29 Ramadhan 1442

Tantangan Peternak Lebah di Tengah Perang Saudara Yaman

Kamis , 25 Mar 2021, 13:07 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Madu
Foto : pixabay
Madu

IHRAM.CO.ID, SANAA – Siapa sangka, di tengah perang saudara, Yaman menyimpan segudang kekayaan alam. Salah satunya adalah madu sidr yang dihargai sebagai simbol ketekunan. Yaman merupakan salah satu penghasil madu terbaik di dunia dan sering dibandingkan dengan madu Manuka dari Selandia Baru.

Kualitas tinggi madu dihasilkan melalui lebah yang diberi makan secara eksklusif pada bunga sidr. Madu yang dihasilkan berwarna pucat dengan sisa rasa yang hampir pahit. Sayangnya, perang yang terjadi sejak 2015 lalu, mempersulit dan menutup banyak jalan bagi peternak lebah tradisional. Setiap beberapa bulan, mereka harus berpindah-pindah untuk mencari bunga bagi lebah mereka.

“Tidak masalah siapa pun yang memimpin pos pemeriksaan. Ketika mereka melihat sarang lebah di belakang truk, kami tidak perlu berhenti lama. Bahkan, Houthi takut pada lebah,” kata salah seorang peternak lebah tradisional, Said al-Aulaqi (40 tahun). Dia tengah merawat 80 sarang lebah di dekat Desa Khamer di Shabwa.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2020, diperkirakan 100 ribu peternak lebah hanya menghasilkan 1.580 ton madu per tahun dan 840 ton untuk diekspor. Madu sidr dapat dijual sampai harga 500 dolar Amerika per kilogram di negara-negara Teluk. Para penikmat madu berpendapat, produk madu Yaman layak mendapat tempat di pasar global.

Untuk meningkatkan stabilitas pangan dan pendapat Yaman, pemerintah telah mengidentifikasi madu sebagai sektor utama untuk ekspansi. Peternak lebah, grosir, dan eksportir di sekitar ibu kota Shabwa, Ataq mengatakan mereka ingin seluruh dunia bisa merasakan madu sibr.

Aulaqi dan ketiga karyawannya dengan antusias memamerkan sarang kayu persegi panjang. Mereka memajang deretan sisir di dalamnya. Asap dari potongan kain rami yang terbakar membuat lebah mengantuk dan menghentikan mereka menyengat.

Pria berusia 40 tahun itu telah memelihara lebah selama 10 tahun setelah mempelajari perdagangan dari pamannya. Saat perang saudara dimulai pada 2015, dia kehilangan seluruh mata pencahariannya. Milisi Houthi pindah ke Shabwa dan memblokir jalan ke Abyan, tempat lebahnya mati karena kehabisan air.

Dia membutuhkan waktu dua tahun untuk mulai semuanya kembali dengan 300 kotak lain yang dibeli seharga dua juta riyal Yaman. Kini, sarangnya tersebar di sekitar pegunungan Shabwa, gurun dan dataran pantai.

Kendati bisa menghasilkan uang dari penjualan madu, ada segelintir tantangan yang harus dihadapi oleh peternak lebah. Jika penghalang jalan atau perkelahian membuat sarang lebah tidak dapat dipindahkan ke daerah yang lebih subur, lebah akan mati. Dalam situasi perang, peternak lebah bisa menjadi pekerjaan yang berbahaya bagi manusia.