Doa Fudhail di Padang Arafah

Senin , 22 Mar 2021, 18:55 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Doa Fudhail di Padang Arafah (ilustrasi).
Doa Fudhail di Padang Arafah (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Pada hari Arafah di musim haji, semua jamaah haji yang berada di sana menangis, meratap, menyerahkan diri dan memohon ampun dengan segala kerendahan hati kepada Allah. 

 

Terkait

"Allahu Akbar!" Seru Fudhail rah.

Kemudian dia berkata kepada jamaah haji di sekitarnya. "Jika manusia sebanyak ini secara serentak menghadap kepada seseorang dan mereka semua meminta sekeping uang perak kepadanya, apa yang dilakukannya?"

"Apakah orang itu akan mengecewakan manusia yang banyak ini?"

"Tidak!" Jawab orang-orang. 

"Jadi," Fudhail melanjutkan. "Sudah tentu adalah lebih mudah bagi Allah yang Mahabesar Allah mengampuni kita semua daripada orang tadi yang hanya memberikan sekeping uang perak." katanya.

"Dia Maha Kaya dia di antara yang kaya raya. Karena itu sangat besar harapan kita dia akan mengampuni kita semua."

Fudhail mempunyai dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Menjelang akhir hayatnya Fudhail menyampaikan wasiat terakhir kepada istrinya. 

"Apabila aku mati, bahwa kedua putri kita ke puncak Jabal Qubais. Di sana hadapkanlah wajahmu ke arah kiblat dan berdoalah kepada Allah, Katakanlah: "Ya Allah, Fudhail menyuruhku untuk menyampaikan pesannya kepadamu." 

"Ketika dia hidup kedua anak-anak dan tidak berdaya kini telah kulindungi dengan sebaik-baiknya. Namun, setelah engkau mengurungku di dalam kubur mereka kuserahkan kepadamu kembali."

Setelah sudah wafat dan dikebumikan, istrinya melakukan pesan tersebut. Dia pergi ke puncak gunung Abu Qubais sambil membawa kedua putrinya. Kemudian ia berdoa kepada Allah sambil menangis dan meratap ketika, dia menyampaikan kepada Allah apa yang telah dititipkan suaminya.

Kebetulan pada saat itu, ada seorang raja dari negeri Yaman bersama kedua putranya sedang melalui jalan itu. Ketika menyaksikan ada seorang wanita dan dua orang gadis sedang menangis, raja itu menghentikan perjalanannya. Raja bertanya.

"Apakah kemalangan yang telah menimpa dirimu?"

Istri Fudhail menerangkan keadaan mereka dan apa yang menjadi amanahnya suaminya. Kemudian Raja berkata, "Jika kedua putrimu aku ambil untuk kedua putraku ini dan setiap orang dari mereka kuberikan 10.000 Dinar sebagai maskawinnya, apakah engkau merasa senang?" 

"Ya," jawab si Ibu. 

Raja segera mempersiapkan permadani dan kain kain dari benang emas, kemudian membawa Ibu beserta kedua putrinya ke negeri Yaman. 

Allah Maha Kaya Raya sekaligus Makasih sayang. Semakin sering seseorang meminta kepada Allah semakin sayang Allah kepadanya. Berbeda dengan manusia semakin sering dia diminta, maka akan semakin kesal hatinya. Maka sudah semestinya setiap hamba memperbagus hubungannya dengan Allah dan senantiasa meminta hanya kepada Allah.

Berkat kedekatan Fudhail kepada Allah ketika hidupnya, Allah pun menyelesaikan permasalahan keluarganya, walaupun dia telah tiada.

Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny alam bukunya "198 kisah Haji wali-wali Allah" Abu Ali, Fudhail bin Iyadh bin Mas'ud bin Basyar at-Tamimi lahir di daerah Khurasan. Sebelumnya Dia adalah seorang perampok yang suka membegal orang. Hingga Pada suatu hari dia tertarik kepada seorang wanita yang sangat cantik demikian memuncak keinginannya terhadap wanita itu. 

Sehingga ia nekat memanjat tembok rumah wanita itu tiba-tiba terdengar olehnya suara orang yang sedang membaca Alquran surah Al-Hadid ayat 16 yang artinya. 

"Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun kepada mereka."

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini