Sabtu 12 Dec 2020 10:33 WIB

Hubungan Ekonomi Prancis yang tak Adil dengan Afrika

Benarkah Prancis seideal anggapan Emmanuel Macron?

Benua Afrika.
Foto: Anadolu Agency
Benua Afrika.

IHRAM.CO.ID, -- Hubungan Prancis dengan umat Islam memang tengah bermasalah. Ini terkait dengan pernyataan Presiden Emmanuel Macron ketika memberikan pernyataan soal aksi teror berupa pemenggalan kepala seroang guru di Prancis karena di depan kelas menunjukan gambar kartun Nabu Muhammad.

Karena kesal dan tahu akan tindakan guru tersebut, seorang pendatang asal Afghanistan membunuhnya dengan cara memenggal kepalanya. Dunia pun geram. Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian memberikan pernyataan yang tendensius seolah-olah ajaran Islam tak sesuai dengan modernitas dan kekebasan di alam demokrasi.

Maka dunia Islam pun geram kepadanya dan warga di berbagai negara membalasnya dengan seruan aksi boikot komoditi dari negara Prancis.

Melihat itu semua, Muslim pun kemudian berusaha mencari tahu apakah selama ini Prancis seidel yang dicitrakan Macron. Mereka kemudian membuka kenyataan pahit bahwa akar di bawah aksi dan kebencian terhadap Muslim di Prancis juga terkait dengan sikap kolonialis Prancis di masa lalu. Di banyak belahan dunia, terutama Afrika, Prancis tercatat juga sebagai penjajah kejam yang tal hanya haus darah namun juga melakukan penghisapan ekonomi secara habis-habisan.

Berikut ini kami muat opini tulisan Mohamed Badine El Yattioui. Dia adalah seorang profesor di Departemen Hubungan Internasional Universitas Amerika Puebla (Meksiko). Artikel ini ada pada laman kantor berita Turki, Anadolu Agency. Isinya demikian:

-------------

Selama beberapa dekade, telah terjadi perdebatan seputar hubungan ekonomi antara Prancis dan negara-negara bekas koloninya di Afrika.

Sampai saat ini Presiden Prancis Emmanuel Macron belum berminat untuk mengakhiri hubungan yang tidak setara dan tidak adil karena negaranya terus mengontrol perdagangan dan mata uang bekas jajahan tersebut.

Pemeliharaan Prancis atas dominasi ekonominya memungkinkannya memperpanjang dominasi politik. Dan perdagangan adalah salah satu penyebab terjadinya penjajahan Prancis di kawasan Afrika.

Di kawasan Arab Maghrib, pelabuhan Tunis dan Aljazair penting untuk melakukan transit dan keduanya sudah ada sejak era Ottoman.

Namun, kolonisasi Prancis menciptakan sejumlah pelabuhan, yang paling terkenal adalah Casablanca di Maroko, yang pembangunannya didorong oleh kamar dagang Prancis untuk meningkatkan volume perdagangan.

Pada awal abad ke-19, Afrika sub-Sahara masih diisolasi oleh penghalang alami seperti Gurun Sahara dan lautan.

Komunikasi sulit dilakukan di luar jalur karavan dan sungai. Untuk itu, kantor Prancis di Saint Louis dan Goree di Senegal sangat penting artinya bagi perdagangan Prancis saat itu.

Berakhirnya perdagangan budak memberi jalan pada perdagangan bahan mentah seperti kacang tanah, minyak sawit, kayu, permen karet, kop, dan bahan berharga dari Afrika oleh bangsa Eropa.

Keinginan untuk mengontrol perdagangan internasional juga mencakup penguasaan jalur laut antara Afrika dan Asia.

Penjajahan terhadap Djibouti pada akhir abad ke-19 adalah taktik Inggris untuk menguasai Terusan Suez pada 1869.

Awal abad ke-20, dunia menyaksikan pembangunan jalur kereta api dari Dakar ibu kota Senegal ke Sudan dan kemudian ke Guinea, Pantai Gading dan Dahomey, yang sekarang menjadi Benin dan Togo.

Penulis Andre Gide dalam bukunya Voyage au Congo telah mendokumentasikan pelanggaran yang dilakukan oleh Prancis di Kongo saat membangun situs kereta api Kongo-Ocean pada 1927.

Buku tersebut merupakan dakwaan terhadap perlakuan tidak layak perusahaan komersial terhadap penduduk lokal.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement