Rabu 14 Apr 2021 12:38 WIB

Pasar Ramadhan Dongkrak Ekonomi Warga Surabaya

Pasar Ramadhan sebaiknya boleh dibuka dengan protokol kesehatan.

Warga membeli makanan untuk berbuka puasa, Rabu (13/4). Pasar Ramadhan mampu mendongkrak perekonomian warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19.
Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
Warga membeli makanan untuk berbuka puasa, Rabu (13/4). Pasar Ramadhan mampu mendongkrak perekonomian warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kota Surabaya menilai keberadaan pasar atau bazar Ramadhan mampu mendongkrak perekonomian warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19. Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya M Mahfudz di Surabaya, Rabu (14/4), mengatakan setiap Ramadhan, biasanya muncul pasar atau bazar Ramadhan dengan menyediakan berbagai macam takjil untuk berbuka puasa dan lainnya.

"Namun, selama pandemi pasar Ramadhan seperti tahun lalu ditiadakan," katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap keberadaan pasar Ramadhan di Surabaya untuk tahun ini boleh dibuka kembali menyusul Kota Surabaya saat ini memasuki zona kuning Covid-19. "Jadi, sebenarnya tidak masalah ada pasar Ramadhan, selama patuh terhadap protokol kesehatan," ujarnya.

Menurut dia, di tengah kondisi ekonomi yang sedang turun, tidak ada salahnya memperbolehkan masyarakat berjualan. Karena, pasar Ramadhan menjadi sektor bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk meningkatkan perekonomian di Kota Surabaya.

"Penjual dan pembeli saling membutuhkan dengan hadirnya pasar Ramadhan. Pada intinya saya sepakat saja, sepanjang protokol kesehatan diberlakukan," kata Mahfudz.

Untuk menghindari keramaian, lanjut dia, pemerintah bisa melakukan sosialisasi kepada pedagang supaya tidak terjadi penumpukan masyarakat. Apalagi di Kota Surabaya jumlah penduduknya banyak.

"Kami minta petugas satpol PP Surabaya jangan asal main ambil peralatan pedagang saat penertiban," ujarnya.

Baca juga : Terapkan Tips Ini Saat Berbelanja Ramadhan

Sebab, lanjut dia, selama kurun waktu setahun berjalan ini, mereka sudah sadar betul dengan bahaya pandemi Covid-19.

"Berilah kelonggaran kepada mereka untuk berdagang asalkan tidak melanggar prokes," katanya.

Jika melihat budaya pasar atau bazar Ramadhan di tingkat kelurahan/kecamatan, lanjut Mahfudz, masyarakat yang berjualan tidak terfokus pada satu titik bahkan mereka berjualan sore menjelang magrib dan pagi hingga waktu memasuki imsak di depan rumah sendiri dan di pinggir jalan.

"Kami minta pelaku usaha itu di pantau saja oleh petugas Satpol PP lebih bagus, untuk mengawasi masyarakat yang datang supaya tidak terjadi kerumunan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan ada dua program yang dilakukan untuk menstabilkan harga selama Ramadhan, yaitu operasi pasar di 31 kecamatan dan juga ada sidak pasar.

"Setiap kecamatan, biasanya ada dua titik operasi pasar. Sampai saat ini sudah ada sekitar lima kecamatan yang meminta tambahan titik operasi pasar itu, yaitu Kecamatan Tandes, Sukolilo, Wonocolo, Karang Pilang, dan Rungkut," katanya.

Menurut dia, harga kebutuhan pokok yang dijual saat operasi pasar lebih murah dari pasaran. "Kami menjual gula Rp 11.800 dan beras setiap kilogramnya hanya Rp 9.200, komoditas yang lain juga di bawah harga pasar," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement