih muda dari kami, masing-masing membawa piring dan segelas kecil jus mendekati meja kami.

 

‘’ Boleh kami duduk disini ?’’

 

‘’Silahkan…’’

 

Sejenak kami tak bertegur sama, kami sibuk makan. Hanya sesekali laki-lakinya melirik ke arah piring kami.

 

‘’Bapak dari mana ? ‘’ tiba-tiba si lelaki menyapaku.

 

‘’ Dari Temanggung ? ‘’ jawabku pendek.

 

‘’ Mas ?’’

 

‘’Dari Jakarta, tapi asli Bantul…’’

 

Lalu kamipun berkenalan. Ternyata lelaki itu seorang pelukis. Kebetulan, aku juga pernah belajar di Sekolah Senirupa, jurusan seni lukis, sehingga kami makin akrab ngobrol soal seni. Rupanya ia satu almamater denganku, ia adik kelas di SSRI/SMSR Yogyakarta. –maka makin serulah obrolan kami, dua siswa sekolah paling eksterik se Asia Tenggara.

 

Di tengah obrolan kami, mendadak ia bilang. ‘’Sejak tadi, saya memperhatikan bapak sama ibu, kok makannya seadanya dan piringnya bersih, tidak seperti banyak orang yang saya jumpai, selalu meninggalkan sisa makanan, padahal disini kan banyak makanan yang bisa dinikmati’’

 

‘’Sedikit saja sudah kenyang mas, dan lagi ini sudah luar biasa. Di rumah kami biasa apa adanya, di sini benar-benar luar biasa mewah dan kami merasakan bersyukur. Malah kami ndak bisa makan banyak..’’

 

Laki-laki itu tersenyum.

 

‘’Saya melihat banyak yang mengambil makanan berlebihan tapi tidak dimakan.’’

 

Aku sedikit kaget. Rupanya kami memiliki pikiran yang sama.

 

‘’Aku dan isteriku baru saja menggunjing mereka, karena kami sadar kami berhenti bergunjing..’’

 

Laki-laki itu tertawa.

 

‘’Rupanya kita punya pikiran yang sama. Tidak hanya satu atau dua orang melakukan hal itu, tapi kami melihat banyak orang melakukan itu.’’

 

Karena resto hampir tutup, dan jarum jam sudah menunjuk angka sembilan malam, setelah bertukar nomer Hp kami berpisah.

 

Seperti biasa, setiap usai makan, isteriku selalu minta aku untuk mengambilkan beberapa potong roti dan buah-buahan yang bisa dibawa. Roti dan buah yang kami ambil dari resto itu, oleh isteriku selalu di bawa ke masjid setiap hendak salat, untuk diberikan pada petugas kebersihan Masjidil Haram.