Muslimah AS Coba Hilangkan Stereotip Lewat Film Unveiled

Ahad , 28 Mar 2021, 19:53 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Rohina Malik
Rohina Malik

IHRAM.CO.ID, BOSTON – Seorang Muslimah bernama Rohina Malik, dalam pementasan one woman show “Unveiled” di panggung New Repertory Theater, Boston, Amerika Serikat pada 2018 menghadapi rasisme, stereotip, dan keragaman Muslim Amerika. Kini, dia muncul dalam versi terbaru film “Unveiled” yang akan disiarkan di New Repertory Theater pada 2-21 April 2021 secara virtual. Cerita ini tentang tantangan lima Muslimah di dunia setelah peristiwa 11 September 2001.

 

Terkait

Malik terinspirasi dari banyak Muslimah yang digambarkan sebagai teroris atau wanita tertindas di balik jilbab. “Apa yang saya tidak pernah lihat adalah Muslim Amerika biasa yang mencoba menjalani hidup mereka. Dan saya  mereka, ketika sebuah komunitas jarang digambarkan sebagai rakyat biasa, itu adalah bentuk dehumanisasi,” kata Malik dilansir the Bay State Banner, Ahad (28/3).

Malik mengambil pengalamannya sendiri, teman-temannya, dan keluarganya untuk menyusun lima karakter ini. Sinopsis ceritanya adalah seorang penjahit Pakistan yang tinggal di Amerika. Setelah serangan 11 September, dia tidak lagi membuat gaun pengantin. Dia menerima tindakan rasisme dari peristiwa tersebut.

Selain itu, ada pula wanita Asia Selatan yang tinggal di London Baraat dan menyalurkan rasa frustasinya terhadap kenafatikan dalam lagu hip-hop. Para wanita terhubung oleh tantangan yang dihadapi. Saat mereka bertemu untuk minum teh, mereka menceritakan kisah mereka.

Penggunaan teh dalam menyatukan cerita juga menunjukkan dorongan manusia untuk membangkitkan komunitas dari makanan dan minuman. Pada sesi wawancara, para penonton bisa sambil minum chai dan menanyakan sejumlah pertanyaan kepada Malik tentang “Unveiled” lewat Zoom.

Pandemi Covid-19 memberi Malik kesempatan untuk membuat film “Unveiled,” sebuah proyek yang sudah ada dalam benaknya dalam beberapa waktu lalu. “Tiba-tiba, semua pemesanan saya dibatalkan dan jadwal saya benar-benar kosong karena Covid-19,” ujar dia.

Bersama saudara perempuannya, Malik membuat film itu. Ada adegan yang dilakukan oleh satu wanita dalam monolog dan sudah diterjemahkan dengan baik. Malik berharap penonton merasakan berbagai emosi selama film diputar, seperti tertawa dan menangis.

“Komunitas Muslim adalah komunitas yang luas dan kami mengekspresikan diri kami secara berbeda. Saya berharap, para penonton tidak lagi melihat stereotip itu lagi dan mereka melihat, Muslimah adalah saudara perempuan dalam kemanusiaan,” ucap dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini