21 Rajab 1442

Keteguhan Nurmaya: 9 bulan berbagi di tengah pandemi

Rabu , 24 Feb 2021, 06:03 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Foto :

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Aroma berbagai jenis masakan tercium saat memasuki sebuah rumah di kawasan Kemanggisan, Slipi, Jakarta Barat, Jumat, pekan lalu.

Itu adalah rumah Nurmaya, seorang pedagang tanaman hias yang sudah sembilan bulan ini konsisten membagikan nasi bungkus setiap Jumat.

Jumat itu, Nurmaya dibantu ibu dan sepupunya memasukkan beragam lauk ke dalam kemasan. Lauknya bermacam-macam, ada telur balado, ikan, mie goreng hingga tempe orek.

Selesai urusan bungkus membungkus, Nurmaya dibantu suami dan dua keponakannya membawa sekitar 100 porsi makanan itu ke jalan tak jauh dari rumahnya.

“Silakan, makanan gratis. Silakan diambil,” seru Nurmaya ketika membagikan makanan.

Hari itu dia membawa tidak kurang dari 100 porsi nasi bungkus. Satu persatu, para pelintas jalan mulai mengambil nasi bungkus yang dia bagikan, Mulai dari ojek online, tukang sayur, fakir miskin hingga anak-anak.

Tak hanya di jalanan, Nurmaya kadang-kadang juga menyambangi tempat pembuangan sampah, kira-kira 1 kilometer dari tempat dia membagikan makanan itu.

Saat dia datang, para pekerja yang tengah mengunggah sampah ke truk langsung berhenti. Mereka mendatangi Nurmaya yang sedang membagikan makanan.

Dalam setiap aksi membagikan makanan gratis, Nurmaya mengaku menghabiskan uang paling tidak Rp900 ribu. Sebagian besar dari kantongnya sendiri.

Kadang-kadang ada tetangga atau dermawan yang lewat ikut berdonasi, bentuknya uang maupun nasi bungkus. “Kalau ada bantuan dari tetangga berarti lauknya lebih banyak. Biasanya saya terima mulai dari Rp10 ribu-Rp100 ribu,” kata Nurmaya.

Donatur tak selalu rutin datang, tapi Nurmaya jalan terus. Ada atau tidak ada donatur, dia tetap membagikan makanan tiap Jumat.

Nurmaya mengaku sebenarnya bukan orang kaya. Kondisi ekonominya tidak jauh berbeda dengan warga lain yang terkena imbas pandemi.

Sebelumnya, dia punya usaha salon yang sudah dilakoninya selama 20 tahun.

Tapi karena pandemi ini, salonnya terpaksa ditutup, sepi ditinggal langganan.

“Ukuran salon tidak besar, sekitar 3 x 5 meter. Pandemi ini pengaruhnya luar biasa. Sampai benar-benar pelanggan entah ke mana,” ujar Nurmaya ketika ditemui Anadolu Agency.

Kini Nurmaya punya usaha baru, dia fokus mengurusi kios tanaman hias yang sebelumnya dirintis ayahnya. Sebelum membagi-bagikan nasi bungkus di jalanan, Nurmaya sempat mempunyai warung gratis di kios tanaman hiasnya.

Dia mengubah bagian depan kios tanaman menjadi warung selama kurang lebih enam bulan.

“Dulu pas masih ada warung, kita sediakan nasi dan 10 macam lauk. Orang yang mau makan boleh bebas pilih lauk, tapi maksimal tiga macam,” kata Nurmaya.

Namun, lama kelamaan warungnya makin ramai dan menimbulkan kerumunan.

Di masa pandemi Covid-19 ini, mengadakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan, meskipun niatnya baik, tetap bisa menimbulkan masalah.

Akhirnya beberapa petugas pemerintah datang dan memberikan teguran agar kegiatan bagi-bagi makanan itu tidak menimbulkan kerumunan yang membahayakan.

Akhirnya, warung makan gratisnya ditutup dan Nurmaya berinisiatif membagikan makanannya yang sudah dikemas langsung pada pengguna jalan yang membutuhkan.