Selasa 02 Feb 2021 20:24 WIB

Kosovo Normalisasi Hubungan dengan Israel

Kosovo adalah negara mayoritas Muslim.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah
Kosovo Normalisasi Hubungan dengan Israel. Polisi menghentikan kendaraan di blokade jalan di jalan utama selama penguncian penuh di Yerusalem, Israel, 08 Januari 2021. Meskipun Israel adalah salah satu negara pertama yang menerima vaksin dan sejauh ini telah memvaksinasi satu setengah juta warganya, tingkat Infeksi virus ini meningkat secara drastis dan Israel memasuki penutupan penuh dalam dua minggu.
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Kosovo Normalisasi Hubungan dengan Israel. Polisi menghentikan kendaraan di blokade jalan di jalan utama selama penguncian penuh di Yerusalem, Israel, 08 Januari 2021. Meskipun Israel adalah salah satu negara pertama yang menerima vaksin dan sejauh ini telah memvaksinasi satu setengah juta warganya, tingkat Infeksi virus ini meningkat secara drastis dan Israel memasuki penutupan penuh dalam dua minggu.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kosovo menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Langkah tersebut menjadikan Kosovo sebagai negara mayoritas Muslim terbaru yang menormalisasi hubungan dengan Israel dalam kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat (AS).

Negara kecil Balkan itu juga mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Meskipun, langkah demikian bertentangan dengan dunia Islam lainnya. Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi dan mitranya dari Kosovo, Meliza Haradinaj Stublla menandatangani deklarasi bersama menjalin hubungan dalam acara yang diadakan melalui Zoom pada Senin (1/2) waktu setempat.

Baca Juga

Ashkenazi mengatakan, dia telah menyetujui permintaan resmi Kosovo untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem. Dalam sebuah pernyataan pada 29 Januari 2021, Haradinaj-Stublla juga menyebut soal pengakuan Israel atas Kosovo.

"Pengakuan oleh Israel adalah salah satu pencapaian terbesar bagi Kosovo, datang pada momen penting bagi kami, terima kasih kepada Amerika Serikat, sekutu bersama dan abadi kami," demikian pernyataan Stublla, seperti dilansir di Daily Mail, Selasa (2/2).

Tahun lalu, Israel menandatangani serangkaian kesepakatan yang ditengahi oleh mantan presiden AS Donald Trump untuk membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan. Perjanjian tersebut, yang secara kolektif dikenal sebagai Abraham Accords, memicu kritik di banyak negara mayoritas Muslim yang sebelumnya telah menjauhi Israel karena menentang pendudukan ilegal di Tepi Barat, serta wilayah Lebanon dan Suriah, dan blokade atas Gaza.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement