24 Ramadhan 1442

Beda Arab Saudi Dulu dan Kini Menurut Pelancong Non-Muslim 

Ahad , 06 Dec 2020, 14:17 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Arab Saudi melakukan pelonggaran aturan agama  Tempat wisata di Arab Saudi, Riyadh Boulevard.
Foto : Saudi Gazette
Arab Saudi melakukan pelonggaran aturan agama Tempat wisata di Arab Saudi, Riyadh Boulevard.

IHRAM.CO.ID, RIYADH –  Arab Saudi telah melonggarkan beberapa aturan sosial untuk menarik wisatawan. Perbedaan tersebut terlihat sangat mencolok oleh Nic Robertson yang telah mengunjungi Arab saudi sejak 20 tahun lalu.   

"Saya telah mengunjungi Arab Saudi selama hampir dua dekade dan pada saat itu saya telah mengalami beberapa hal yang luar biasa," ujarnya dilansir dari CNN, Ahad (6/12). 

Nic mengaku telah mendaki pegunungan yang sangat curam namun sangat indah di selatan Saudi. Ia juga menyelam di terumbu karang Laut Merah, mengendarai mobil reli di atas bukit pasir dan mengunjungi sumur kuno.  

Nic juga menghabiskan malam musim dingin yang membekukan di gurun, memasak makanan dengan bara api merah yang terkubur di pasir, juga pernah berjalan tanpa alas kaki di sepanjang pantai timur kerajaan di malam musim panas. 

Baca Juga

"Saya telah terbang dengan microlights yang tipis, terbang dengan tenang di atas tanah pertanian yang kaya. Saya telah mengendarai helikopter tempur taktis, menjelajahi dasar gurun dan menukik keras di sekitar bukit pasir," kata Nic.  

Namun hal itu tidak begitu mengejutkan Nic dengan pergolakan sosial Arab Saudi saat ini. Di mana pada 2018 lalu, saat berada di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, Nic melihat orang-orang dapat mengobrol di kafe luar ruangan yang hampir kosong di sore hari.  

Polisi agama, yang dulu sangat ditakuti dan dihormati, saat melakukan operasi di pinggir jalan untuk menyuruh orang-orang segera bergegas ke masjid kini banyak masyarakat yang cenderung mengabaikan.  "Sebelumnya, orang-orang akan mematuhi. Kali ini, tidak ada yang bergerak," ujarnya. 

Itu dua tahun lalu, dan hari ini, tampaknya kebebasan semakin berkembang, meskipun masih dikendalikan oleh garis tak terlihat di sebagian besar negara Teluk. 

Kafe luar ruangan di sepanjang trotoar, tampak selalu ramai dipenuhi laki-laki dan perempuan untuk bertemu, berbelanja, mengobrol, dan bersantai. Sedangkan polisi agama yang dulu kerap berkeliling, kini hanya bisa bekerja di meja tugas. 

Mounira Al-Qwait, seorang perancang busana berusia 20 tahun yang mengenakan abaya hitam tradisional yang dirancangnya sendiri, memberi tahu apa artinya ini baginya.  

"Kami lebih bersenang-senang sekarang, pergi keluar untuk nonton film, pergi keluar ke restoran dan bertemu dengan teman-teman," katanya dengan mata berbinar di atas niqab yang menutupi wajah. 

Di sampingnya seorang perempuan tanpa jilbab mengaku merasa senang dengan perubahan itu. Ia adalah Tutu, seorang guru taman kanak-kanak berusia 42 tahun. "Sekarang hidup kami sebagai orang Saudi benar-benar berubah," katanya. 

"Sebenarnya dari semua keputusan yang diambil Mohammad bin Salman. Semua orang Arab Saudi sekarang senang dengan semua perubahan ini," tambahnya.  

Nic berada di Saudi kali ini, untuk meliput KTT G20 kekuatan ekonomi global. Saudi menjadi tuan rumah dan acara digelar selama dua hari pada 21-22 November.  

Setelah acara selesai, Menteri Keuangan Saudi, Muhammed al Jadaan memberikan pujian kepada para tim mudanya yang dia sebut sebagai “Kekayaan bangsa". 

Menteri sendiri berkantor di distrik Kota Digital baru Riyadh, sebuah kompleks bangunan futuristik, dengan air mancur yang mengalir dan ruang pejalan kaki terbuka dan lapang. Ini terasa lebih seperti Dubai daripada Riyadh lama yang berdebu.  

Perubahan-perubahan sangat kontras terjadi dibandingkan Arab Saudi 20 tahun lalu. Dulu, kata Nic, perempuan bekerja di kantor berdampingan dengan laki-laki, adalah sesuatu yang ilegal hingga beberapa tahun lalu. Talia (27) adalah salah satunya.  

Talia tumbuh besar di Riyadh oleh ibu tunggal. Dia lulus dari universitas di London dan Beirut sebelum kembali pada 2017 ketika reformasi dimulai. Talia kini bekerja sebagai CEO perempuan dan tidak melihat adanya batasan terhadap apa yang bisa capai oleh seorang perempuan dalam sebuah jabatan.  

"Kami memiliki putra mahkota yang masih muda dan negara ini masih muda, seperti 70 persen populasinya berusia di bawah 30 tahun. Jadi saya merasa reformasi sedang dilakukan oleh kami untuk kami, jadi tidak mungkin kami menolak," ungkapnya.