30 Sya'ban 1442

Saudi Bantah Laporan AS Soal MBS Otak Pembunuhan Khashoggi

Ahad , 28 Feb 2021, 06:23 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Mohammed bin Salman (MBS)  dan Jamal Khashoggi
Mohammed bin Salman (MBS) dan Jamal Khashoggi

IHRAM.CO.ID, RIYADH -- Pemerintah Arab Saudi membantah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang menyebut Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mendalangi aksi pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi. Riyadh pun menyesalkan terbitnya laporan tersebut.

"Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sepenuhnya menolak penilaian negatif, salah, dan tidak dapat diterima dalam laporan yang berkaitan dengan kepemimpinan Kerajaan, dan mencatat bahwa laporan tersebut berisi informasi serta kesimpulan yang tidak akurat," kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam sebuah pernyataan dikutip laman Al Arabiya, Sabtu (27/2).

Saudi menegaskan bahwa mereka mengecam pembunuhan Khashoggi. Riyadh menyebut itu adalah kejahatan keji dan pelanggaran mencolok terhadap hukum serta nilai Kerajaan. "Kejahatan ini dilakukan oleh sekelompok individu yang telah melanggar semua peraturan dan otoritas terkait dari lembaga tempat mereka bekerja," kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

Saudi menekankan kemitraannya dengan AS adalah kemitaraan yang kuat dan langgeng. Hal itu sudah terjalin selama hampir delapan dekade atas dasar saling menghormati. Lembaga kedua negara tekun memperdalam hubungan tersebut di semua aspek.

"Kami berharap dapat mempertahankan fondasi abadi yang telah membentuk kerangka kerja kemitraan strategis yang tangguh antara Kerajaan dan AS," kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

Kantor Direktur Intelijen AS telah menerbitkan laporan empat halaman tentang pembunuhan Khashoggi pada Jumat (26/2). Dalam laporannya, mereka menyimpulkan Pangeran MBS bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. "Kami menilai bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman menyetujui operasi di Istanbul, Turki untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi Jamal Khashoggi," katanya.

Badan intelijen AS mendasarkan penilaiannya pada kendali Pangeran MBS atas pengambilan keputusan, keterlibatan langsung salah satu penasihat utamanya dan detail perlindungannya sendiri, serta dukungannya menggunakan tindakan kekerasan untuk membungkam para pembangkang di luar negeri, termasuk Khashoggi. "Sejak 2017, Putra Mahkota memiliki kendali mutlak atas organisasi keamanan dan intelijen Kerajaan, sehingga sangat tidak mungkin pejabat Saudi akan melakukan operasi seperti ini tanpa izin (dia)," katanya.

Presiden Joe Biden merestui penerbitan laporan tersebut. Dia mengubah kebijakan mantan presiden Donald Trump yang menolak merilis laporan terkait pada masa jabatannya. "Laporan ini telah disimpan di sana, pemerintahan terakhir bahkan tidak akan merilisnya. Kami segera, ketika saya masuk, mengajukan laporan, membacanya, mendapatkannya, dan merilisnya hari ini. Dan sungguh keterlaluan apa yang terjadi," kata Biden di jaringan berbahasa Spanyol, Univision.

Khashoggi dibunuh di gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018. Setelah tewas, tubuh Khashoggi dilaporkan dimutilasi. Hingga kini potongan jasadnya belum ditemukan. Pangeran MBS segera terseret dalam kasus itu dan diduga menjadi dalangnya. Dugaan itu muncul karena keterlibatan Saud al-Qahtani dalam kasus tersebut. Dia diketahui merupakan tangan kanan Pangeran MBS.

Badan intelijen AS, CIA, yang ikut menyelidiki kasus Khashoggi turut menyimpulkan demikian. Dalam laporannya CIA meyakini bahwa Pangeran MBS adalah otak dari pembunuhan Khashoggi. Kendati demikian Trump tetap memberi dukungan kepada Pangeran MBS. Ia mengatakan Pangeran MBS telah menyangkal keterlibatan dan perannya dalam kasus pembunuhan Khashoggi.  (Reuters/Kamran Dikarma)

 

widget->kurs();?>