Upayakan Mengunjungi Tempat Bersejarah Saat Haji

Ahad , 14 Mar 2021, 10:34 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Upayakan Mengunjungi Tempat Bersejarah Saat Haji. Foto: Jamaah haji berjalan menuju bukit berbatu yang dikenal sebagai Gunung Belaskasih, di tanah belakang, di Dataran Arafat, ketika mereka mempraktikkan jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona selama ziarah haji tahunan di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 30 Juli 2020. Haji tahun ini diturunkan secara dramatis dari 2,5 juta jamaah menjadi 1.000 orang karena pandemi coronavirus.
Upayakan Mengunjungi Tempat Bersejarah Saat Haji. Foto: Jamaah haji berjalan menuju bukit berbatu yang dikenal sebagai Gunung Belaskasih, di tanah belakang, di Dataran Arafat, ketika mereka mempraktikkan jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona selama ziarah haji tahunan di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 30 Juli 2020. Haji tahun ini diturunkan secara dramatis dari 2,5 juta jamaah menjadi 1.000 orang karena pandemi coronavirus.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA--Ritual ibadah haji sudah ditentukan waktu dan tempatnya sesuai syariat dalam Alquran dan Hadits. Setiap tahun waktu dan tempat itu tidak akan pernah berubah.

 

Terkait

Ada beberapa tempat yang telah ditentukan dalam pelaksaan haji memiliki sejarah masing-masing. Sehingga layak dikinjungi berulang-ulang saat umrah atau setelah ritual wajib haji selesai.

Baca Juga

M Julius ST dalam bukunya 'Manajemen Perjalanan Haaji Reguler' mengatakan, pemimpin rombongan idealnya harus mengetahui dan memahami saat rekreasi dalam perjalanan haji diselenggarakan. Rekreasi tidak harus menggunakan kendaraan, dengan berjalan kaki pun dapat dilaksanakan.

"Ini merupakan salah satu langkah antisipatif untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kebosanan," katanya.

Tentu saja tempat yang dituju diutamakan yang terdapat unsur sejarahnya. Tempat mana yang dituju sangat bergantung pada kejelian pemimpin rombongan, oleh karenanya, pengetahuan tentang tempat rekreasi itu harus dikuasai oleh pemimpin rombongan dan dan calon jamaah haji.

"Selama berhaji, calon jamaah haji mempunyai banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan beberapa tempat yang bernilai sejarah tinggi dalam perkembangan Islam," katanya.

Tempat-tempat bersejarah itu berada di Makkah, Madinah dan Jeddah. Upayakan jamaah dapat memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat itu agar berhaji mempunyai wawasan yang luas terhadap perkembangan Islam.

"Untuk itu sebelum berangkat calon jamaah dapat mempelajari tempat-tempat bersejarah itu dengan membaca buku, memutar CD," katanya.

Dan kata Julius ST yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan di tempat-tempat itu agar hal-hal yang dilarang dapat dihindari. Beberapa tempat sejarah itu di antaranya adalah di Makkah meliputi Masjidil Haram sekitar Masjidil Haram dan sekitar Mekah, sedang di Madinah meliputi Masjid Nabawi sekitar Masjid Nabawi dan sekitar Madinah.

Misalnya di Masjidil Haram itu ada Kabah, Hijr Ismail, Multazam, Maqom Ibrahim, pintu Ka'bah, Safa ke Marwah, bekas Darun Nadwah, bekas rumah al-arqam.

Sekitaran Masjidil Haram ada rumah Khadijah, rumah kelahiran Nabi, masjid kucing (Abu Hurairah) Masjid Syajarah Masjid Jin, Makam Ma'la, Masjid Abu Bakar, Makam Khadizah.

Sekitar Makkah ada Jana Tsur, Arafah, Jabal Rahmah, Multazam, Mina (Jamarot) Masjid Bai'h, Jabal Nur (Gua Hir) Masjid Ji'ronah, Jabal kurban, Masjid tan'im, Masjid Aisyah pembuatan kiswah, museum dua masjid Suci, masjid sumaisy (hudaibiyah).

Masjid Nabawi ada Raudhah, makam Nabi, rumah nabi, mimbar nabi, tiang-tiang bersejarah, Ahlul Suffah. Di sekitar Masjid Nabawi ada Makam Baqi, Masjid Ali bin Abi Tholib, Masjid Abu Bakar, Masjid Ghamamah, Masjid Umar Bin Khattab, pasar kurma, Masjidil Ijabah, Masjid Abu Dzar al-ghifari, Tsaqifah Bani Sa'idah.

Di sekitar Madinah ada Masjid Quba, Masjid Jum'ah, Jabal Uhud, Makam Hamzah, Masjid Syuhada, Uhud, Khandaq, Masjid qiblatain, percetakan Alquran. Pusat pengolahan kurma. Kebun Kurma, Mantiqa Baidah, (Bukit Magnet) peternakan unta perah.

Di Jeddah ada Laut Merah, masjid Rahmat, Masjid apung, air muncrat, monumen di kota Jeddah, pertokoan Quraisy (balad) pertokoan Mahmud Said (Oasis).

Julius mengatakan tidak semua tempat tersebut dapat dikunjungi dalam satu waktu, akan tetapi dapat dilakukan dengan pengaturan waktu yang baik dan tepat. Ada beberapa tempat yang bahkan mungkin tidak dapat dikunjungi karena keterbatasan waktu.

Kunjungan atau ziarah diupayakan waktunya tidak mengganggu kegiatan ibadah jamaah, misalnya ziarah diselenggarakan:

1. Bukan pada hari Jumat

2. Jamaah tidak dalam keadaan lelah.

3. Upayakan semua jamaah dapat ikut serta dan kembali dalam keadaan sehat sehingga dapat melakukan kegiatan lainnya.

4. Upaya untuk dilaksanakan sebelum namun tidak dekat dengan hari H, kecuali kalau memang dalam keadaan terpaksa.

5. Upayakan memberikan penjelasan atau pengajian tentang sejarah, apa yang harus dilakukan jamaah terhadap tempat-tempat yang akan diziarahi sebelum pelaksanaan, sehingga jamaah dapat memahami tempat tersebut dan yang lebih penting jamaah tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.