30 Ramadhan 1442

Memaknai Haji dan Umroh Saat Memakai Ihram

Kamis , 18 Feb 2021, 14:31 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Memaknai Haji dan Umroh Saat Memakai Ihram. Foto:   Ilustrasi Pakaian Ihram
Memaknai Haji dan Umroh Saat Memakai Ihram. Foto: Ilustrasi Pakaian Ihram

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Kain Ihram merupakan pakaian satu-satunya yang boleh dipakai oleh jamaah haji atau umroh laki-laki.  Pakaian ini digunakan setelah jamaah berada di Miqat untuk niat haji atau umroh.

Dr Thariq As-Suwaidan dalam bukunya Misteri Haji dan Umrah, Mengungkap Rahasia Besar Amalan Haji dan Umrah mengatakan, setelah kain ihram dipakai, maka jamaah haji telah membebaskan diri mereka dari keduniaan. Di sinilah awal ibadah haji dimulai semua larang wajib ditaati. 

"Kemudian, begitu mereka telah tiba di Miqat mereka dari golongan laki-laki membebaskan diri dari materi, perhiasan, dan penampilan mencolok lainnya," katanya.

Karena itu sebagai gantinya, yang mereka tampilkan adalah kain ihram yang sederhana, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara yang kaya dan miskin, pejabat, rakyat jelata, atau raja. Mereka memakai pakaian ihram yang bagian atasnya adalah selendang yang diselempangkan, sedangkan bagian bawahnya dipakai seperti kain sarung namun tak berjahit. 

Baca Juga

"Tidak diisyaratkan sebuah warna dan jenis kain yang khusus tetapi yang dianjurkan adalah berwarna putih dan masih baru," katanya.

Keseragaman memakai kain ihram warna putih ini merupakan target semua jamaah haji dalam persatuan. Ketika berada di Miqot, mereka disatukan oleh keseragaman pakaian dan baju yaitu ihram. 

"Dengan itu maka para jamaah haji akan memasuki pintu gerbang menuju tingkat teragung peribadatan dan penghambaan kepada Allah," katanya.

Karena kata Dr Thariq, semua yang beranjak menuju level ini adalah jiwa yang jujur kepada Allah. Pengbahaan atau ubudiyah di dalam maknanya yang sejati adalah ketundukan, merendahkan diri, bertaubat, menjalankan perintah Allah Tuhan semesta alam.

"Dan menjauhi segala larangan-Nya menghinakan diri di hadapan-Nya dan selalu merasa membutuhkan-Nya," katanya

Di dalam semua ini tentu saja terkandung ungkapan 'minta tolong hanya' kepada Allah. Pada saat itu kita diwajibkan memohon perlindungan kepada-Nya, dan sama sekali tidak ada ketergantungan hati kepada selainnya ditambah lagi dengan rasa takut dan pengharapan kepada-Nya, dalam semua kondisi yang dihadapi, dengan segenap jiwa dan hati lisan, dan semua indra, hingga menjadi lah mereka seperti yang dilakukan seorang penyair.

"Aku melihat manusia dalam beberapa jenis dan bentuk datang dari negeri-negeri yang berbeda. 

Mereka semua pergi menghadap kepada-Mu. Tak peduli mereka datang dari berbagai tempat yang asing. 

Namun, semua nya sama dan tidak tingkatan keturunan ataupun kehormatan dihadapan-Mu"

 

 

 

widget->kurs();?>