Pemimpin Gereja Eropa Timur Melarang Vaksin Covid

Kamis , 21 Jan 2021, 06:05 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Teodosie Petrescu dalam sebuah acara keagamaan.
Teodosie Petrescu dalam sebuah acara keagamaan.

IHRAM.CO.ID,  EROPA -- Para pemimpin gereja di Eropa timur melarang vaksinasi karena alasan agama. Tokoh gereja terkemuka di Rumania, Yunani, dan Polandia telah meminta orang-orang untuk menolak vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang dianggap berasal dari sel-sel janin yang diaborsi.

 

Terkait

Tuduhan tidak berdasar telah dibuat oleh apa yang disebut gerakan "anti-vax", meskipun belum diketahui berapa banyak orang yang menolak vaksin tersebut.

Pada saat sebagian besar orang Eropa sangat ingin mendapatkan vaksinasi untuk melindungi mereka dari virus mematikan, seorang pemimpin Gereja Ortodoks Rumania meminta para pengikutnya untuk mengabaikannya.

"Hal yang paling menyembuhkan adalah berdoa lebih banyak daripada vaksin apapun,” kata Teodosie Petrescu, Uskup Agung Tomis dilansir dari The National News, Rabu (20/1).

Sentinţă finală! IPS Teodosie a fost achitat în dosarul Nazarcea - CAPITAL

Mereka menentang keputusan pemerintah untuk menggunakan vaksin, untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Alasan mereka adalah, karena vaksin tersebut tidak diujikan terlebih dahulu terhadap hewan melainkan langsung diujikan kepada manusia.

“Saya tidak berani mendorong siapa pun untuk mendapatkan vaksin. Ini adalah satu-satunya vaksin yang belum diuji pada hewan dan sedang diuji langsung pada manusia, kecelakaan telah terjadi," tambahnya.

Saat ini tidak ada bukti "kecelakaan" vaksin Covid. Selain itu vaksin Pfizer- BioNTech dan Moderna dibuat dari produk farmasi sintetis bukan dari sel janin hasil aborsi seperti yang dituduhkan.

Namun, tuduhan palsu itu membuat sekte Ortodoks Rumania mengeluarkan pernyataan yang menentang suntikan tersebut. "Kami sangat menolak vaksin ini karena alasan agama, juga karena belum diuji secara ilmiah secara menyeluruh," katanya.

Beberapa orang Rumania bergabung dengan Gereja Ortodoks Yunani, dengan Uskup Kythira diduga meminta orang Kristen untuk menghindari vaksin.

Namun, ketika Paus Fransiskus dan pensiunan Paus Benediktus secara terbuka menerima vaksin itu pekan lalu, keberatan di antara umat Katolik menjadi tidak terdengar. Demikian pula, beberapa tokoh agama senior di Yunani dan Bulgaria telah mendorong orang untuk menggunakan vaksin, menyanggah tuduhan sebelumnya.

Di tempat lain di Balkan, Serbia berusaha menginokulasi populasinya dengan cepat, menggunakan vaksin Sinopharm asal China. Negara tersebut telah menerima batch pertama sebanyak satu juta dosis.

Di Eropa Tengah, Hongaria mengharapkan jumlah yang sama dari dosis vaksin Sinopharm. Sementara itu, Uni Eropa mengatakan akan menginokulasi 70 persen populasi orang dewasa terhadap virus corona pada Juni.