Sabtu 27 Mar 2021 00:57 WIB

Investasi Baterai Listrik, Erick Thohir akan Kunjungi Jepang

Selain Jepang, Erick Thohir juga akan mengunjungi AS.

Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury (kanan) dan Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga (kiri) pada konferensi pers pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (26/3/2021). Indonesia Battery Corporation (IBC) didirikan sebagai holding untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury (kanan) dan Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga (kiri) pada konferensi pers pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (26/3/2021). Indonesia Battery Corporation (IBC) didirikan sebagai holding untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir berencana untuk menyambangi Amerika Serikat dan Jepang dalam rangka menjajaki potensi kerjasama Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan para produsen dan pemangku kepentingan terkait kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di kedua negara tersebut.

"Maka dari itu pada pertengahan April tahun ini, Menko MarvesBapak Luhut Binsar Pandjaitan, saya sendiri dan bersama Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi kita akan berkunjung ke Amerika Serikat, salah satunya untuk melihat potensi kerjasama dengan pihak di AS," ujar Erick dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (26/3).

Erick juga menambahkan bahwa dirinya bersama kedua menteri tersebut juga berencana untuk mendatangi Jepang yang tidak lain juga ingin membicarakan hal yang sama. Alasan Kementerian BUMN membuat IBC tidak lain ingin mengonsolidasikan potensi yang dimiliki dan dimanfaatkan bersama-sama. 

Kementerian BUMN dan IBC juga membuka kerjasama tidak hanya dengan CATL dan LG Chem, namun juga membuka kemitraan dengan mitra lainnya."Jadi jangan terpikir karena IBC ini berdiri kita memonopoli bermitra dengan satu atau dua pihak saja. Namun kita bermitra dengan banyak pihak tapi itu harus terkonsolidasi," kata Erick.

Konsolidasi menjadi hal penting mengingat kalau hal tersebut tidak terkonsolidasi yang dikhawatirkan adalah hilirisasinya tidak berjalan dengan baik, dan pada akhirnya hanya mengalihkan kekayaan alam Indonesia untukdigunakan bangsa lain, lalu di pasar luar negeri dilakukan sebagai pembesaran kemudian pada akhirnya masuk kembali ke Indonesia.

"Kontrol ini tadi bukan berarti memonopoli, tetapi ingin menggunakan IBC ini sebagai lalu lintas daripada hilirisasi dan value added agar memiliki daya tawar yang lebih besar kepada negara lain yang selama ini Indonesiahanya dilihat sebagai market." katanya.

Hari ini, Jumat (26/3) Menteri BUMN Erick Thohir secara resmi mengumumkan pendirian Indonesia Battery Corporation atau IBC. Sebelumnya Kementerian BUMN berharap pengembangan Indonesia Battery Corporation atau holdingEVBattery akan melakukan investasi secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury mengatakan bukan hanya untuk melakukan restart, namun diharapkan akan mampu mengembangkan model bisnis baru untuk melakukan kegiatan pengembangan ekonomi, yang tidak hanya secara jangka pendek tapi juga secara jangka panjang. Dengan demikian, ujar dia, Indonesia diharapkan betul-betul memiliki industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dan diharapkan bahwa industri baterai tersebut betul-betul menjadi masa depan, khususnya di sektor energi baru dan terbarukan.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement