1 Syawwal 1442

Bentuk-bentuk Kasih Sayang Rasulullah Saat Berhaji

Selasa , 16 Mar 2021, 22:19 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Bentuk-bentuk Kasih Sayang Rasulullah Saat Berhaji (ilustrasi).
Bentuk-bentuk Kasih Sayang Rasulullah Saat Berhaji (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Kasih dan sayang Nabi Muhammad SAW merata kepada semua orang. Kasih sayang nabi dirasakan oleh para jamaah pada musim haji.

Abu Thalah Muhammad Yunus Abdussatar dalam kitabnya 'Kaifa Tastafidu min al-Haramain asy-Syarifain Ayyuha az-Zair wa al-Muqim' menuliskan semua jamaah menyaksikan betapa nabi menyayangi mereka lebih dari mereka menyayangi diri mereka sendiri.

Umaiyah meriwayatkan, "Aku berbaiat kepada Rasulullah di antara kaum wanita. Dia bersabda, laksanakanlah sesuai kemampuan kalian."

Lalu aku berkata "Sungguh Allah dan Rasul-Nya lebih menyayangi kami daripada diri kami sendiri. (HR Tirmidzi).

Dalam menggambarkan sikap Nabi, salah seorang sahabat berkata," Rasulullah adalah orang yang sangat penyayang.(HR Bukhari).

Ketika sahabat lain berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang menyayangi keluarga dan orang lain melebihi Rasulullah. (HR. Muslim).

Semua Itu membuahkan hasil betapa para sahabat hanyut mencintai nabi dan berlomba-lomba menaatinya. Dengan demikian nabi mudah mengarahkan dan memimpin mereka. Dalam ibadah haji, umat menyaksikan besarnya kasih sayang nabi dalam memimpin umatnya. 

Hal ini tampak dalam beragam bentuk sebagai berikut:

Nabi memerintahkan para sahabat yang tidak membawa binatang sembelihan agar bertahallul besar yang memungkinkan mereka mendatangi istri mereka, memakai pakaian dan wangi-wangian. Hal ini adalah karena kasih sayang dan kemudahan yang diberikan nabi kepada mereka. 

Nabi menjama taqdim salat Dhuhur dan Asar di Arafah dan jama takhir Maghrib dan Isya tatkala pergi meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Ini agar tidak memberatkan jamaah karena berhenti berkali-kali, serta memungkinkan mereka untuk menurunkan unta dan meletakkan perbekalan di tempat mereka akan menginap.

Nabi mengizinkan orang-orang lemah untuk meninggalkan Muzdalifah sebelum jamaah yang lain pada malam hari ketika rembulan tenggelam, sehingga mereka dapat melaksanakan Amal hari Nahr sebelum orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan dan melindungi mereka dari berdesak-desakan.

Nabi memberi kemudahan kepada jamaah haji untuk menyegerakan atau mengakhirkan amalan hari Nahr. Nabi bersabda kepada setiap orang yang bertanya mengenai hal tersebut "lakukan saja tidak masalah" (HR.Bukhari).

Nabi memberi keringanan kepada orang yang memiliki hajat. Dia mengizinkan Abbas untuk  bermalam di Makkah pada malam-malam Mina untuk menyiapkan minuman bagi para jamaah.

Nabi juga mengizinkan para penggembala unta untuk menjama lemparan dua hari setelah hari Nahr sehingga mereka cukup melempar pada salah satu dari kedua hari tersebut.

Nabi memberi izin mewakilkan kepada orang yang berkewajiban menunaikan haji ke mana-mana fisiknya tidak sanggup melaksanakan beratnya proses manasik. Pada saat tertentu, nabi meninggalkan amalan yang utama karena kasihan kepada jamaah, seperti naik unta saat tawaf dan sa'i menyentuh hajar aswad dengan tangan atau tongkat tanpa menciumnya. 

Padahal berjalan kaki saat tawaf dan sa'i mencium hajar aswad adalah lebih utama. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang yang depannya tidak kerepotan dan menyingkir, memberi jalan untuknya. Nabi merasa iba dan menjenguk orang orang yang sakit, membimbing mereka kepada hal-hal yang lebih ringan dan lebih mudah.

Abu Thalhah mengatakan apabila anda ingin memperoleh rahmat Allah di musim rahmat dan kebajikan yang agung ini, maka berbuatlah kasih sayang dan berempati kepada mereka sebagaimana halnya nabi. Karena sesungguhnya. 

"Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang.' (HR Tirmidzi). Juga "Siapa yang tidak menyayangi maka tidak disayang." (HR Bukhari).

Demikian pula hadits,  "Allah tidak menyayangi seseorang yang tidak menyayangi orang lain." (HR Bukhari). 

Sabda Rasulullah SAW yang lain. "Allah hanya memberikan kasih sayang kepada para hambanya yang penyayang." (HR Bukhari).

Ingatlah kata Abu Thalhah, bagaimana mungkin anda mendapat keselamatan, apabila anda jauh dari sifat kasih sayang. Berhati-hatilah jika anda tidak memiliki sifat kasih sayang, karena, "Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari orang-orang yang celaka."(HR Tirmidzi).

 

widget->kurs();?>