Ahad 28 Mar 2021 06:35 WIB

Layanan Facebook tak Dapat Diakses di Bangladesh

Bangladesh menggunakan pemadaman internet sebagai alat untuk mengekang protes.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih
Facebook
Foto: EPA
Facebook

REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR -- Facebook mengatakan layanannya di Bangladesh ditutup pada Sabtu (27/3). Hal ini dipicu ratusan anggota kelompok Islam garis keras berbaris di seluruh negeri, marah lantaran polisi yang membunuh pendukung yang memprotes kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi.

"Kami menyadari bahwa layanan kami telah dibatasi di Bangladesh," kata Facebook dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Pemerintah Perdana Menteri, Sheikh Hasina, tidak berkomentar jika telah memblokir Facebook dan aplikasi messenger-nya. Namun, sebelumnya pemerintah menggunakan pemadaman internet sebagai alat untuk mengekang penyebaran protes.

 “Kami sedang bekerja untuk memahami lebih banyak dan berharap akses penuh dipulihkan secepat mungkin," ujar perusahaan media sosial itu.

Facebook juga mengatakan, pihaknya memiliki kekhawatiran serius tentang cara pembatasan itu di Bangladesh pada saat komunikasi yang efektif diperlukan untuk mengatasi pandemi virus corona.

Sebanyak empat pendukung kelompok Islam Hefazat-e-Islam meninggal dunia pada Jumat (26/3). Mereka korban dari polisi yang melepaskan tembakan ketika pengunjuk rasa diduga menyerang kantor polisi di kota tenggara Chittagong.

Demonstran itu berunjuk rasa melawan Modi. Perdana Menteri India ini dituduh kelompok itu mengasingkan Muslim minoritas di India.

Puluhan orang juga terluka di ibu kota Dhaka. Polisi menggunakan peluru karet dan gas air mata dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa yang melakukan kekerasan

"Polisi menembaki pendukung damai kami. Kami tidak akan membiarkan darah saudara-saudara kami mengalir begitu saja," kata sekretaris penyelenggara kelompok Azizul Haque pada rapat umum di Chittagong.

Hefazat-e-Islam yang diterjemahkan menjadi perlindungan Islam, telah menyerukan pemogokan nasional untuk memprotes pembunuhan tersebut pada Ahad (28/3).

"Kami tidak ingin melihat Modi di Dhaka. Dia harus segera meninggalkan Bangladesh," kata pemimpin Hefazat, Sultan Mohiuddin, berbicara kepada para pendukung di ibu kota.

Amnesty International juga mengkritik tindakan polisi di Chittagong. "Hak untuk protes damai telah mendapat serangan bersama, terutama selama pandemi virus korona, yang berpuncak pada jenis penindasan berdarah ini," kata Peneliti Asia Selatan Amnesty International, Sultan Mohammed Zakaria, dalam sebuah pernyataan.

Modi mendarat di Dhaka pada Jumat untuk kunjungan dua hari. Kunjungan ini menjadi perjalanan internasional pertamanya sejak wabah virus korona tahun lalu.

Kedatangan Modi untuk merayakan ulang tahun ke-50 kemerdekaan negara tersebut. Dia akan mengadakan pembicaraan formal dengan Hasina pada Sabtu.

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement