15 Rajab 1442

Mengenal Kairo, Kota yang Identik dengan Orang Mati

Rabu , 23 Dec 2020, 09:12 WIB Reporter :Imas Damayanti/ Redaktur : Esthi Maharani
 Suasana kota mati atau bangunan kuburan yang terletak di Kota Kairo, Mesir, Selasa (9/9).  (Republika/Agung Supriyanto)
Suasana kota mati atau bangunan kuburan yang terletak di Kota Kairo, Mesir, Selasa (9/9). (Republika/Agung Supriyanto)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Tak sedikit ilmuwan Muslim maupun orientalis yang menuliskan sejarah mengenai Kota Kairo. Kota yang menjadi saksi panjang sejumlah peristiwa ini memiliki keistimewaan kisah tersendiri, salah satunya julukan yang dilabelkan orientalis sebagai kota mati atau kota yang identik dengan orang mati.

Dalam buku Kairo Kota Kemenangan karya Max Rodenbeck dijelaskan, Kota Kairo menarik bagi banyak sejarawan dunia. Ibnu Batutah bahkan memiliki ketertarikan besar dengan kota ini jika dibandingkan kota lainnya dalam perjalanan panjang yang pernah ia lakukan. Meski demikian, Ibnu Batutah sama sekali tidak menuliskan satu pun tentang patung-patung (berhala) maupun piramida dari tulisannya di buku setebal 2.000 halaman soal perjalanan panjang yang ia lakukan.

Kairo demikian istimewanya bagi para sejarawan setidaknya membuka banyak perspektif bagi masyarakat dunia. Misalnya disebutkan bahwa satu setengah kilometer dari Kairo ada sebuah kota yang tidak dilindungi Benteng, wilayah itu sama besarnya seperti Venesia dan memiliki bangunan tinggi serta pendek.

Setiap kaum Saracen dan warga memiliki sebuah bangunan di kota ini, mereka menguburkan mayat di bangunan pendek. Sedangkan di bangunan tinggi para tuan tanah yang memilikinya menyumbangkan sedekah kepada fakir miskin setiap Jumat.

Dalam gambaran mengenai Kairo, Ibnu Batutah bahkan banyak memaparkan mengenai makam-makam terkenal yang ia kunjungi. Ibnu Batutah banyak merekomendasikan tempat makam terkenal yang perlu dikunjungi, yakni makam Pemegang Jubah Rasulullah, pengukir mimbar Rasulullah, pembuat perhiasan dan pemegang panji Rasulullah, serta salah satu saudara sepersusuan Nabi, hingga jejak kaki Nabi Musa yang diawetkan.

Menurut pencatat sejarah abad pertengahan paling terkenal di Kairo, Taqi Ad-Din (1364-1442), pemakaman di zamannya merupakan tempat tetirah paling populer di Mesir. Maka sudah jelas bahwa kekaguman warga Kairo dengan orang mati, entah bagaimana, terkadang melebihi yang seharusnya.

Misalnya, kebangkitan pembangunan makam yang spektakuler pernah terjadi setelah kedatangan Islam pada 640 Masehi. Dan sebagaimana monumen pemakaman di Saqqara dan Giza yang mencatat inkarnasi kota dalam bangunan batunya, makam para wali, penguasa, dan tokoh masyarakat pada zaman Muslim pun menggambarkan keberhasilan mereka hingga zaman sekarang.

Kairo yang identik sebagai kota dengan orang mati dapat terlihat salah satunya dari pemakaman kuno Memphis. Pemakaman Memphis yang terhampar ke utara dan selatan sejauh delapan kilometer terletak di sepanjang kaki tebing Muqattam. Makam terbesarnya diberi kubah, bukan dalam bentuk piramida.

Konturnya lebih padat dan demokratis ketimbang menyembah berhala yang mendahuluinya dan sangat hidup. Kota orang mati ini pun memaparkan sejarah serupa, yakni aspek rohani dan aspek duniawi. Jika pengunjung berjalan ke hulu dan menjauh dari kota dan lebih ke dalam pemakaman, hiruk pikuk suara binatang dari pasar binatang yang tak jauh darinya memudar hilang.

Yang terlihat hanya jalanan lurus dan diapit tembok bangunan pemakaman keluarga. Di bekalang gerbang besi tampak bangunan mirip rumah satu lantai, di sana sini tampak kubah yang mendandakan makam orang penting seperti penyanyi abad ke-20 Ummu Kulsum atau orang penting lainnya yakni Dhu’l Nun Al-Misri. Adapun makam yang lebih tua terbuat dari batu, sedangkan makam yang lebih baru terbuat dari batu bata merah yang menunjukkan kepedulian untuk kualitas yang hanya digunakan orang kaya Kairo di rumahnya.

 

widget->kurs();?>