5 Syawwal 1442

Etika Ziarah dan Bershalawat kepada Rasulullah di Madinah

Rabu , 16 Dec 2020, 09:22 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Etika Ziarah dan Bershalawat kepada Rasulullah di Madinah. Makam Rasulullah.   (Republika/Agung Sasongko)
Etika Ziarah dan Bershalawat kepada Rasulullah di Madinah. Makam Rasulullah. (Republika/Agung Sasongko)

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Menjadi suatu keistimewaan dan mulianya suatu umat dapat menyaksikan langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW hidup sehari-harinya yang penuh keramahan dan ketaatan kepada Allah SWT. Umat Nabi Muhammad saat ini juga pasti mulia jika mengikuti sunnah nya, salah satunya dengan berziarah dan bershalawat kepadanya.

Abu Thalhah Muhammad Yunus Abdussttar dalam kitabnya "Kaifa Tastafidumi min al-Haramain asy-Syarifain Ayyuha az-Zair wa al-Muqim Ahwal an-Nabi fi al-Hajj" berziarah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ada etikanya.

Katanya Ibnu Wahhab meriwayatkan dari Malik, "Jika mengucapkan salam kepada Rasulullah hadapkanlah wajahnya ke arah lantai tanah, bukan ke arah kiblat. Dia juga akan mendekat, berdoa dan tidak menyentuh kuburan itu dengan tangannya."

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para imam membolehkan untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah ketika menziarahi beliau dan kedua sahabat beliau. Sesuai dengan riwayat Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. 

"Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku ke dalam jasadku hingga aku dapat menjawab salamnya itu."

Ibnu Taimiyah berkata, "Para sahabat seperti Ibnu Umar, Annas, dan yang lainnya mengucapkan salam kepada Rasulullah dan kepada kedua sahabat Beliau." 

Al-Khafaji berkata bahwa as-Subki berkata, "Sahabat sahabat kami mengatakan secara gamblang, bahwasanya termasuk perbuatan yang disukai adalah mendatangi kuburan, menghadap ke arah kuburan membelakangi kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada Rasulullah dan dua orang sahabat beliau. Setelah itu kembali ke tempat dia berdiri pertama kali lalu berdiri dan berdoa."

An-nawawi berkata jika jamaah haji dan umroh telah bertolak dari Makkah, maka hendaklah mereka menuju kota Rasulullah untuk menjahit tanah beliau. "Sesungguhnya menziarahi beliau adalah salah satu cara terpenting untuk mendekatkan diri kepada Allah dan termasuk amal yang terbaik."

Syekh athiyah Muhammad Salim berkata, "semua orang, baik yang mukim atau pendatang, jika di hadapan makam Rasulullah ketika hendak melaksanakan salat atau ketika keluar dari masjid, jika melewati makam Rasulullah hendaknya dia mengucapkan salam meskipun dia tidak berdiri berhadapan dengan makam tersebut."

Teladan dari sikap ini adalah Ibnu Umar. Jika dia hendak melakukan perjalanan atau datang dari perjalanan, dia akan berdiri di hadapan makam Rasulullah dan mengucapkan salam kepadanya. Demikian pula diriwayatkan yang dinukil dari Malik. Dia pernah ditanya mengenai orang yang melewati makam Rasulullah.

"Menurutmu apakah orang itu harus mengucapkan salam setiap kali melewatinya?" Dia menjawab, "Ya hendaknya orang itu mengucapkan salam setiap kali melewati makam Rasulullah."

Orang-orang banyak yang melakukan hal seperti itu. "Jika tidak melewatinya, maka aku kira tidak perlu mengucapkan salam." 

Mengenai firman Allah sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Ibnu Taimiyah memberikan komentar bahwa jika dalam mengucapkan salam mengatakan, "Kesejahteraan semoga terlimpah atas dirimu wahai Rasulullah, utusan Allah sebaik-baik makhluk Allah, wahai makhluk termulia di sisi Tuhannya, wahai pemimpin orang-orang yang bertakwa. Demi ayah dan ibuku, itu semua merupakan sifat-sifat Rasulullah."

Demikian pula halnya jika bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Hal tersebut merupakan perintah Allah.

 

widget->kurs();?>