4 Ramadhan 1442

Kolaborasi Cara Travel Hadapi Kebangkrutan Usaha Haji-Umroh

Kamis , 21 Jan 2021, 16:43 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Ali Muhammad Amin sebagai Ketua Umum Gabungan Pengusaha Haji Umrah Nusantara (GAPHURA) dan Aan Andriyatin (Bendum GAPHURA) bersama media setelah peresmian GAPHURA Sebagai Smart Organizer Pengusaha Haji, Umrah dan Halal Tour.
Ali Muhammad Amin sebagai Ketua Umum Gabungan Pengusaha Haji Umrah Nusantara (GAPHURA) dan Aan Andriyatin (Bendum GAPHURA) bersama media setelah peresmian GAPHURA Sebagai Smart Organizer Pengusaha Haji, Umrah dan Halal Tour.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Pandemi Covid-19 merubah semua tatanan terutama sektor urmah dan haji. Fenoma ini kata pemilik Travel Umrah dan Haji Garislurus sebagai Ground Zero di mana semua usaha travel haji umrah runtuh alias bangkrut.

"Fenomena nyaris sama pada kondisi dunia akibat pandemi corona, tak terkecuali usaha perjalanan Umrah dan Haji. 700 lebih biro Umrah Saudi ambruk, 6500 agen umrah dunia berhenti berusaha," kata Aan Andrityatin Direktur Utama Garislurus Travel Umrah Haji Plus kepada Republika setelah deklarasi Gabungan Perusahaan Haji dan Umrah Nusantara (GAPHURA), Kamis (12/1).

Andriyatim mengatakan, untuk menghadapi kondisi Ground Zero ini, semua penyelenggara umrah dan haji khusus harus melangkah bersama. Kolaborasi ni penting untuk membangun kembali usaha umrah dari awal yang sudah runtuh ini.

"Yang pertama itu bersatu atau kolaborasi. Kita tidak menjadikan teman-teman travel itu adalah rival tetapi kita bermitra bersama-sama," ujarnya.

Saat ini kata Andriyatim, pengusaha penyelenggara umrah dan haji khusus susah jika gerak sendiri untuk menolak sebuah kebijakan Arab Saudi. Saat ini kebijakan Arab Saudi yang dinilai merugikan penyelenggara dan jamaah mengenai batas usia berangkat umar minimal 18 tahun dan maksimal 50 tahun.

"Jadi kalau tidak bersatu bakal kesulitan untuk menjaring jamaah usia 18 sampai 50 tahun," katanya.

Andriyatim yang juga bendahara umum GAPHURA ini mengatakan, di Indonesia budayanya ibadah umrah barang keluarga. Sehingga ketika satu keluarga tidak bisa berangkat, maka semuanya batal berangkat dan ini menghilangkan kesempatan yang merugikan banyak pihak.

"Budaya pada jamaah umrah Indonesia itu untuk beribadah umroh biasa satu keluarga. Misalnya ayahnya usia 52, Ibunya 45 tahun anaknya 10 dan 15 tahun, ketika satu orang yang barusia 52 tahun tidak bisa maka yang lain akan batal," katanya.

Kedua yang mesti dilakukan di era Ground Zero ini adalah tidak price war (perang harga), karena semua harga-harga terpublis digital atau di platform masing-masing. Daripada melakukan price war lebih baik penyelenggara umrah haji khusus perang service.

"Karena kalau kita perang servis yang diuntungkan adalah jamaah. Semua orang-orang service, semua berlomba-lomba menjadi terbaik," katanya.

Ketiga dalam menghadapi Ground Zero ini penyelenggara umrah haji khusus harus adaptif terhadap kondisi era digital. Sekarang ini semuanya tidak bisa dikerjakan secara manual dan menggantungkan diri kepada teman-teman yang biasa mengoperasionalkan secara manual.

"Karena kalau begitu kita akan menjadi penonton. Jadi kita harus ada dengan digital acara apa ya kita adaptasi dengan aplikasi yang ada Alhamdulillah GAPHURA sudah menginisiasi dengan membuat sistem aplikasi," katanya.

Solusi keempat, penyelenggara umrau haji khusus harus mengupgrade sumber daya manusia (SDM). Pemilik travel kata dia yang biasa manual dalam mengerjakan segala sesuatunya harus ditinggalkan.

"Saat ini harus diupgrade secara brainware, software, hardware semua kita harus upgrade itu. Empat hal itu semua Insya Allah akan digawangi oleh GAPHURA," katanya.

Seperti diketahui telah dideklarasikan pada Kamis (21/1) asosiasi umrah dan haji khusus yang merupakan Gabungan Perusahaan Haji dan Umrah Nusantara (GAPHUR). Untuk pertamakalinya GAPHURA dipimpin Ali Muhammad Amin sebagai Ketua Umum, Endi Sutono (Sekjen) dan Aan Andriyatin (Bendum) serta Herman Barata sebagai Ketua Dewan Pengawas.

 

widget->kurs();?>