19 Rajab 1442

Vaksin Covid-19 dari Babi? Begini Penjelasan Auditor Halal

Ahad , 14 Feb 2021, 19:15 WIB Reporter :Wahyu Suryana/ Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin COVID-19 kepada penerima di rumah sakit swasta di New Delhi, India, Sabtu, 13 Februari 2021.
Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin COVID-19 kepada penerima di rumah sakit swasta di New Delhi, India, Sabtu, 13 Februari 2021.

IHRAM.CO.ID,SLEMAN -- Auditor Halal LPPOM MUI DIY Ustaz Nanung Danar Dono, turut menyoroti pihak-pihak yang menentang keberadaan vaksin covid-19. Termasuk, spekulasi yang menyebutnya haram karena berasal dari babi dan hoaks-hoaks lain yang beredar.

Nanung mengatakan, sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi dan semua berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90 persen. Ia menilai, ilmuwan yang sering dikutip pendapatnya selama ini bukan seorang ahli vaksin.

"Namun, seorang psikolog, ahli statistik, homeopati, kolumnis dan ahli kanker di tahun 1950-1960. Sumber data yang digunakan kuno. Saat ini teknologi vaksin yang digunakan sudah canggih," dalam kajian yang digelar IKA UII Kedokteran, Ahad (14/2).

Ia menuturkan, saat ini Uni Eropa sudah memesan 1,4 miliar dosis vaksin Astra Zeneca, Curevac dan Moderna. AS memesan 800 juta vaksin. Jepang dengan penduduk yang lebih sedikit memesan 540 juta vaksin Astra Zeneca, Moderna dan Novovax.

Nanung menyebut, hoaks beredar juga menyebut vaksin mengandung mercuri berbahaya pernah terjadi di Teluk Minamata 1932-1968. Tapi, mercuri yang dibuang di Jepang methyl mercuri, sedangkan yang dipakai vaksin ethyl mercuri, dan tidak bahaya.

Lalu, hoaks yang mengatakan vaksin merupakan senjata biologis memusnahkan umat Islam. Walaupun, saat ini memang banyak negara non-muslim yang mengembangkan vaksin seperti Amerika Serikat, Israel, Kanada, Inggris, Belanda dan Australia.

"Israel merupakan salah satu negara pertama yang akan bebas dari covid-19 karena cakupan vaksin mereka yang sangat tinggi. Israel memakai vaksin Pfizer-BioNTech dengan efficacy 92 persen," ujar Nanung.

Menurut Nanung, yang paling meresahkan masyarakat hoaks soal kehalalan vaksin. Di Indonesia, Komisi Fatwa MUI sendiri memberi fatwa Sinovac halal dan suci, sehingga masyarakat tidak harus ragu dan khawatir atas vaksin buatan Cina itu.

Nanung mengingatkan, banyak negara seperti Singapura, Chili, Filipina, Turki, dan Brasil yang juga memesan vaksin Sinovac. Jadi, berita yang beredar kalau Indonesia merupakan kelinci percobaan untuk vaksin Sinovac merupakan hoaks.

Kabar yang menggegerkan juga soal kejadian di Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, yang mengatakan ratusan santri terkapar usai disuntik vaksin covid-19. Walaupun, ternyata itu dokumentasi 2018 setelah mereka disuntik vaksin difteri.

Ia melihat, banyak sekali hoaks mengenai vaksin covid-19 beredar dan disebarkan orang-orang tidak bertanggung jawab. Biasanya, bukan berasal dari latar belakang ilmu kedokteran, bahkan ada pula beberapa tokoh yang memainkan isu-isu tersebut.

"Masyarakat awam nanti yang akan menanggung akibat paling merugikan. Sebagai masyarakat Indonenesia yang cerdas kita harus bisa menyaring berita, tidak semata-mata langsung percaya dan harus mencari fakta-faktanya," kata Nanung. 

 

widget->kurs();?>