25 Rajab 1442

Petani Kopi Kulon Progo Harapkan Pembangunan Infrastruktur

Senin , 22 Feb 2021, 22:25 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Petani Kopi Kulon Progo Harapkan Pembangunan Infrastruktur (ilustrasi).
Petani Kopi Kulon Progo Harapkan Pembangunan Infrastruktur (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,KULON PROGO -- Petani kopi, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan pemerintah setempat membantu mempromosikan kopi lokal dan membangun infrastruktur objek wisata Puncak Suroyolo sebagai tempat wisata kopi.Petani Kopi di Suroloyo, Kecamatan Samigaluh, Windarono mengatakan Puncak Suroloyo tidak bisa dipisahkan dengan wisata kopi, dua objek yang berbeda ini saling melengkapi.

"Saat ini, kami petani kopi di kawasan Suroloyo membutuhkan promosi yang kuat. Di sisi lain kami juga mengharapkan Pemkab Kulon Progo melalui Organisasi Perangkat Daerah membangun infrastruktur pendukung di kawasan objek wisata Puncak Suroloyo," kata Windarno di Kulon Progo, Senin (22/2).

Ia mengatakan selama ini, Puncak Suroloyo merupakan tempat promosi kopi lokal Suroloyo, yakni kopi robusta yang kenikmatannya berbeda dengan produksi kopi di wilayah DIY. Saat ini, pecinta kopi robusta banyak yang berkunjung ke Puncak Suroloyo sembari menikmati suasana alam pegunungan Bukit Menoreh.

"Puncak Suroloyo dan Kopi Suroloyo jenis robusta satu paket wisata Bukit Menoreh. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Suroyolo hanya menikmati secangkir Kopi Suroloyo jenis robusta. Meski pandemi, kunjungan pecinta kopi di Puncak Soroloyo sangat tinggi," katanya.

Windarno mengatakan pada 2020, produksi kopi khusus di kawasan Suroloyo mencapai 10 ton wose. Harga mentah baru panen mencapai Rp20 ribu sampai Rp30 ribu kilogram. Namun setelah diproses lebih lanjut hingga siap giling, harga Kopi Suroloyo jenis robusta bisa mencapai Rp150 ribu per kilogram.

Sementara untuk arabika mencapai Rp250 ribu per kilogram. Dengan harga segitu, ia bisa mengantongi minimal Rp10 juta. Namun sekarang nominal itu sulit dicapai. "Komoditas kopi ini mampu meningkatkan pendapatan petani kopi di kawasan Bukit Menoreh. Banyak pecinta kopi dari luar membeli secara daring kepada petani pada masa pandemi COVID-19 ini," katanya.

Wakil Bupati Kulon Progo Fajar Gegana mengakui kopi merupakan salah satu produk unggulan sektor pertanian di Kulon Progo. Potensi kopi di Kulon Progo sangat luar biasa apalagi jenis kopi arabika yang dari kebun satu dengan yang lain mempunyai ciri khas rasa yang berbeda. Harapan kedepan potensi kopi yang sekarang mayoritas dijual petani berbentuk biji dan curah bisa dijual berbentuk packaging dan dijual saji, misal seperti di Bandara Internasional Yogyakarta atau di tempat-tempat wisata dan mini market di Kulon Progo.

"Sebetulnya dari kualitas maupun rasa kopi kita sudah mampu bersaing karena jenis arabika saat ini mendominasi pemasaran kopi internasional. Berbeda dengan 20 tahun yang lalu jenis robusta lebih digemari. Kami melalui OPD terkait membantu petani kopi dari hulu sampai hilir atau dari produksi sampai pemasaran. Kami mengharapkan kopi menjadi komiditas yang menjadi daya ungkit ekonomi di wilayah Bukit Menoreh, yakni di Kecamatan Girimulyo dan Samigaluh," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha di Kulon Progo, Selasa, mengatakan kopi merupakan salah satu produk unggulan Kulon Progo yang perlu dikembangkan. Produk kopi dari Kulon Progo perlu ada pembenahan pengemasan dan pengolahan supaya dapat diterima pasar secara luas.

Saat ini usaha kopi sudah dikelola oleh kaum muda atau milenialsehingga pada masa pandemi ini mampu menggerakkan dan menyerap tenaga kerja dari generasi muda. Mereka menjual produk secara daring. "Kami sedang memberdayakan petani milenial dalam pemasaran secara daring. Kami berharap petani milenial ini mampu mengembangkan pengolahan dan pemasaran," katanya.

Aris mengatakan Dinas Pertanian dan Pangan juga menggandeng kelompok tani milenial untuk mengkolaborasikan produk perkebunan dengan potensi wisata di kawasan Bukit Menoreh. Kopi produksi dari Kulon Progo mampu mendongkrak kunjungan wisatawan. "Wisata di kawasan Bukit Menoreh sedang berkembang pesat. Di setiap objek wisata ada kedai kopi hasil panen masyarakat setempat. Sektor pariwisata harus menjadi pasar kopi, selain penjualan secara daring," katanya.

Saat ini di kawasan Bukit Menoreh banyak tumbuh kedai-kedai kopi, khususnya di Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo. Hal ini tidak terlepas dari pengembangan kawasan agrowisata dan agrobisnis di kawasan itu.

Ia mencontohkan Kopi Suroloyo di Puncak Suroloyo, Kopi Madigondo, Kopi ID di Purwosari. Hal itu berdampak pada pendapatan petani. "Kami berkomitmen memberdayakan petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," katanya.

Aris mengatakan pihaknya secara bertahap mengembangkan kawasan agrowisata dan agrobisnis dalam rangka mempercepat program Bedah Menoreh untuk sektor perkebunan dan pertanian. Ia mengatakan beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta dan pengembangan Kawasan Strategis Pembangunan Nasional Borobudur, harus membuat semua sektor berbenah dan berinovasi membuat program pemberdayaan.

"Kami yang membidangi pertanian dan pangan harus terdepan dalam menumbuhkan usaha masyarakat sesuai potensi lokal. Tujuannya, masyarakat tidak menjadi penonton dengan adanya mega proyek nasional di DIY dan Jawa Tengah," katanya.

 

widget->kurs();?>