27 Ramadhan 1442

Pengalaman Berkesan Umroh Ramadhan Sebelum Pandemi

Jumat , 16 Apr 2021, 16:47 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Pengalaman Berkesan Umroh Ramadhan Sebelum Pandemi. Foto:  Pemilik travel umroh dan haji khusus Ilfa Travel, Ihsan Fauzi Rahman
Foto : Dok Republika
Pengalaman Berkesan Umroh Ramadhan Sebelum Pandemi. Foto: Pemilik travel umroh dan haji khusus Ilfa Travel, Ihsan Fauzi Rahman

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Ihsan Fauzi Rahman pemilik travel umroh dan haji khusus Ilfa Travel mengatakan, umroh di bulan Ramadhan menjadi dambaan masyarakat Muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Ada janji Allah dan Rasulnya, tercantum dalam hadits tentang bagaimana keutamaan Umroh di bulan Ramadhan, yakni mendapatkan pahala senilai Haji.

"Tentu bulan Ramadhan adalah bulan nya keberkahan, bulannya ampunan, bulannya Rahmat dan jika kita melakukannya di Tanah Suci, yang juga kita yakini bersama terdapat lipat ganda pahala yang lebih besar, maka ini menjadi hal yang sangat diinginkan untuk diwujudkan," kata Ihsan Fauzi Rahman saat berbincang dengan Republika, Jumat (16/4).

Ihsan Fauzi Rahman yang juga Sekjen Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (SAPUHI) menyampaikan sekalipun dalam 10 tahun terakhir, umroh Ramadhan dilaksanakan pada musim panas, menurut kalender Astronomi Saudi Arabia, Negeri bertanah Suci tersebut berada pada puncak musim panas dari 1 Juni - 30 Agustus, sumber lain mengatakan Puncak musim panas berada di Juni - September.

"Meski demikiam umroh di bulan Ramadhan tetap dipenuhi masyarakat Muslim Dunia," katanya.

Baca Juga

Kata dia, waktu yang paling sangat dinanti adalah malam-malamnya Lailatul Qadar, bahkan di malam ke 27, kita bisa melihat di berbagai media bahwa Malam ke 27 di Makkah adalah malam Masjidil Haram yang paling dipenuhi Muslim Dunia. Penuhnya bahkan bisa melebihi putaran momen hajian saat thawaf dan seisi Masjidil Haram.

"Tidak hanya masyarakat Muslim Indonesia, bahkan non Arab, Warga Arab pun ikut turun serta meramaikan dan memenuhi momen lailatul Qadar di masjidil Haram ini," katanya.

Ihsan menceritakan, pemandangan yang paling mengesankan langka kita dapati adalah semangat berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini dilihat oleh Ihsan Fauzi Rahman secara langsung.

Ada contoh unik misalnya, yang dialami Ihsan saat memasuki Masjid Nabawi pada Perjalanan Umroh Ramadhan beberapa tahun silam. Ketika itu Ihsan berjalan menuju masjid menjelang Maghrib, lalu banyak anak kecil yang mengajak dan mengarahkannya ke slot kavling tempat yang sudah disediakan bukaan bersama (iftar).

Di kavling itu sudah tersedia bentangan plastik di atas karpet nabawi untuk buka bersama. Dan usut punya usut, ternyata itu punya kerjaam orang baik yang ada di Madinah, dan mereka bekerja sama dengan anak-anak kecil untuk menarik pengunjung pada ladang pahala yang mereka siapkan.

"Anda diajak dengan sopan, diantar dengan baik, dan dihidangkan bukaan, kebaikan terencana itu dia lakukan karena mereka meyakini balasan akhirat yang dijanjikan, menyajikan bukaan mendapatkan pahala senilai puasa yang dilakukan orang yang kita berikan makanan," katanya.

Saat Ramadhan, tentu ada pembatasan bagi siapapun yang ingin memasuki masjidil Haram. Biasanya, halaman Mathaf atau lantai dasar untuk Thawaf hanya diperuntukan untuk yang memakai Kain Ihram, sebagaimana kita ketahui, untuk menjaga ketertiban saat Thawaf, maka yang diprioritaskan adalah jama'ah Umrah nya.

"Jadi kita yang akan menunaikan sholat saja ke Masjidil Haram, biasanya diarahkan ke lantai atas," katanya.

Ihsan mengatakan, tempat favouritnya adalah di rooftop Masjidil Haram, saat musim panas kita mengharapkan Ibadah sholat yang nyaman, adeem, biar tambah khusu. Untuk menambah khusu, Ihsan sholat di tempat sa'i, karena lantai untuk sa'i dan kipas angin nya sangat-sangat adem.

"Tapi saya sadar belakangan, bahwa kita harus tetap khusu' dalam kondisi apapun, karena disitulah nilai ujiannya, disitulah nilai pahalanya. Jangan mengeluh, dan harus tetap disyukuri," katanya.