Kelebihan antara Makkah dan Madinah

Kamis , 10 Dec 2020, 14:38 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Kelebihan antara Makkah dan Madinah (ilustrasi).
Kelebihan antara Makkah dan Madinah (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Madinah sangat identik dengan rumah kediaman Rasulullah, sedangkan Makkah dengan keberadaan Ka'bah di wilayahnya. Hal ini amatlah lumrah karena keberadaan dua simbol tersebut sangat mewakili identitas kedua kota suci tersebut.

 

Terkait

Ibnu Qayyim dalam kitabnya yang berjudul "Badai al-Fawaid" mengatakan, bahwa jawaban Ibnu Uqail al-Hanbali ketika ditanya mengenai perbandingan keistimewaan antara Hujrah dan Ka'bah adalah, "Jika yang dimaksud hanya sekedar Hujrah saja maka Ka'bah tentu lebih istimewa."

Namun, jika yang dimaksud hujroh adalah tempat kediaman Rasulullah, maka demi Allah tidak demikian pula tidak sebanding jika dibandingkan dengan Arsy dan yang menopangnya, surga Adn dan bintang-bintang yang berotasi sekalipun. Karena di dalam Hijrah tersebut terdapat jasad, di mana jika ditimbang dengan langit dan bumi, maka niscaya jasad itu akan lebih berat."

An-Nawawi berkata, "Pendapat yang terpilih adalah, bahwa langit lebih istimewa daripada bumi, tanpa jasad Rasulullah yang mulia, para ulama sepakat bahwa kota Makkah dan Madinah lebih istimewa daripada negeri-negeri lainnya. Namun, mereka berbeda pendapat dalam membandingkan keistimewaan keduanya.”

Alqurthubi mengatakan, bahwa Umar bin Khattab sebagai sahabat, dan mayoritas penduduk Madinah berpendapat bahwa kota Madinah lebih istimewa. Ini merupakan pendapat mazhab Imam Malik dan salah satu riwayat Imam Ahmad jadi perbedaannya adalah, keistimewaan yaitu dengan kecuali kan Ka'bah. Karena Ka'bah lebih istimewa daripada tempat lain yang ada di kota Madinah. Pendapat ini dikatakan oleh Ash Shalihi dalam kitab Al Madinah Al Munawaroh.

Di dalam kitab Nawadir, Tirmidzi berkata, "Aku mendengar Zubair bin Bakkar berkata," sebagian penduduk Madinah menulis sebuah buku tentang Madinah. Begitupula dengan beberapa orang penduduk Makkah menulis buku tentang kota Makkah. Masing-masing mereka menyebut kan keistimewaan daerahnya. Hingga akhirnya ada seorang penduduk Madinah yang menuliskan keistimewaan kedua daerah tersebut dalam satu buku, yang tidak ada satupun maka dapat melakukan yang sama."

Orang Madinah itu berkata, "Sungguh, setiap jiwa diciptakan dari tanah, dimana setelah wafat dia dikuburkan didalamnya. Sedangkan jiwa Rasulullah diciptakan dari tanah Madinah. Dengan demikian tanah Madinah memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan seluruh tanah bumi.” (al-Mashudi Wafa Al Wafa).

Mush'ab berkata, "Ketika Al Mahdi datang ke kota Madinah dia disambut oleh Malik dan tokoh-tokoh kota Madinah dari jarak beberapa mil. Ketika melihat Al-Mahdi menemuinya dan memeluknya. Menoleh kepada Al Mahdi dan berkata, "Wahai pemimpin Muslim sekarang engkau telah memasuki kota Madinah. Dirimu melewati kaum di sebelah kanan dan kiri. Mereka adalah putra-putra kaum Muhajirin dan Anshor. ucapkan salam kepada mereka! Sungguh, di muka bumi ini tidak ada kaum dan kota yang lebih baik dari penduduk dan kota Madinah."

"Almahdi bertanya dari mana kamu mendengar perkataan ini wahai Abu Abdullah?" 

Ia menjawab. "Karena tidak ada makam seorang nabi pun yang diketahui tempatnya di muka bumi ini selain maka Nabi Muhammad.  Jadi, siapa saja yang di tempat oleh makam Nabi Muhammad, maka keistimewaan mereka harus diakui dari yang lainnya." Lalu, al-Mahdi pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya itu. 

Ash-Shalihi asy-Syami berkata setelah menyebutkan kisah tersebut dalam kitabnya itu. "Pada kisah ini terdapat isyarat mengenai keistimewaan orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah."

Rasulullah pernah bersabda, "Jibril terus mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga akan menerima warisan."(HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini tidak mengkhususkan satu tetangga atas tangga lainnya.

Sumber.  Abu Thalhah Muhammad Yunus Abdussttar dalal kitabnya "Kaifa Tastafidumi min al-Haramain asy-Syarifain Ayyuha az-Zair wa al-Muqim Ahwal an-Nabi fi al-Hajj" Dan judul aslinya itu dialih bahasakan menjadi  "Haji, Jalan-jalan atau ibadah" oleh Nashirul Haq.Lc dan Fatkhurozi Lc.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini