Jumat 15 Jan 2021 17:25 WIB

Akibat tak Disiplin, Dradjad: Pandemi, Resesi, Utang Nambah

Banyak persoalan akibat tidak disiplin tindakan kesehatan.

Ekonom Indef Dradjad Wibowo
Foto: istimewa/doc pribadi
Ekonom Indef Dradjad Wibowo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Indef Dradjad Wibowo menyebut, akibat tidak disiplin dalam tindakan kesehatan maka pandemi Covid-19 di Indonesia tidak juga selesai, resesi ekonomi terjadi, dan utang luar negeri bertambah.

Dradjad mengatakan, banyak hal yang perlu diwaspadai dari statistik utang luar negeri (ULN) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI). "Tapi saya akan fokus ke efektivitas utang luar negeri dalam mengendalikan pandemi dan memulihkan ekonomi,” kata Dradjad menjawab pertanyaan Republika.co.id, Jumat (14/1).

Dijelaskannya, hanya dalam waktu empat bulan selama April-Juli 2020, untuk membiayai APBN 2020 dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) selama pandemi Covid-19, Kemenkeu menerbitkan 11 surat berharga negara (SBN) internasional. Total nilainya mencapai 7 miliar dan 2 juta dolar US atau USD 7.002 juta. "Dalam rupiah sedikit di atas Rp 98 triliun,” jelasnya.

Di sisi lain, posisi ULN pemerintah per November 2020 naik sebesar USD 22.74 miliar atau sekitar Rp 318 triliun jika dibandingkan posisi Maret 2020 pada saat Indonesia resmi mengonfirmasi kasus Covid-19. Posisi yang melonjak ini, kata Dradjad, lebih disebabkan oleh kembalinya asing memegang SBN Indonesia. Secara netto, jika dibandingkan dengan Januari/Februari 2020, posisi asing di SBN relatif sedikit turun.

Justru yang menarik, kata politikus PAN ini, ULN dari kreditor pemerintah dan lembaga internasional naik sekitar USD 3 miliar selama bulan-bulan tersebut. "Pertanyaannya, efektifkah tambahan ULN mengatasi pandemi dan memulihkan ekonomi?” ungkap Dradjad.

Jika dibandingkan dengan Vietnam dan Taiwan, menurut Dradjad, Indonesia tidak disiplin menjalankan tindakan kesehatan publik. Penyebabnya, karena khawatir ekonomi terpuruk.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi -5,32% di kuartal II/2020 dan -3,49% di kuartal III/2020. "Kita terkena resesi,” kata Ketua Dewan Pakar PAN ini.

Sementara, Vietnam tumbuh positif terus selama tiga kuartal 2020, yaitu 3,82%, 0,39% dan 2,62%. Taiwan tumbuh negatif di kuartal II/2020, yaitu -0,58%. Tapi di kuartal III, Taiwan sudah pulih, tumbuh 1,59%.

Dalam hal pandemi Covid-19, hingga 6 Desember 2020, jumlah kasus di Vietnam hanya 1.365, Taiwan 693. Jika dihitung per 100 ribu penduduk, jumlah kasus di Indonesia itu 72-149 kali lipat Vietnam dan Taiwan. Jumlah yang meninggal per 100 ribu penduduk di Indonesia 161-214 kali lipat di dua negara tersebut.

"Artinya apa? Karena pemerintah dan rakyat disiplin menjalankan tindakan kesehatan publik, Vietnam dan Taiwan berhasil mengendalikan pandemi dan sekaligus memulihkan ekonomi,” papar Dradjad.

Sebaliknya Indonesia, harus diakui, pemerintah dan rakyat tidak disiplin dengan tindakan kesehatan publik. Akibatnya, kata Dradjad, pandemi belum terkendali, ekonomi malah resesi. Sementara, utang luar negeri pemerintah bertambah banyak.

"Bahasa gampangnya, sudah pandemi, kena resesi, utang nambah pula. Itu semua karena kita tidak disiplin,” ungkap Dradjad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement