Kemenag Catat 659 Jamaah Ikut Umroh di Masa Pandemi

Senin , 14 Dec 2020, 20:18 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Kemenag Catat 659 Jamaah Ikut Umroh di Masa Pandemi (ilustrasi)
Kemenag Catat 659 Jamaah Ikut Umroh di Masa Pandemi (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) memastikan umrah di masa pandemi masih dijalankan jamaah asal Indonesia. Beberapa penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) yang memiliki jamaah terus memberangkatkan dengan tetap mamatuhi protokol kesehatan.

 

Terkait

"Masih. Hari ini ada 35 orang berangkat," kata Kepala Subdit Pemantauan dan Pengawasan Ibadah Umrah dan Ibadah Haji Khusus Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kemenag, Nur Alya Fitra, saat dihubungi, Senin (14/12).

Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kemenag, sudah ada 659 jamaah yang melakukan umrah di masa pandemi. Jumlah tersebut akan terus bertambah jika Saudi masih membolehkan jamaah asing umrah.

Alya memastikan KMA No 719 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Ibadah Umrah pada Masa Pandemi Covid-19, tetap berlaku. Di dalam KMA itu juga ada kewajiban jamaah umrah karantina setelah tiba di Tanah Air dan karantina bisa dihotel atau di asrama. 

Saat ditanya, apakah jamaah umrah sudah menjalankan karantina di asrama haji yang ada di setiap daerah, Alya mengaku memang tidak ada PPIU yang karantina jamaahnya di asrama. Karena memang bunyi KMA karantina itu bisa di hotel atau di asrama. "Itukan diatur sama PPIU. Jadi bunyi KMA nya karantina di hotel atau di asrama," katanya.

Saat ini Kemenag tengah membangun asrama haji di Indramayu. Dimulai sejak Agustus 2020, tahap 1 pembangunan asrama haji bagi jamaah yang akan berangkat melalui Bandara Kertajati ini ditargetkan selesai akhir tahun. 

Hal ini disampaikan Plt Dirjen Penyelenggaran Haji dan Umrah Oman Fathurahman saat meninjau pembangunan asrama haji di Indramayu, Minggu (13/12). Pembangunan asrama haji Indramayu ini menggunakan skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). "Saya melihat progres pembangunan asrama haji Indramayu sangat cepat dan baik, sehingga bisa menjadi teladan bagi proyek SBSN lainnya" terang Oman. 

"Diharapkan pembangunan tahap 1 ini selesai akhir tahun, sebelum 31 Desember 2020," lanjutnya. 

Meski progresnya positif, Oman minta pelaksana pembangunan untuk memitigasi setiap potensi yang bisa menjadi kendala dan persoalan, sehingga, bisa dilakukan antisipasi sejak dini. "Jika muncul masalah, semua siap mengatasi," pesannya. 

Oman Fathurahman berharap, pembangunan Asrama Haji Indramayu juga bisa bermanfaat atau berdampak positif terhadap masyarakat setempat. Manfaat ini bisa secara spiritual, ekonomi, sosial, atau lainnya. 

"Kami berharap masyarakat merasa nyaman dengan adanya asrama haji, ekonomi tumbuh, dan masyarakat bisa merasakan manfaat lainnya," harap Oman. 

Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan bahwa asrama haji Indramayu diproyeksikan memiliki semacam museum haji yang berciri khas Indonesia. "Asrama haji ini bisa sekaligus menjadi pusat edukasi yang menampilkan sejarah Muslim Nusantara naik haji. Jadi, visual dan nuansanya memadukan antara haji sebagai ritual ajaran Islam dengan haji sebagai peradaban dan pengalaman spiritual," ujarnya. 

Dengan begitu, lanjut Oman, ketika  memasuki asrama haji ini, jemaah akan merasa seperti di rumah sendiri. Terkait pengelolaan, Oman minta asrama haji tidak dikelola secara konvensional. Untuk itu diperlukan inovasi. Oman mengingatkan bahwa zaman sudah berubah, pelayanan asrama haji perlu branding yang baik sejak awal. 

"Zaman sekarang itu the man is no longer the main, cara yang dulu dianggap biasa, sudah tidak memadai. Perlu pendekatan yang  out of the box dalam mensosialisasikan keberadaan dan layanan asrama haji," ujarnya. 

Terakhir, sesuai arahan Menteri Agama Fachrul Razi, Oman minta agar kelak asrama haji bisa dimanfaatkan secara luas, termasuk dalam upaya mendorong pencapaian misi Kementerian Agama, menjaga kerukunan di wilayah setempat.