Hukum India Soal Batas Masjid dan Kuil Picu Ketegangan

Ahad , 28 Mar 2021, 13:06 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Muhammad Hafil
Hukum India Soal Batas Masjid dan Kuil Picu Ketegangan. Foto ilustrasi: Penampakan Desain Masjid Ayodhya di India
Hukum India Soal Batas Masjid dan Kuil Picu Ketegangan. Foto ilustrasi: Penampakan Desain Masjid Ayodhya di India

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Masjid Raza Jama dan Kuil Hindhu Sanatan Dharam telah hidup berdampingan sejak akhir 1980-an. Jarak di antara keduanya sekitar 25 kaki. Namun baru-baru ini, ketegangan terus meningkat.

 

Terkait

Ketika para pemimpin politik mengawasi polarisasi di seluruh negeri, suasana hidup berdampingan secara damai ini telah digantikan oleh pernyataan identitas agama yang menguat. Misalnya pada 2008, muncul kasus sengketa tanah pada area yang dibangun masjid dan kuil, yang diselesaikan di pengadilan Moti Nagar.

Baca Juga

"Pengadilan telah mengatakan bahwa kuil dan masjid harus tetap seperti apa adanya," kata sekretaris masjid, Mohammad Moti, dilanisr dari The Wire, Ahad (28/3).

Namun tahun ini, ketegangan kembali meningkat. Moti menjelaskan, ketika seorang ibu yang menjadi jamaah masjid meninggal dunia, kemudian anaknya datang ke masjid dengan sebuah ide. "Tempat wudhu sudah tua. Saya ingin renovasi atas nama ibu saya yang akan mendapat manfaat di surga ini," ujarnya.

Padahal, kata Moti, Otoritas masjid setuju dan pekerjaan pun dimulai. Pipa baru, cat baru, dan keran perak mengkilap serta sebagian besar pekerjaan di area wudhu telah selesai. Ubin belum dipasang ketika otoritas kuil memanggil polisi.

Pihak kepolisian menyebut masjid tidak mengikuti perintah pengadilan tahun 2008. "Mereka mengatakan bahwa pengadilan telah memerintahkan bahwa kuil, serta masjid, akan tetap seperti apa adanya. Tempat wudhu baru kami (Muslim) mengambil lebih banyak tempat dari sebelumnya, kata mereka," tutur Moti.

Kemudian terjadi pertengkaran di antara kedua belah pihak dan akhirnya, polisi dari stasiun terdekat Uttam Nagar dipanggil. “Polisi memberi tahu kami bahwa mereka telah melihat bagaimana sapi pun meminum air dari keran di tempat wudhu kami.

"Mereka mengatakan jika otoritas kuil keberatan dengan beberapa inci dari area tersebut, mengapa kita tidak menghapusnya saja? Jadi, kami setuju dan menyelesaikannya," ucapnya.

Otoritas kuil kembali keberatan dengan areal wudhu. "Pada titik ini, luasnya sudah berkurang, semua pekerjaan sudah selesai dan bahkan ubin sudah dipasang," kata Moti.

Di sisi lain, otoritas kuil mengatakan bahwa area masjid perlahan ditingkatkan dan menempati jalan serta taman di dekatnya. "Mereka (Muslim) mencoba untuk membuat dominasi mereka di negara ini perlahan-lahan," kata seorang Hindu lokal.

Mereka juga menuduh pria Muslim melecehkan wanita Hindu di kuil dan melempari batu ke kuil. Mereka juga keberatan dengan azan (panggilan untuk sholat). Namun, polisi setempat belum mengonfirmasi satu pun dari tuduhan tersebut.

Pada 21 Maret, ketegangan komunal mulai memanas di daerah tersebut dan video yang dibagikan oleh Moti menunjukkan kerumunan orang berkumpul di luar masjid, meneriakkan "Jai Shri Ram" pada malam sebelumnya. Panitia masjid, termasuk Moti, mengadakan rapat dan dengan suara bulat memutuskan bahwa mereka sendiri yang akan menghancurkan seluruh tempat wudhu.

"Kami pikir kalau tidak hari ini, besok bisa jadi masalah. Untuk menjaga masa depan masjid ini, kami putuskan untuk menghancurkan tempat wudhu agar tidak timbul konflik darinya," kata Moti.

Setelah dihancurkan, kata Moti, seseorang dari kuil tersebut menyuruhnya untuk juga menghancurkan menara masjid. Dia juga mengatakan bahwa kerumunan telah berkumpul di luar ketika area wudhu dihancurkan dan meneriakkan "Jai Shri Ram."

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini