Rabu 24 Feb 2021 16:37 WIB

Walhi Sindir Pemerintah Agar Hargai Siklus Alam

Pelolosan UU Ciptaker akan mendorong lebih banyak hutan tergerus demi investasi.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Agus Yulianto
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati
Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengingatkan pemerintah menghargai siklus alam. Walhi menyayangkan kebijakan pemerintah pro pembangunan yang membuat alam kian tergerus.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati mengungkapkan, saat ini, alam justru hanya menjadi penyuplai kebutuhan manusia. Padahal, alam memiliki mekanismenya untuk menjaga keseimbangan seperti siklus air dan karbon. Sudah saatnya manusia juga menghargai alam agar tetap stabil.

"Alam ini punya sistem metabolisme sendiri seperti siklus air, karbon. Proses kehidupan alam harus dihargai agar tidak berbalik melawan kita," kata Hidayati dalam webinar Partai Hijau Indonesia berjudul "Menjawab Krisis Demokrasi dan Lingkungan Hidup" pada Rabu (24/2).

Hidayati menilai, kemajuan teknologi dan industri di abad ke-20 malah berdampak negatif pada sistem alam. Untuk di Tanah Air, pelolosan UU Ciptaker akan mendorong lebih banyak hutan tergerus demi kebutuan investasi. 

"Kita sudah ganggu sistem alam seperti dari emisi batu bara, buat kekacauan terhadap siklus alam akhirnya kestabilan terganggu. Terjadilah pemanasan global misalnya," ujar Hidayati.

Walhi memantau bencana yang belakangan ini marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Hidayati, ada kemungkinan bencana yang terjadi seperti banjir atau kebakaran hutan didalangi manusia itu sendiri.

"Di Jawa cuaca ekstrem karena hujan besar-besaran tapi di Sumatra dan Kalimantan mulai ada titik-titik api. Di tengah krisis ini masih ada yang manfaatkan kesempatan perluasan ekonomi yang ekstraktif," ucap Hidayati.

Hidayati menekankan agar pemerintah beserta masyarakat harus segera memutus perilaku yang berdampak buruk pada alam.

"Jangan sampai dialami lagi oleh manusia. Pembangunan itu akibatkan bencana yang akhirnya merusak bangunan itu sendiri," lanjut Hidayati.

"Harus dicari jalan bagaimana pertahankan hingga perbaikan siklus alam untuk dapat keuntungan dan menunjang bagi manusia itu sendiri," pungkas Hidayati. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement