SUltan HB X: Ancaman Pandemi Mulai Turun, Kirminal Meningkat

Selasa , 06 Apr 2021, 18:01 WIB Reporter : Silvy Dian Setiawan / Redaktur : Muhammad Subarkah
Raja Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X (ketiga kiri) bersama keluarga memasuki Pagelaran Keraton Yogyakarta saat Sapa Aruh Sri Sultan HB X dalam rangkaian peringatan Sewindu Disahkanya Undang-Undang Keistimewaan DIY (UUK) di Yogyakarta, Senin (31/8/2020). Acara yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat itu menjadi media refleksi disahkanya Undang-Undang Nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah bersama DPR.
Raja Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X (ketiga kiri) bersama keluarga memasuki Pagelaran Keraton Yogyakarta saat Sapa Aruh Sri Sultan HB X dalam rangkaian peringatan Sewindu Disahkanya Undang-Undang Keistimewaan DIY (UUK) di Yogyakarta, Senin (31/8/2020). Acara yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat itu menjadi media refleksi disahkanya Undang-Undang Nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah bersama DPR.

IHRAM.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengklaim ancaman pandemi Covid-19 saat ini di DIY mulai turun, walaupun kasus baru terkonfirmasi positif masih terus bertambah tiap harinya.

 

Terkait

Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena digencarkannya gerakan vaksinasi Covid-19 secara.

Meskipun demikian, kata Sultan, tindak kriminal justru meningkat di tengah pandemi saat ini. Untuk itu, ia mengimbau agar seluruh elemen masyarakat terus memupuk kultur kebersamaan secara berkelanjutan.

Baik itu tokoh agama, tokoh politik hingga petugas keamanan dan masyarakat luas diminta untuk terus memupuk kultur kebersamaan ini. Dengan begitu, potensi kejadian yang mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat di DIY diharapkan dapat dihindari.

"Bertolak dari tinjauan sekilas atas situasi kamtibmas di DIY saat ini, saya menyerukan kepada para pengemban amanat masyarakat, baik lembaga legislatif, yudikatif, eksekutif maupun pimpinan informal untuk mampu terus memupuk kultur kebersamaan secara berkelanjutan," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (6/4).

Ia juga menegaskan bahwa harus ada deteksi dini terhadap semua potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Sultan menuturkan, gangguan tersebut dapat memecah rasa kebangsaan antara sesama masyarakat.

Selain itu, Sultan juga mengajak tokoh agama untuk terus mengintensifkan komunikasi dan dialog di tingkat masyarakat. Begitu pun dengan masyarakat yang diminta untuk berpartisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan adanya gangguan keamanan masyarakat.

Terutama bagi generasi muda yang dapat menyumbang gagasan dalam upaya membangun kebiasaan untuk berdialog. Termasuk aktif dalam memberikan laporan kepada petugas keamanan ketika ada potensi kejadian terkait keamanan dan ketertiban masyarakat.

"(Generasi muda) Bisa menyumbang gagasan autentik dalam upaya membangun kebiasaan dialog lintas kultur, agama dan peradaban dengan mengedepankan sikap dan tindakan non-kekerasan," ujarnya.