18 Rajab 1442

Bermuka-Muka Dengan Ka'bah Bersama Jokowi

Selasa , 23 Feb 2021, 09:21 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Calon presiden nomor urut dua Joko Widodo beserta keluarga melakukan ibadah umrah 2014.
Foto : Republika.
Calon presiden nomor urut dua Joko Widodo beserta keluarga melakukan ibadah umrah 2014.

Dan, setelah itu beberapa hari kemudian pencoblosan pilpres 9 April 2014 dilakukan. Selanjutnya, beberapa pekan kemudian, yakni pada 22 Juli 2014, KPU menetapkan diri Jokowi sebagai pemenang. Akhirnya, sekitar satu bulan kemudian, tepatnya 21 Agustus 2014, Mahkamah Konstitusi menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memenangkan gugatan sengketa pilpres yang diajukan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Kini, Jokowi sebentar lagi akan resmi menjadi presiden RI menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi, peristiwa ke Makkah dan Madinah untuk umrah yang begitu singkat--masing-masing hanya disinggahi beberapa jam saja--begitu melekat pada wartawan yang ikut rombongan tersebut.

''Apakah umrah itu pencitraan?'' ketika ditanya soal ini, sang wartawan kembali menggelengkan kepala.''Saya tak tahu. Inamal 'amalu binniyat (amal itu trgantung pada niyatnya--Red). Saya tak tahu isi hati Pak Jokowi. Wallahu 'alam,' jawabnya enteng.

Bagaimana mengenai soal terbaliknya posisi kain umrah yang dipakai Jokowi yang saat itu ramai diributkan pegiat media sosial? Sang wartawan juga menjawabnya dengan ringan sembari geleng-geleng kepala. Katanya, itu fitnah dan dibuat untuk merusak citra Jokowi yang tengah berkompetisi melawan Prabowo di dalam pilpres.

''Tak masuk akal sebab di rombongan itu ada Pak KH Hasyim Muzadi,'' ujarnya. Semua tahu Kiai Hasyim itu selain pernah menjabat sebagai ketua PBNU beliau pun kerap menjadi amirul haj kala menteri agama dijabat Suryadharma Ali.

Tapi bila mengaca sejarah, soal legitimasi Makkah pada udara perpolitikan Indonesia sudah terjadi semenjak zaman dahulu kala. Pada 1638, utusan Raja Banten dan juga Raja Mataram (1939) sempat ke Makkah hanya untuk meminta izin kepada syarif Makkah agar rajanya berhak memakai gelar sultan seperti para penguasa di Kerajaan Turki.

Di zaman Indonesia merdeka, yakni pada akhir Orde Baru, Presiden Soeharto juga terkesan memakai "legitimasi Ka'bah"dengan naik haji ketika ingin mendekati umat Islam. Sepulang haji, Soeharto mendapat tambahan kata Muhammad di depan namanya. Hal sama juga ditengarai dipakai Presiden Sukarno saat berhaji ke Makkah untuk melengkapi sebutan dirinya sebagai pemimpin negara Islam. Sama dengan Soeharto, Sukarno pun mendapat tambahan kata Ahmad di depan namanya.

Namun,  untuk Jokowi, meski sudah sempat berhaji, kunjungannya ke Makkah menjelang pencoblosan Pilpres 2014 itu tak membuatnya melakukan perubahan nama. Mungkin ini karena hanya merupakan kepergian umrah saja. Sedangkan, soal nama--dan juga niatan umrah tersebut--memang hanya Jokowi dan Allah SWT yang tahu.

''Berbaik sangka sajalah kepada niat ibadah seseorang,'' begitu pesan Imam al-Ghazali ketika ada orang bertanya mengenai niat ibadah yang dilakukannya.

-------

  • Di sunting dari buku 'Taf Bersama Rembulan' karya Muhammad Subarkah, Penerbit Republika 2020.
  • Jual Buku Sejarah Peradaban Islam Tawaf Bersama Rembulan Muhammad Subarkah  - Kota Tangerang - Toko Buku Online Tsaniyah | Tokopedia